**
Kini mobil Fikri telah melaju melewati pohon-pohon yang berjejer di sisi jalan, pohon besar, pohon kecil bahkan sampai tamanan bunga pun ada, indah dan cantik itulah hal yang pantas di ucapan kan.
Tak ada pembicaraan di dalam mobil bernuasa hitam itu, hanya deru mobil yang terdengar oleh telinga mereka. Tidak ada yang membuka pembicaraan, mereka asyik dengan kegiatan mereka. Fikri, ia tengah fokus melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, lain hal dengan alisya, ia tengah memakan kue kering yang tadi Fikri beli.
"Mau mas?" tawar Ica menyodorkan satu biji kue kering.
Fikri yang mendengar ada yang berbicara melirik ke arah kiri tempat Ica duduk.
"Boleh," jawab Fikri membukaan mulutnya.
Ica langsung memasukan kue itu ke dalam mulut Fikri.
"Enak yah mas,"
"Heem, apalagi kamu yang nyuapin nya,"
"Ih kamu ini."
Fikri yang mendapat balasan dari Ica hanya cengegesan tak jelas, kini Ica masih setia menikmati kue itu dan sesekali menyuapi Fikri dengan telaten.
Sudah hampir lima jam mereka di dalam mobil, hari pun sudah semakin siang. Kini jam telah menunjukan pukul dua belas siang, adzan dzuhur telah berkumandang di masjid sekitar, Fikri memasukan mobil ke area tempat parkir yang berada di masjid tersebut.
Fikri dan Ica keluar dari mobil dan pergi menuju tempat wudhu, setelah mereka mendapat wudhu kemudian, mereka bersiap shalat dzuhur berjamaah dengan imam masjid tersebut.
***
Kini Fikri dan Ica telah berada di dalam mobil, dan kini mobil mereka tengah berada di antara mobil-mobil yang berjejer, yaa kini tengah macet.
"Uhhhh gerah," keluh Ica mengibas-ngibaskan tangannya ke mukanya.
Tok tok tok
"Air nya Pak?" tawar dua orang anak perempuan yang mengetuk kaca mobil Fikri sembari menyodorkan air minum yang bermerek meezon.
"Berapa dek?" tanya Fikri.
"8000 pak,"
"Sayang mau?" tanya Fikri pada Ica.
"Boleh mas,"
"Beli dua de,"
"Ini pak," gadis kecil berumur sekitar 14tahun itu menyodorkan dua botol minuman.
"Ini uangnya," Fikri membalas dengan menyodorkan uang yang berwarna hijau.
"Aduhh, gak ada kembalian pak, saya baru jualan," ungkap anak itu.
"Gapapa dek ambil aja," balas Fikri tersenyum.
"Makasi pak," ucapnya.
"Sama-sama," dua anak kecil yang sekitar berumur 14 tahun dan 12 tahun itu berlalu pergi.
"Nih Ca," Fikri menyodorkan sebotol minuman.
"Makasih," balas Ica menerima minuman.
Fikri hanya membalas dengan mengagukan kepala seraya tersenyum manis.
***
Kini hari telah berganti menjadi malam, sekitar 4-5 jam lagi mereka akan sampai di tempat tinggal mereka. Ica telah mengabari orang tua Ica, ia dan Fikri pasti akan pulang larut. Dan meski pulang larut, pintu gerbang akan dibuka oleh satpam di rumah Sahal.
Ica yang sejak setengah jam yang lalu tertidur, merasa terganggu karna badannya ikut tergerak. Dan akhirnya ia terbangun, setelah mata nya terbuka lebar ia melihat Fikri yang masih fokus menyetirnya.
"Tidurnya gak nyenyak yah?" ucap Fikri yang merasa Ica telah terbangun.
"Heem, gak enaken goyang-goyang terus,"
"Namanya juga di dalam mobil,"
"Hehe, iya sih,"
Detik berikutnya mereka tidak saling berbicara lagi, Ica yang merasa lapar akhirnya membuka plastik yang berisi jagung tadi, kemudian ia memakan nya.
