Chapter 67

120 5 17
                                        

Fikri menghentikan mobilnya di halaman rumah bernuasa hijau dengan taman bunga disampingnya. Tak lupa ayunan yang dihias sekian rupa terpampang indah tengah taman.

"Rumah siapa, ini? Ngapain kesini? Ayo pulang." Ica menarik lengan Fikri saat pria itu akan keluar dari mobil.

"Ayo turun dulu, nanti kamu tau sendiri kok."

Fikri tak menghiraukan panggilan Ica didalam mobil, ia segera mendekat ke arah pintu mobil dekat Ica dan membukakannya untuk Ica.

"Ayoo!"

Fikri menarik lengan Ica, tak lupa Ara pun ikut menyusul sang Ayah dan Ibunda.

"Kejutannn! Rumah ini buat kamu, Sayang. Semoga kamu suka dan betah dirumah ini."

Ica yang mendengar ucapan yang dilontarkan Fikri mengerutkan keningnya, ia tak mengerti apa maksud ini semua.

"Buat aku? Lah, aku gak ulang tahun loh , Mas!" jawab Ica menatap suaminya.

"Kamu lupa, ya? Sekarang tanggal 15. Dan itu artinya kita--,"

"Monthsary?" potong Ica dengan cepat, Fikri mengangukan kepalanya dan menarik Ica kedalam pelukannya.

"Semoga kita semakin langgeng, tambah cinta dan kasih sayang," lanjut Ica berbicara dalam pelukan Fikri.

"Dan semoga kita dikasih momongan darah danging kita." lirih Ica dengan sendu, netranya sudah berkaca-kaca, hatinya sesak dan pikirannya melayang entah kemana.

"Aamiin, Sayang. Aamiin." Fikri mempererat pelukannya.

"Mas mempersembahkan rumah ini untuk kita dan anak-anak kita kelak, semoga rumah kita awet sama kaya cinta dan keluarga kita. Dan kamu jangan nangis!" ucap Fikri dengan menanggup pipi Ica dengan kedua tangannya yang mengapus air mata Ica yang akan melewati pipinya.

Ica tak bisa berkata apa-apa lagi, ia sungguh bahagia, sangat bahagia. Ica kembali memeluk Fikri dengan erat dan ucapan terimakasih tiada henti. Dan tanpa sadar, gadis kecil mereka menatap kedua insan yang tengah berpelukan itu.

"Cuekin aja, Ara." ucap Ara dengan marah, ia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.

Fikri dan Ica hanya terkekeh geli melihat gadis kecilnya itu. "Sini, sini!" ajak Ica dengan melambaikan tangannya.

Ara tak menjawab, ia semakin mengarahkan pandangannya ke arah lain.

"Yeee, malah marah. Sini kita pelukan, ayolah! Nanti Bunda marah sama Ara loh," bujuk Ica, Ara sangat tak suka jika sang Bunda berbicara marah, atau malah beneran marah. Ia berlari ke arah orang tuanya dan segera memeluk erat tubuh keduanya.

***

Fikri beserta anak istrinya telah berada dirumah Mahesa, mereka kini tengah membereskan pakaian mereka untuk pindah ke rumah barunya.

Fikri telah bercerita bahwa ia telah membeli rumah untuk dirinya dan istrinya tinggal, betapa bahagianya Mahesa juga Dewi mendengar itu. Tapi, ada rasa kesedihan dimata mereka karena rumahnya bakal mengurangi penghuni. Dan pasti bakal sepi.

Mereka akan pindah besok, karna sekarang hari sudah malam. Rumah Fikri dan Mahesa lumayan dekat cukup 5-10 menit naik kendara mereka telah sampai.

"Ayo tidur, udah malem." titah Ica pada putrinya dan suaminya.

"Iya, Bunda."

"Iya, Sayang."

Jawab Fikri dan Ara berbarengan, mereka merebahkan tubuhnya diatas ranjang besar itu.

Netra Ara telah menutup sempurna, gadis kecil itu telah tertidur.

Kini giliran Ica dan Fikri yang belum tertidur, Ica berdiri dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi.

Selang beberapa menit, Ica keluar dari kamar mandi dengan baju tidurnya. Wanita itu menatap suami dan putrinya secara bergantian yang telah menutupkan mata.

Ica melangkahkan kaki menuju samping Fikri, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Fikri, kemudian dengan sayang Ica mengecup pipi kiri Fikri dengan berucap. "Good nigth, Sayang."

"Nigth too, Sayang." Ica membulatkan netranya saat suara suaminya itu terdengar jelas ditelinganya.

"E-eh, belum tidur Mas?" tanya Ica dengan menjauhkan wajahnya.

"Belum, 'kan nunggu kamu ngecup pipi sama ucapin good nigth." ucap Fikri dengan menatap Ica secara rinci.

"A-apaan sih!" Ica membalikan badannya dan segera melangkahkan kaki. Tapi, pergelangan tangannya dipegang oleh seseorang yang alhasil membuat wanita itu menghentikan langkahnya.

"Salting nih ceritanya?" goda Fikri dengan menaik-naikan alisanya meski sang Ica tak melihat padanya.

Bersambung ...

Tinggalkan jejak! Meski sekedar Next atau ucapan semangat

Cinta Sang Dokter (Slow Up)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang