Hari sudah semakin sore, Fikri masih setia menunggu sang istri untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Fikri tidak menunggu di dalam kamar atau pun kursi kamar, melainkan di sofa ruang tamu.
"Bismillah, semoga sekarang Ica mau dengerin penjelasan gue," gumam Fikri, ia mulai berjalan menaiki anak tangga.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Fikri telah berada tepat di depan pintu. Ia mulai memutar knop pintu, setelah pintu terbuka Fikri berjalan ke arah Ica yang tengah duduk manis dengan sang adiknya, Aisyah.
Aisyah yang mengerti kode yang Fikri berikan, segere beranjak pamit untuk kebawah.
"Kak, Isyah ke de alba dulu ya, dah..," Isyah berlari ke arah pintu, Ica hanya mengagukan kepalanya meski itu tak terlihat oleh Isyah.
Setelah Isyah pergi di telan pintu, perlahan Fikri duduk di samping Ica. Ia jadi gugup, ntah kenapa.
"Ca?" panggil Fikri dengan lembut.
Ica tidak menengok ataupun membalas dengan deheman, melainkan ia sibuk dengan memainkah bantal kecil dipangkuanya.
"Sayang," Fikri mencekal tangan Ica yang tengah memainkan bantal.
Ica kaget, ia menengok ke arah Fikri, lebih tepatnya menatap mata indah milik Fikri. Begitupun sebaliknya, Fikri menatap mata indah Ica. Mereka saling pandang, detik berikutnya mereka tersadar.
"Apa boleh mas kasih penjelasan?" tanya Fikri, dan di balas dengan agukan kecil dari Ica.
Sekilas Fikri tersenyum, dan ia mulai menjelaskan sedetai-detai nya mulai dari ia duduk sendiri sampai terjadi hal yang membuat Ica sakit hati.
Beberapa menit kemudian, Fikri menyelesaikan penjelasannya. Ica hanya terdiam mencerna ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Fikri, apa ia terlalu cemburu? Atau mungkin terlalu keterlaluan? Belum mendengar penjelasan ia sudah bilang bahwa ia benci Fikri? Tapi.. itu tidak asli dari hati Ica, melainkan pikiran-pikiran yang menghasutnya.
Ica yang sangat puas dengan penjelasan Fikri, ia langsung menubruk tubuh Fikri dengan tubuhnya. "Maaf mas, maaf hiks..," itulah kata yang terus muncul di bibir manis milik Ica dengan deraian air mata yang muncuk secara tiba-tiba.
"Maaf untuk apa sayang?" tanya Fikri dengan membalas lembut pelukan Ica.
"Aku keterlaluan sama kamu Hiks..,"
"Gak sayang, itu pantes kok buat kamu. Kamu kan sayang sama aku jadi ya gitu deh cemburunya sangat dalem, sampe-sampe bilang benci. Emang iyah benci?" Fikri mencubit gemas pipi Ica yang masih menempel indah di dadanya.
Dengan cepat Ica mengelengkan kepalanya, ia tidak benci Fikri. Ia sangat, sangat mencintai Fikri. Itulah bisik Ica pada author.
"Nyaman yah peluk-peluk kek gini?" goda Fikri yang masih setia memeluk Ica dengan erat.
Author: "Dasar! Kalian sama aja, sama-sama nyaman dalam berpelukam. Author kapan Fik? Pengen dong peluk-peluk kek kalian gitu."
Fikri: "sstt jan ganggu dong tor, ini lagi enaa nii, pen peluk kek kite ye? makannya cepet nikah!"
Author: "enak aja, w masih sekolah tau," autor memutarkan bola mata malas.
Ica: "Hey kalian! Malah asyik ngobrol, tuh para readers nungguin, ganggu deh!"
Author: "Ih yamaaf Ca, oke dah bay autor tinggal slamat berpelukan yang puas."
Ica yang mendapat godaan dari Fikri langsung melepaskan pelukan nya dengan kasar, dan membuang muka ke arah lain.
"Dasar! Orang aku masih mau peluk dia kok," gumam nya dengan nada kesal.
"Ngomongnya kesini dong, emang di situ ada orang toh?" Fikri memutarkan kepala Ica agar berhadapan dengannya.
Ica tidak menatap Fikri, ia melihat arah lain dengan bibir yang maju ke depan.
"Eh kenapa tuh bibir? Pen aku gigit?"
Dengan cepat Ica menarik bibirnya, dan berkata. "Enak aja!"
"Lirik aku dong beb, aku pengen diliatin nih," perlahan Ica melirik ke arah Fikri, tapi Fikri langsung mengalihkan tatapannya kebawah. Tepatnya ke arah perut buncit Ica, dan menatap lama perut Ica.
Fikri mengusap-usap dengan sangat lembut, ia sangat menyayagi cabang bayinya, terlebih lagi pada calon ibunya.
"Assalamualaikum anak ayah, jan nakal-nakal sayang didalam perut bundanya. Baik-baik di sana ya, kamu cepet-cepet keluar dong, kan ayah kangen, cup." dengan lembut Fikri mengecup hangat perut Ica.
Pletuk.
Ica mengetuk kepala Fikri dengan gemas, Fikri yang mendapat ketukan kecil meringis pelas, dan berkata. "Aw.. sakit dong beb." keluh Fikri dengan mengusap-usapkan kepalanya yang diketuk oleh sang Istri.
"Abis kamu aneh! Hahaha..," sahut Ica diiringi tawa manisnya.
"Aneh kenapa?" tanya Fikri dengan polos.
"Masa iya kangen, emang kamu pernah ketemu gitu sama anak kamu? Hahaha,"
"Lah ya pernah dong, emang kamu belum wlee..," Fikri mengulurkan lidahnya.
"Ihh kapan! Kok gak ajak-ajak sih," rajuk Ica dengan memutar bola matanya.
"Waktu ituloh,"
"Kapan?" tanya Ica penasaran
"Beberapa hari yang lalu,"
"Dimana?" tanya Ica.
"Di kasur," balas Fikri dengan santai.
"Di kasur?" tanya Ica mengulang jawaban Fikri.
"Iya ih, ketemunya di kasur. Kan waktu itu pernah jenguk dede bayi,"
"Hah?"
"Gak ngerti yah?" Ica menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Yaudah aku juga gak ngerti,"
"Ih onyon!" Ica mengelitiki pinggang Fikri tanpa ampun.
____
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
Fiction générale17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