"Mas, ke pinggirin aja dulu atuh, istirahat dulu makan nih jagung biar gak laper," Ica menyodorkan sebiji jagung yang telah terkupas.
"Iyah... bentar lagi tuh didepan ada lahan kosong,"
Setelah mendapat tempat untuk memakirkan mobil mereka, akhirnya mereka sama-sama menikmati jagung.
"Aduhh mas, Ica kebelet."
"Ayo turun dulu atuh, tuh ada rumah kita ikut ke kamar mandi," ucap Fikri menunjukan rumah yang tak jauh dari mobil mereka yang terpakir.
"Yaudah atuh, ayo."
Mereka menuruni mobil, kemudian mereka berjalan ke arah rumah panggung
"Assalamualaikum," ucap Fikri dan Ica berbarengan.
"Waalaikumsalam," jawab seseorang di balik pintu rumah itu.
Kemudian, seorang perempuan membukakan pintu.
"Permisi dek, apa boleh saya numpang ke kamar mandi?" tanya Ica pada gadis itu.
"Oh mangga teh, hayu ka lebet hela (oh silahkan kak, ayo ke dalam dulu)," Gadis itu mempersilahkan Ica dan Fikri memasuki rumahnya.
Detik berikutnya Fikri duduk di alas karpet, Ica dan gadis perempuan itu pergi menuju kamar mandi.
Selang beberapa menit muncul Ica dan gadis itu, serta seorang nenek juga kakek dibelakangnya.
"Ehh, aya tamu (eh, ada tamu)," ucap seorang nenek-nenek yang duduk di sebelah Fikri, di ikuti kakek, suami nenek itu.
"Assalamualaikum nek, kek," Fikri mengucapkan salam seraya mengecup punggung tangan sang kakek dan nenek, di ikuti oleh Ica.
"Walaaikumsalam,"
"Makasih nek, kek, dek atas kamar mandi nya." ucap Ica tersenyum.
"Sami-sami neng,"
"Atos timarana bade kamarana kitu (Udah dari mana mau kemana gitu)?" tanya nenek itu, sebut saja namanya nek esih.
"Abis dari bali mau pulang nek," jawab Fikri sopan.
"Oh ameng (Oh main)?"
"Iyah nek,"
"Jenengan neng saha? (Nama kamu siapa neng?)" tanya nek esih pada Ica.
"Saya Alisya nek, ini suami saya Fikri."
"Oh suami, panya nenek mah raka neng (oh suami, kirain nenek kakak neng),"
"Hehe.. suami nek,"
"Tinggal dimana kitu(gitu) neng?"
"Di bandung nek,"
"Oh sakedap deui ge dugi atuh nya (oh sebentar lagi juga sampai atuh ya)."
"Iyah nek, yaudah kita pamit. Makasi sekali lagi nek," pamit Ica.
"Atuh kehela sakedap deui, istirahat hela didieu (atuh nanti sebentar lagi, istirahat dulu aja di sini),"
"Gak usah nek, soalnya hari udah malam."
"Atuh nya kulem hela we didieu (atuh ya ngindep aja dulu disini),"
"Gak perlu Nek, kami pulang saja. ini ada sedikit rezeki atas dasar terima kasih saya telah numpang ke kamar mandi sama istirahat," ucap Ica memberikan uang seraya salim pada nek esih, diikuti oleh Fikri.
"Teu kedah Neng, pirage istirahat sareng ka cai hungkul (gak usah neng, cuman istirahat sama ke kamar mandi aja)," nek esih itu kembali memberikan uangnya.
"Gapapa Nek saya ikhlas,"
"Nenek oge (juga) ikhlas kok Neng,"
"Gapapa nek ambil aja, saya permisi dulu. Assalamualaikum," ucap Ica, lalu ia dan Fikri berjalan ke arah mobil mereka.
"Enya atuh nuhun pisan Neng,"
"Sama-sama nek, mari Nek,"
"Mangga neng,"
***
Sehat selalu readers:)
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
Fiksyen Umum17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
