Prang!
Makanan yang tertata rapi didalam rantang, tanpa segaja dan diduga. Rantang itu terjatuh, akibat kaget dan syok melihat adegan didepannya.
"M--aass.." ucap seorang wanita dengan getaran hebat di depan ruangan, yang telah terbuka pintunya.
Sang empu yang dipanggil tau dengan suara seorang wanita yang memanggil, dengan cepat Fikri langsung mendorong Nayla dan langsung berdiri. Fikri mulai mendekati wanita itu yang tak lain adalah Ica, sang istrinya.
"Sa--sayang, mas bisa jelasin," ucap Fikri memengang tangan Ica, dan langsung di balas tepisan kasar oleh Ica.
"Gak perlu dijelasin! Hiks.. Aku benci kamu mas! Hiks..," Ica langsung berlari ke arah pintu utama rumah sakit dengan deraian air mata yang membasahi pipinya.
"Sayang!"
"Caa!"
"Icaa!"
"Kak!"
"Kak Icaaa!"
"Kak!"
Fikri dan Aisyah terus berteriak memanggil nama Ica, tapi Ica tak melirik kebelakang ataupun menyaut panggilan mereka.
"Abang jahat sama kak Ica! Abang jahat!" ucap Aisyah berbalik badan untuk menyusul sang kakak ipar.
Fikri mencekal pergelangan tangan Aisyah. "Syah, ini gak seperti yang kamu liat."
Aisyah langsung menepis tangan sang abang. "Isyah gak mau tau, abang harus jelasin se detail detail nya ke kak Ica! Isyah gak mau kak Ica nangis!"
Isyah langsung berlari menyusul Ica yang telah tertinggal jauh, Ica tidak menggunakan mobil yang tadi bersama Aisyah. Melainkan menggunakan taksi.
Aisyah langsung menaiki mobilnya dan menyusul Ica.
____
"Arrrgggh! Ini semua salah lo!" tunjuk Fikri pada Nayla yang masih terduduk dilantai.
Nayla hanya tersenyum puas, sedikit hanya sedikit senyumannya. Bahkan Fikri pun tidak melihat senyuman nya itu.
Fikri kembali kedalam ruangan untuk mengambil kunci mobil dan menyusul Ica, sebelum Fikri pergi. Ia terlebih dahulu pamit untuk izin pada sahabatnya, Zamzam.
"Haha, rasain lo. Emang enak nangis-nangis kek gitu," ucap Nayla dalam hati tersenyum puas.
Fikri berjalan ke arah tempat perkiran, kemudian ia menjalankan mobilnya menuju rumah.
____
Air mata, air mata lah yang kini menghiasi wajah cantik milik Alisya. Ia semakin terisak saat bayangan-bayangan kejadian tadi muncul tiba-tiba dalam pikirannya yang membuatnya sakit, sakit, sakit hati.
"Mau kemana mba?" tanya supir taksi.
Ica menghapus air matanya, dan menjawab. "Jalan mawar nomor 16,"
"Oh baiklah,"
Supir taksi itu melajukan mobil nya dengan kecepatan diatas rata-rata, Ica hanya melihat-lihat pohon-pohon yang berada disisi jalan dengan deraian air mata yang terus mengalir tanpa henti.
Beberapa saat kemudian.
"Mba udah sampai," ucap supir taksi itu melirik kearah belakang.
Ica kembali menghapus air matanya, dan memberikan beberapa lembar uang. "Terima kasih pak," balas Ica dengan suara serak.
Supir taksi itu hanya mengagukan kepala seraya tersenyum, kemudian supir taksi itu melajukan kembali mobilnya.
"Aku benci mas Fikri! Benciiii! Aku gak mau liat mas Fikri lagi!" Ica semakin terisak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
Fiksi Umum17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
