⚫⚫⚫
Pukul 07.00
Kini Fikri, suami Ica itu telah siap dengan pakaian senada dengan ica. Apalagi kalau bukan warna biru berpadu hijau, warna favorit mereka. Mereka siap untuk pergi pacaran di taman, eh jalan-jalan maksudnya.
Fikri, ia tengah duduk di sofa kamarnya sembari memainkan gawai. Menunggu sang istri yang sedang memakai jilbabnya.
"Sayang, udah?" Tanya Fikri tanpa melirik ke arah Ica.
"Bentar, tinggal pake bros aja." Jawab ica yang masih fokus dengan pekerjaannya, memakai bros.
Setelah mendapat jawaban Fikri hanya menganggukan kepalanya. Meski Ica tak melihat.
"Ayoo." Ucap Ica, yang sudah berdiri di hadapan Fikri.
"Ayo." Jawab Fikri berdiri, mematikan gawainya dan memasukannya ke saku celana.
"Waw, masyaa allah. Kamu cantik sayang." Puji Fikri, melihat dari bawah sampai ke atas badan Ica.
Ica, gadis itu hanya menunduk menyembunyikan warna pink di pipinya. Haduh, baru di puji segitu udah pink aja. Gimana kalau yang lebih, Waw pasti mukanya? Ntahlah, hanya Ica yang tau. Haha
"Eh, yaudah ayo jalan." Ucap Fikri menggandeng mesra Ica.
Kini, merak berdua tengah menuruni anak tangga untuk sampai ke pintu utama.
"Ehh, mau kemana? Pacaran?" Tanya seseorang yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Iya dong, kan pengantin baru." Balas Fikri, pada seseorang yang sedang duduk itu. Siapa lagi kalo bukan Bani, kakak iparnya.
"Eh, bang ayah sama mamah dimana?" Tanya Ica pada Kakaknya.
"Didepan kayaknya." Balas bani.
"Oh, yaudah Ica pergi ya."
"Iyaa, hati-hati dek."
"Iyaa."
Setelah mendengar jawaban sang kakak, mereka berdua menuju orang tua mereka. Di kursi depan rumah.
"Mah, Ica sama mas Fikri mau pergi ke taman." Pamit Ica pada mamahnya yang tengah duduk manis menikmati tehnya.
"Yaudah gih." Jawab Aminah.
"Ayah kemana?" Tanya Fikri, melihat ke kursi kosong di sebelah mamahnya yang terhalang meja kecil.
"Tuh, lagi beri makan burungnya." Balas Aminah menunjuk ke arah sang suaminya.
"Yaudah kita pamit dulu ke ayah mah." Ucap Fikri menciumi punggung tangan Aminah, di ikuti Ica.
"Iyah."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Fikri, dan Ica pun berjalan mendekat ke arah Sahal. Untuk pamit.
"Yah, kita pamit pergi ke taman dulu." Pamit Ica, menciumi punggung tangan Sahal dan di ikuti Fikri juga.
"Oh, iyah hati-hati." Ucap Sahal mewanti-wanti.
"Okee, assalamualaikum." Ucap Fikri dan Alisya.
"Waalaikumsalam."
Kini mereka mendekat ke arah garasi.
"Mau pake motor apa mobil?" Tanya Fikri pada Ica.
"Emm, jalan aja we. Biar sekalian olahraga hhe." Jawab Ica.
"Emang gak akan cape gituh?" Tanya Fikri.
"Emm, cape sih."
"Pake motor aja we yah?" Tanya Fikri.
"Emm, yaudah boleh." Jawan Ica.
"Biar kamu bisa meluk haha." Lanjut Fikri di iringi tawa garingnya.
"Ishh." Jawab Ica, memukul tangan Fikri.
"Hehehe."
"Bentar yah aku bawa motor dulu, kamu tunggu di sini." Ujar Fikri.
"Iyah."
Kini, Fikri mengeluarkan motor milik Ica. Tak perlu bawa kunci motor, karna kuncinya sudah tergantung di motor.
Beberapa saat kemudian, Fikri kembali dengan motor kesayangan Ica.
"Ayo naik." Perintah Fikri.
Selanjutnya, Ica menaiki motor beat berwarna hijau miliknya itu.
"Udah?"
"Dah."
"Yaudah turun." Canda Fikri.
"Nyampe aja belum." Balas Ica sewot.
Fikri tidak membalas ucapan Ica, ia langsung mengendarai motor itu. Melesat menuju taman.
"Hati-hatii." Teriak Sahal saat motor Ica, melesat melewatnya.
Kini, Ica tengah asyik melihat jalanan yang tersusun pohon-pohon kecil si sekitar pinggir jalan. Berbeda dengan Fikri, ia fokus dengan menyetir motor.
"Pegangan sayang, aku mau ngebut." Teriak Fikri, karna kalau tidak teriak, tak akan jelas terdengar oleh Ica.
"Jangan ngebutt! Aku takut." Balas Ica berteriak pula.
Fikri tidak mendengarkan keluh sang istri, ia malah mengebut motornya. Karna takut, Ica langsung memeluk Fikri dari belakang.
'Hem, kan enak.' Ujar Fikri dalam hati, sambil tersenyum.
Fikri, yang merasa Ica memeluknya sangat erat. Ia melajukan motornya di atas rata-rata, dan merasa laju motornya melambat ica melonggarkan pelukannya dari Fikri.
15menit kemudian.
Mereka telah sampai ke tempat tujuan mereka, yaitu taman.
Kini, Ica dan Fikri telah menuruni motornya. Dan menyimpan di tempat parkiran, mereka berjalan menuju kursi panjang yang berada di taman itu. Yang masih kosong, karna kursi lainya penuh dengan banyak orang. Yang mungkin keluarga mereka, pasangan atau ntahlah.
Brukk.
Ica, terjatuh karna dua orang gadis kecil menabraknya. Ya, karna Ica berdiri dengan tidak seimbang. Alhasil, ica dan kedua gadis kecil itu ikut terjatuh.
"Ehh, kamu gapapa sayang?" Tanya Ica, membantu kedua gadis kecil itu untuk bangun.
"Gapapa tante." Ucap kedua gadis itu.
"Kenapa lari-lari heum?" Ucap Ica berjongkok mengsejajarkan dengan gadis kecil di hadapannya.
"Lagi main lari-larian tante." Ucap salah satu dari mereka yang memakai kerudung berwarna biru.
"Sama siapa ke sini?" Tanya ica.
"Tuhh." Balasnya menunjukan ke arah suami istri yang tengah duduk di kursi dekat Ica dan Fikri.
"Yaudah om, tante, kita mau ke umi sama abi dulu. Assalamualaikum tante cantik." Ucap salah satu gadis kecil berkerudung pink itu. Menciumi punggung tanga Ica dan Fikri secara bergantian, dan kedua gadis kecil itu langsung berlari ke arah orang tuanya.
"Waalaikumsalam." Jawab Ica dan Fikri.
Selanjutnya, Fikri dan Ica duduk di atas kursi putih panjang itu.
"Assalamualaikum." Ucap seorang pria di samping mereka.
"Waalaikumsalam." Jawab Ica dan Fikri, melirik ke arah sumber suara.
"Lohh, Alisya yaa?" Tanya seorang pria itu.
⚫⚫⚫
Vote jan lupa:)
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
General Fiction17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
