Fikri juga Aisyah berjalan mendekat ke arah Ica, Ica tidak menyadari akan kehadiran Fikri. Ia asyik dengan tangisan pilu dipundak Nisa.
Nisa yang menyadari ke hadiran adik iparnya membangunkan Ica dari pundaknya. "Udah jangan nangis," ucap Nisa menghapus air mata Ica.
"A--aku benci mas Fikri kak hiks..," balas Ica kembali memeluk Nisa dengan sesegukan yang masih mengeluarkan air mata.
"Gak boleh gitu dek, hapus air matanya. Dan liat ke samping kamu," Ica menuruti ucapan Nisa, ia menghapus air matanya kemudian ia menengok ke arah samping kiri.
"M-mas, pergi! Pergi mas pergi kamu!!" teriak Ica dengan mununjuk-nujuk Fikri.
"Sa-sayang mas bisa jelasin semuanya, itu tidak sepe--,"
"Stop! Aku gak mau dengerin apa yang kamu omongin, sekarang kamu pergi! Pergii!!"
"Pliss sayang kasih mas kesempatan untuk ngejelasin," Fikri terus memohon dengan mata yang berkaca-kaca.
"Pergiii!!"
"Ca, udah Ca. Dengerin apa yang Fikri omongin ya? Kakak mohon," Nisa menyatukan tangan nya dan terus memohon-mohon.
"Gak kak gak!"
"Kak Icaa," Isyah berlari ke arah Ica, ia memeluk erat tubuh Ica.
"Isyah," Ica membalas pelukan sang adik, ia kembali terisak.
"Kak udah jangan nangis, Isyah jadi ikut nangis nih," perlahan Isyah melepas pelukannya dan menghapus air mata di pipi Ica, ia menunjukan air mata yang mengalir di pipi nya.
"Isyah jangan nangis," Ica menghapus air mata milik Isyah.
"Kakak pun jangan nangis ya, senyum dong," Isyah memegang kedua ujung bibir Ica, kemudian ia menarik ke atas.
"Nah kan cantik lagi,"
"Kakak dengerin penjelasan bang Fikri yah? Pliss Isyah mohon," Isyah memengang tangan milik Ica.
"Gak sekarang, kakak pengen istirahat dulu,"
"Oke, sekarang kakak istirahat ya. Jangan banyak pikiran jangan sering nangis, harus jaga kesehatan, kan ada dede bayi di dalem sini," Isyah mununjukan perut bungting milik Ica, dan membantu Ica berbaring.
"Siap,"
"Isyah temenin kakak boleh?"
"Boleh, asal kamu suruh abang kamu pergi."
"Tap--,"
Ica menatap Isyah dengan penuh permohonan, oke Isyah harus mengalah, ia harus menuruti ucapan sang kakak ipar.
Isyah mulai meranjak dari duduk nya, ia mendekat ke arah Fikri, dan membisikan sesuatu ditelinga Fikri. Setelah mendengar bisikan dari Isyah, Fikri hanya tersenyum dan beranjak pergi dari kamar.
Isyah yang melihat Fikri pergi hanya tersenyum dan kembali mendekat ke arah Ica yang tengah terbaring.
"Kakak kebawah dulu ya, takut nya alba udah bangun," pamit Nisa.
"Oke, kalau udah bangun bawa sini ya kak, Isyah pen cubit, hehe," balas Isyah cengegesan.
"Okee," balas Nisa tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan Ica dan Isyah.
Isyah hanya tersenyum kecil dan menggeleng-gelengkan kepala, Isyah memang obat ampuh untuk Ica tersenyum. Selain Isyah adik ipar, Isyah pun sahabat, teman bagi Ica. Ia sangat menyayagi adik iparnya, sangat.
Dan Nisa pun tau bahwa Aisyah adalah adik dari Fikri, beberapa menit yang lalu Ica telah menjelaskan dengan suara serak sehabis tangisannya.
Setelah Nisa pergi dari hadapan mereka, Isyah kembali duduk disamping Ica. "Kakak tidur ya,"
"Oh ya, apa Isyah boleh baca novel kakak yang itu?" tanya Isyah menunjukan novel di atas meja yang berwarna hijau muda.
"Boleh,"
"Makasih, sekarang kakak bobo ya," Isyah menarik selimut yang Ica kenakan sampai batas dada Ica.
Ica membalas dengan tersenyum dan mengaguk sekilas, Ica mulai menutup netranya untuk menyambut mimpi indahnya.
Isyah beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah meja, ia mengambil novel bernuasa hijau muda itu yang bertulisan 'Istriku beautifull'.
Isyah mulai membuka novel nya dan lembar demi lembar isi novelnya.
____
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
General Fiction17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
