Fikri, Ica juga Aisyah menduduki sofa yang kosong. Fikri merasa heran pada adik laki-lakinya sejak ia menampakan diri didepan sang adik, ia tidak milihat sedikit pun. Yang ia lihat hanya Istrinya, Ica.
Ehem.
Deheman Fikri mampu membuat Fattah yang sejak tadi bengong memandang Ica tersadar, ia langsung melirik ke arah deheman itu.
"Uwaaa, abangggg." suara Fattah mampu membuat seisi rumah tutup telinga.
"Sutttt! Berisik Fattahh! Ini rumah bukan hutan." ketus Aisyah.
"Abangg Attah Rindu abanggg," Fattah langsung berlari ke arah Fikri dan memeluknya dengan erat.
"Abang juga," Fikri membalas pelukan Fattah.
Kini Fikri dan Fattah berpelukan bagaikan seseorang yang tak mau dilepas, sangat erat.
"Lepas ih, enggap," ucap Fikri berkomentar, karna sejak tadi sang adiknya itu memelukanya erat sekali.
"Ehehe, maaf," Fattah melerai pelukannya.
"Duduk gih." Fattah langsung mematuhi perintah sang abangnya.
"Kenapa kamu liat-liat istri abang kayak gitu?" ketus Fikri menatap tajam sang adik.
"Eh, gak.. gak papa bang," ucap Fattah tersenyum sembari mengaruk kepala yang tak gatal.
Kini mereka asyik dengan bercerita, mulai dari Aisyah yang bercerita banyak dipondoknya dan begitupun Fattah.
Jam sudah menunjukan pukul 21.30 sejak sejam yang lalu mereka asyik mendengarkan cerita dari Aisyah juga Fattah.
"Sekarang udah jam setengah sepuluh, pada tidur gih," perintah Mahesa.
"Mau tidur sekarang sayang?" tanya Fikri pada Ica, Ica hanya mengagukan kepala sebagai jawaban.
"Yaudah pah, bu aku sama Ica kekamar ya," pamit Fikri.
"Yaudah gih," balas Dwi.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Ica dan Fikri berjalan menaiki tangga, menit berikutnya mereka telah sampai didepan kamarnya. Mereka memasuki kamar bernuasa hijau berpandu putih itu.
Kini mereka bersiap-siap untuk menyambut mimpi indah dialam sana, Ica maupun Fikri telah berbaring diatas kasur putih nan empuk itu.
"Selamat tidur sayang, cup." ucap Fikri dengan mengakhiri kecupan hangat yang mendarat dikening Ica.
"Selamat tidur pula mas," balas Ica tersenyum manis.
"Selamat tidur anak ayah, jan nakal diperut bunda," kini Fikri berganti mencium perut rata milik Ica.
"Selamat tidur pun ayah," balas Ica dengan suara seperti anak kecil.
Follow me plisss:(
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
Ficción General17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
