Chapter 49

85 1 0
                                        


Setelah memberi ribuan bujukan akhirnya aku diperbolehkan pulang, alhamdulillah bebas dah dari bau obat rumah sakit.

Kini aku masih duduk diranjang, Ibu mertua juga Mamah tengah membereskan baju ku. Mau ikut bantu eh tak boleh, huft diem, diem dan diem deh.

Hari sudah hampir petang, dan kini semua telah selesai dibereskan. Suamiku Fikri tengah menyetir mobil diatas rata-rata, dan kami didalam mobil hanya berdua, ya berdua. Sebab Mertua juga Mamah beda mobil.

Dan yah, setelah tadi diomel-omel Kak Nisa karna manggil suamiku Dokter, sekarang aku harus panggilnya dengan sebutan 'Mas'.

"Sayang?" panggil suamiku, Fikri.

Aku tak menghiraukan nya, aku masih kesel dengan ucapannya tadi. Seenak jidat punya pacar lagi, aku goreng baru tau rasa. Eh kok kaya koki ya? Tau ah.

"Sayang?" lagi, suamiku memanggil.

Dan lagi, aku tak menghiraukannya. Aku asyik melihat orang yang berlalu lalang, banyak orang disana. Mulai dari jalan-jalan sore, pacaran, jajan disisi jalan dan masih banyak lagi.

"Sayang? Ca?" ketiga kalinya, suamiku memanggil dengan akhir nama.

Dilirik sekilas wajah suamiku yang tengah fokus berjalan, kemudian aku melihat ke arah jendela mobil.

"Kenapa hm, marah?" tanyanya.

"Gak." ketusku.

"Lah? Kalau gak kenapa ketus bicaranya?"

"Mau aja,"

Aku melihat ada toko buah dipinggir jalan, rasanya mulut ini ingin mengunyah apel. Uhh apalagi itu, apel hijau arggh pengen.

"Eh berhenti dulu Mas," ucapku berbalik ke arahnya.

"Kenapa?" tanyanya heran dengan menaikan sebelah alis.

"Ica pengen itu," tunjuk ku ke arah depan yang memang terlihat jelas toko buah kecil.

"Apa? Si amang penjualnya?" tanyanya lagi, kali ini ia menjalankan mobilnya dengan pelan.

"Ih ya gak lah. Ica pengen buah nya, masa iya mau si amang tukang buah. Kan Ica udah punya Dokter tampan disamping Ica, eh." kututup mulut ini rapat-rapat denga sebelah tangan, keceplosan aku gays yaampun, bisa malu ini.

"Apa? Bilang apa barusan?" tanyanya dengan menatapku, karna mobil telah terpakir dipinggir jalan. Tuli apa pura-pura tuli ya?

"Ica mau buah,"

"Bukan itu ih!" ketusnya.

"Lah, terus yang mana?"

"Tadi, terakhir kamu ucap,"

"Gatau lupa," aku berlagak so lupa, kalau bilang aku malu. Bukannya mau beli malah digombalin lagi, kan repot.

"Ih kamu boong ya," dia mencubit kedua pipiku, ish emang pipiku kue apa.

"Ish ... sakit!" tekanku.

"Hehe, maaf," ia menyatukan kedua tangannya.

"Ada syaratnya!"

"Apa?"

"Beliin buah apel."

"Apel?"

"Iya, tapi apel yang warna hijau yaa?"

Ia terdiam, seperti tengah memikirkan sesuatu. Apa ya? Jangan-jangan? Astagfirullah jangan negatif Ca.

"Mass!" panggilku dengan menggoyangkan tanggannya.

Ia langsung tersadar. "Eh, iya sayang?"

"Ica mau apel ihh,"

Ia tersenyum, manis sekali. Masyaa Allah ya Allah. "Yaudah tunggu disini ya," ucapnya.

"Ica pengen ikut,"

"Jangan, kamu kan belum sembuh." tolak suamiku halus.

"Ica gak papa kok, ikut ya?" bujukku, aku mau hirup udara sengarlah.

***

Author POV.

Setelah mendapat izin dari sang suami untuk ikut membeli buah, kedua insan itu berjalan beriringan menuju toko buah.

Pria itu mencekal tangan sang wanita nya dengan erat, sangat erat sekali. Ia tak peduli dengan lirikan-lirikan orang terhadapnya, toh mereka sudah sah kan? Jadi, apa salahnya?

"Mas, lepas ih." merasa risih dengan lirikan orang lain kepadanya, wanita yang tengah dipegang tangannya itu mau melepaskan tangan dari cekalan sang suaminya. tapi nihil, karna cekalan sang suami sang erat.

"Kenapa?" pria itu melirik sang wanitanya.

"Malu diliatin," jawabnya.

"Lah? Kan kita udah halal. Masa iya malu,"

"Tapi itu liat, diliatin loh,"

"Biarin, kan mereka punya mata,"

Huft. Wanita cantik berjilbab biru muda itu menghembuskan napasnya, okelah dia harus menggalah, kan gak dosa kan dipegang suami?



___




Follow aku ya:)

Cinta Sang Dokter (Slow Up)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang