Sretttt.
"Massss," teriak Ica kencang.
Gelap! Itulah yang dirasakan saat ini.
"Apa aku sudah mati? Yaa allah ampuni hamba yang berdosa ini, maafkan hamba yang tak bisa menjaga titipan mu, maafkan hamba ya allah, maafkan hamba" Ica sedikit terisak, tapi, tunggu. Ia tidak merasakan dingin di tubuhnya, seperti ada yang menahan tubuhnya. Tapi tidak! Ica tidak berani membukakan matanya.
"Hey, Ca. Buka matanya, kenapa ditutup-tutup hem?" seseorang berbicara padanya.
'Hah? Apa mungkin malaikat? Ya allah aku belum siap belum ya allah,' ucap Ica dalam hati.
"Sayang, heyy buka matanya," kali ini seseorang itu menepuk-nepuk pipi Ica.
'Malaikat nyebut sayang? Masa iya," sedikit demi sedikit Ica membukakan matanya.
Saat terbuka lebar netranya, yang ia lihat banyak sekali cahaya-cahaya. Ia melihat kesekeliling, benar! Tidak gelap lagi.
'Apa ini cahaya dari al-quran?' Ica kembali berbicara dalam hati.
Terakhir, ia melihat ke atas. Yah ada wajah seorang yang iya kenal, dia seperti suaminya.
"Mas? Mas? Apa kita sudah berada disurga?" Ica menepuk-nepuk pipi suaminya.
"Heyy bicara apa kamu, kita belum tiada sayang. Ini dirumah ibu,"
"Rumah? Tapi kenapa tadi gelap sekali?"
"Tadi kamu merem, jadi gelap,"
"Iyakah? Jadi aku masih hidup? Dan buah hati aku masih didalam perut?"
"Iya sayang, iya,"
"Bangun dong, pegel nih dari tadi aku tahan kamu," lanjut Fikri.
"Ih aku gak gendut yah!" Ica berdiri dengan bantuan Fikri, yah sejak tadi Fikri menahan tubuh Ica agar tidak jatuh.
"Aku gak bilang kamu gendut kok,"
"Terus tadi bilang apa? Beratkan? Itu tanpa segaja kamu bilang aku gendut."
"Aku gak bilang berat, cuma bilang pegel dong,"
"Itu artinya kamu bilang aku berat ihh mas jahat!"
"Cewe slalu benar,"
"Apa?!"
"Gak sayang gak,"
"Kenapa gak liat-liat jalannya? Untung ada aku dibelakang," lanjut Fikri mengalihkan pembicaraan.
"Aku kesel sama kamu!"
"Kesel? Kenapa?"
"Tadi kamu kunciin pintu dari dalem, terus aku panggil-panggil gak nyaut-nyaut."
"Eh maaf tadi ak--,"
"Tau ah! Aku marah sama kamu." Ica meninggalkan Fikri yang mematung ditempat.
Sejak tadi, sejak tadi Ica berteriak. Dwi melihat adegan-adegan sang anak juga menantunya, Dwi hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Astagfirullah, Ica kenapa tadi Fik?"
Fikri yang merasa ada seseorang yang berbicara dari belakang, melihat ke arah lawan bicara.
"Ica hampir jatuh bu, untung aku cepat-cepat tangkap dia," Dwi, yah dia yang berbicara pada Fikri.
"Ica gapapa kan?" tanya Dwi memastikan.
"Gapapa bu,"
"Alhamdulillah kalo gitu, oh iya jamunya di atas meja, kamu kasih gih," perintah Dwi.
"Iyah bu, aku susul Ica," Dwi hanya mengaguk-agukan kepala sebagai jawabannya.
Fikri mulai berjalan kedapur, untuk menyusul sang istri.
"Jamunya dime--," belum selesai Fikri bicara, Ica tengah meminum jamunya.
"Oh bagus deh," Fikri berjalan mendekat ke arah Ica.
"Ca?" panggil Fikri.
Ica tidak menyahut panggilan Fikri, bahkan melirik kearah Fikri pun tak dilakukan oleh Ica. Ia asyik dengan jamu yang kini tengah diminumnya.
"Sayang?" Fikri kembali memangil Ica.
Sang empu yang dipanggil tidak menghiraukan sama sekali, ia fokus dengan minumnya.
Ica telah menghabiskan jamu didalam gelasnya, dia mulai berdiri dari duduknya berjalan ke arah kulkas.
Fikri yang melihat Ica meninggalkannya hanya menangkup dagunya dengan kedua tangannya.
Ica kembali duduk dengan membawa sebiji mangga juga pisau, ia mulai mengupas cangkangnya. Setelah terkelupas semua, ia mulai memakan mangga muda itu satu persatu.
"Caa, maafin ya?" Ica melirik sekilas ke arah Fikri, lalu kembali memotong mangga.
"Sayang hey, maafin dong,"
"Mau dimaafin?" Ica tidak melirik kearah Fikri ia fokus dengan momotong mangganya.
Dengan kilat Fikri mengaguk-agukan kepalanya, seraya berbicara. "Mau dong mau,"
"Tapi.. ada syaratnya."
"Yaudah apa? Mau aku beliin apa? Sate? Bakso? Mie ayam? Kue bolu lagi? Atau sop buah?"
"Gak." tekan Ica.
"Tarus apa?"
"Buatin aku semur,"
"Semur? Semur apa? Kangkung? Jengkol?"
"Telor." balas Ica dengan Santai.
____
TBC❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
Ficção Geral17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
