Chapter 15

164 5 0
                                        

Selamat membaca^^
____________

Tiga bulan sudah mereka menjadi seorang pasangan suami istri, tidak ada hal-hal yang berbau untuk menghancurkan hubungan mereka. Semua aman, mereka juga telah tinggal bersama Mahesa juga Dwi, orang tua Fikri.

Dan tiga bulan ini belum ada tanda-tanda Ica hamil, Fikri ia sudah bekerja kembali beberapa bulan yang lalu. Kini ia sibuk dengan pasien-pasien dirumah sakit, pulang pun kadang sore dan kadang tengah malem.

Kini hari telah malam, sejam yang lalu Fikri telah pulang dari rumah sakit. Ia bersama Ica tengah makan berdua didalam kamarnya, karna sejak tadi Ica tak mau makan karna Fikri belum pulang.

Setelah selesai dengan acara makannya, mereka duduk disofa kamarnya sembari canda tawa. tapii,

"Mas jangan deket-deket ih, kamu bau." Ica menutup hidungnya dengan tangan kanannya, seraya bergeser tempat duduk.

"Kan mas udah mandi masa bau," jawabnya menghirup-hirup badannya, ya memang tidak bau. Malah harum, harum farpum.

"Ini harum sayang, nih cium lagi," Fikri mendekatkan tangannya yang terbalut kaus panjang ke arah hidung Ica.

"Ih bau. Kamu pake farpum apaan sih?"

"Farpum yang biasa kok,"

Ica semakin menjauh dari tubuh Fikri, ia tidak mau dekat-dekat dengan Fikri. Karna itu Ica hampir muntah tapi tidak ia tahan dengan kuat.

"Sini ih deketan, mas pingin dipeluk kamu,"

"Gak mau! Mas ganti baju gih, baju itu bau."

Pendengar perintah Ica, Fikri langsung menuruti apa yang Ica suruh. Ia pergi ke arah lemari seraya membuka baju panjangnya itu didepan Ica, ia tak malu sama sekali, karna apa? Ya karna mereka suami istri lah.

Setelah selesai mengganti baju dengan baju kaus pendek, ia berjalan mendekat ke arah ranjang dan duduk disamping sang istri.

"Mass," ucap Ica dengan manja.

"Kenapa? Ih mukanya kok beda?"

"Pingin peluk," jawabnya.

"Kok manja?"

"Oh gak boleh yah? Yaudah gak jadi," Ica langsung merebahkan badannya di ranjang, dengan membelakangi Fikri.

"Hey, kok marah? Sinih tadi mau meluk,"

"Boleh?" tanya Ica berbinar dan langsung terbangun dari baringannya.

"Boleh dong,"

Dengan cepat seperti kilat, Ica langsung menubruk suaminya dan menenggelamkan kepalanya didada bidang Fikri.

Nyaman. Itulah perasaan Ica sekarang, ia mengeratkan pelukannya. Seperti tidak mau kehilangan.

"Jan erat banget dong, enggap nih," ucap Fikri mengelus pucuk kepala Ica.

"Ehh maap," Ica melonggarkan pelukannya.

Hampir lima menit mereka berpelukan, tiba-tiba  Ica merasakan hal aneh. Seperti ada gejolak-gejolak aneh didalam perutnya, semakin lama ia mual. Dan cepat-cepat ia berlari ke arah kamar mandi.

Huekk huekk

Ica memuntah seluruh makanan yang tadi dimakannya, tapi tidak tidak ada makanan yang keluar. Melainkan cairan bening yang keluar.

"Sayang, sayang kamu kenapa?" Fikri mengedor pintu kamar mandi, ia sangat-sangat khawatir pada istrinya itu.

Ica tidak merasakan mual lagi, ia mencuci mulutnya diwastapel setelah selesai ia membukaan pintu kamar mandi, yang telah terdapat Fikri dengan muka khawatir.

Cinta Sang Dokter (Slow Up)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang