Chapter 14

149 4 0
                                        

____

Sekarang Fikri dan Ica telah duduk manis dikursi kamar rawat Nisa, karna sejam yang lalu Ica dan Fikri telah sampai dirumah sakit pelita sehat setelah dikasih kabar oleh Aminah, bahwa Nisa telah melahirkan. Bayi mungil Nisa berjenis kelamin laki-laki.

Kini Ica tengah menikmati memakan cemilan yang dibeli dikantin rumah sakit tadi, sama halnya dengan Fikri, Aminah, juga Sahal. Berbeda dengan Nisa dan Bani, Nisa tengah disuapi bubur oleh bani.

Setelah Nisa selesai dengan semangkuk bubur, ia mengalirkan buburnya dengan meminum segelas air putih.

Oekk oekk oekk.

Suara bayi mungil terdengar dipenjuru ruangan, dengan cepat Bani mengendong bayi mungilnya untuk diberikan kepada Nisa, dan dengan singal Nisa menerima bayi nya dan segera dikasi ASI.

Kini seluruh keluarga tengah menikmati cemilan-cemilan yang tersedia diatas meja, beberapa saat kemudian, cemilan-cemilan itu telah abis dan hanya bungkus-bungkus kosong saja yang tersisa.

Ica berjalan mendekati kearah ranjang sang kakak yang tengah mengendong ponakannya, ia menduduki pantatnya di kursi sebelah ranjang.

"Mau nyobain gendong Ca?" tanya Nisa.

"Takut kak,"

"Loh kok takut?"

"Takut jatuh, masih kecil dede bayinya,"

"Gak akan goyang-goyang kok bayinya, paling cuman tidur atau nangis,"

Ica hanya mencubit-cubit kecil pipi sang ponakan, sang empu hanya diam digendongan sang bunda.

"Yaudah sini kak, nyobain gendong. Belajar hehe,"

"Nih," Nisa menyodorkan bayinya, Ica langsung menyiapkan tangannya untuk membuat nyaman sang bayi.

"Lucu kakk,"

"Yaiyalah, anak siapa duluuu,"

"Udah cocok loh Ca, cepet-cepet punya atuh," lanjut Nisa.

"Doain aja kak hehe,"

"Aamiin semoga,"

____
Keesokan harinya, kini seluruh keluarga telah berada dirumah Sahal. Karna tadi sekitar jam sepuluh siang Nisa bersama buah hatinya telah pulang.

Dan lusa esok Ica juga Fikri akan pindah ke rumah orang tua Fikri, Mahesa. Ia akan menetap disana, ya karna esok setelah mereka pindah Fikri kembali bekerja dirumah sakit kota orang tua Fikri tinggal. Yaa memang Fikri berprofesi sebagai seorang dokter, lain hal dengan Ica ia berprofesi sebagai guru.

Kini seluruh keluarga tengah duduk di ruang tv sembari memainkan bayi munggil buah hati Nisa dan Bani, canda dan tawa yang kini menghiasi ruangan televisi itu.

"Heyy, dedee," ucap Ica memainkan tangan mungil buah hati Nisa.

"Unch gantengnya ponakan tante," lanjut Nisa memerhatikan inci wajah sang bayi.

"Udah dikasih nama Kak?" tanya Ica

"Udah," balas Nisa.

"Siapa kak?"

"Muhammad alba asyidik,"

"Wahh bagus kak," puji Ica mencubit-cubit kecil pipi Ponakannya itu.

"Siapa yang beri mana itu kak?"

"Ya kompromi kakak sama mas bani,"

"Oh iya,"

"Pen gendong kak," Nisa langsung memberikan bayinya kepada pangkuan Ica.

Ica yang asyik dengan memainkan tangan juga pipi bayi munggil bernama Alba itu, tak sadar semua anggota keluarga melihat kearahnya. Mungkin saking senangnya ia memainkan Alba, sang ponakan gantengnya.

Ica yang mulai tersadar dengan tatapan mamah, ayah, kakak juga suaminya merasa heran, kenapa liatin seperti itu? Pikir Ica.

"Eh kenapa pada liatin Ica?"

"Kamu udah cocok loh Ca," ucap Aminah.

Nisa menyenggol pelan tangan Ica. "Tuh kan apa kata kakak, cepet punya dong," bisik Nisa.

"Emm, doain aja mah," Ica tersenyum manis.

"Aamiin,"

"Ih udah atuh, jangan liatin Ica kaya gitu malu,"

Kini anggota keluarga itu tengah menikmati teh hangat juga cemilan, sembari menonton televisi.

Hanya suara kriuk-kriuk keripik lah yang sekarang terdengar oleh indra pendengar mereka semua.

____




Gaje mon maaf

Cinta Sang Dokter (Slow Up)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang