Chapter 64

84 2 0
                                        


Fikri, Ica dan gadis kecilnya telah sampai ditaman bermain lima belas menit yang lalu. Mereka kini tengah memakan eskrim ditemani pemandangan para anak kecil tengah bermain.

Setelah menghabiskan eskrim, Ara bangkit dari duduknya, ia menatap sang Ayah dan Bundanya. "Kenapa, Sayang?" tanya Ica disela-sela makan eskrimnya.

"Ara mau main kesana, boleh?" tanya Ara dengan menunjukan tangannya ke arah para gadis cilik seumuran Ara yang tengah bermain.

Fikri dan Ica saling menatap, Fikri tersenyum. "Iya boleh, mau Ayah temenin gak?" tanya Fikri.

"Gak usah, Ayah. Ara sendiri aja, Ayah temenin Bunda aja disini." jawab Ara dengan menampakan gigi putihnya.

"Kamu ini." Fikri mengelus lembut puncak kepala Ara dengan sayang.

"Yaudah, gih sana."

"Hati-hati, ya." ucap Ica tersenyum.

Ara langsung berlari menuju teman sebayanya, ia bergabung ikut bermain.

Fikri menatap Ica yang tengah asyik memakan eskrimnya, tangan Fikri memengang bibir Ica, ia mengelap krim yang berada disisi bibir Ica.

"Kaya anak kecil." omel Fikri, Ica hanya terdiam menatap manik indah suaminya.

Ica tak menanggapi lagi ucapan Fikri, ia kembali memakan eskrimnya. Tanpa sepengetahuan Ica, sejak tadi Fikri menatap inci wajah cantik Ica.

"Makan, Mas eskrimnya." ucap Ica tanpa melirik Fikri yang memang tengah memerhatikan dirinya.

"Iya."

"Manis 'kan, Mas?" tanya Ica dengan terus memakan eskrimnya dengan serius.

"Lebih manisan kamu, kok." jawab Fikri, pria itu masih menatap sang istri tanpa mau mengalihkan pandangan.

"Hah?" Ica kaget dengan jawaban Fikri, ia menatap sang suaminya yang kini memang tengah memandangnya.

Ica mendekatkan wajahnya ke wajah Fikri.

Dekat ...

Dekat ...

Semakin dekat ...

Dann, hufftt! Ica meniup kedua mata Fikri yang alhasil Fikri langsung mengerjapkan matanya. "Ish, kaget aku." ucap Fikri memalingkan wajahnya.

"Ya abis kamu sih, liatin aku mulu. Malu gau gak!"

Fikri membuang sisa bungkusan eskrim ke tempat sampah, ia memengang tangan Ica dengan sayang, lalu ia kecup dengan hangat.

Drrtt, drrtt!

Ponsel milik Fikri berbunyi di saku celana, Fikri merongoh ponselnya. Ia membaca nama si sang penelpon dan ia berjalan sedikit jauh dari Ica.

"Lah? Kok malah ngejauh?" gumam Ica heran, karna setiap Fikri menerima telpon tak pernah menjauh seperti ini.

Fikri menggeser tombol hijau dan ia segera mendekatkan ponselnya ke telinga.

"..."

"Waalaikumsalam, iya kenapa, Pak?"

"..."

"Sudah? Baiklah nanti saya kesana."

"..."

"Waalaikumsalam."

Tutt! Telpon telah mati, Fikri berjalan kembali ke arah Ica yang tengah menatapnya. "Siapa?" tanya Ica.

"Temen." jawab singkat Fikri dan duduk disamping Ica.

"Kok angkat telponnya harus jauh?" tanya Ica mulai curiga.

"Jangan-jangan pacar kamu." Ica memalingkah wajahnya ke sembarang arah.

"Ya bukan atuh, Sayang. Masa iya selingkuhan, 'kan gak mungkin hehe." Fikri memutarkan kepala Ica agar melihat kembali ke arahnya.

"Kok gambek? Mau apel, gak?" bujuk Fikri dengam menaik-naikan kedua alisnya, dan senyuman manis seolah-olah menggoda.

Ica langsung memandang Fikri, netra nya membuka, senyumnya terukir indah di bibir, sambir berkata. "Mau, mau!"

Fikri tersenyum senang, ia mengusap kepala Ica. "Asal jangan marah lagi, ya?" bujuk Fikri.

"Oke deh, oke." jawab Ica dengan penuh semangat.

"Yaudah, kamu tunggu sini awasin Ara. Biar aku yang beli ke sebrang sana." ucap Fikri dengan menunjukan toko buah disebrang jalan.

"Oke!"

Fikri segera bangkit dari duduknya dan beranjak pergi ke tempat tujuannya, yaitu toko buah.

Cinta Sang Dokter (Slow Up)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang