Ica terus mengelitiki pinggang Fikri, Fikri hanya pura-pura geli. Sebenarnya ia tidak geli jika di kelitiki, karna demi kebahagian Ica Fikri tertawa geli.
"Udah.. gelii sayang," Fikri mencoba menghentikan kelitikan dasyat Ica, tapi Ica tidak melepaskan ataupun mendengar ucapan-ucapan Fikri.
"Aku bales niii..," Fikri membalas mengelitiki pinggang Ica, kini mereka saling mengelitiki satu sama lain.
"Aduuu duh," ringis Ica memegangi perutnya.
Fikri yang merasa khawatir langsung menghentikan acara kelitik-kelitikannya.
"Kenapa sayang? Sakit? Atau aku kelitikin terlalu keras?" Fikri menghujani beberapa bertanyaan pada Ica.
Sang empu yang di tanya tidak menjawab, ia terus memegangi perutnya dan terus meringis.
"Ca kenapa? Bawa kerumah sakit ya?"
Ica menengok ke arah Fikri. "Wleee," Ica mengulurkan lidah nya.
"Hahh?" Fikri melongo melihat Ica yang mengulurkan lidah nya.
"Apa? Hahaha..," tanya Ica diiringi tawa.
"Kamu bohong?" tanya balik Fikri dengan nada tak suka.
"Bukan boh--,"
"Terus apa?!"
"Ihh kok bentak sih," Ica menunduk sedih, karna selama mereka pacaran bahkan sampai menikah Ica tak pernah dibentak seperti itu.
"Maaf becanda, wlee..," Fikri membalas mngulurkan lidahnya.
"Ihh awas yah," Ica hampir mau mencubit lengan Fikri, tapi terhenti karna..
"Aduh," Ica kembali memegang perutnya.
"Tuh kan bohong lagi, gak suka ah gak lucu."
"Gak bohong mas, sini deh tangan kamu," Ica menarik tangan kanan milik Fikri, dan menempelkan nya di atas perut Ica.
"Kenapa?" tanya Fikri heran.
"Rasain aja,"
"Rasain apa? Gak kerasa kok,"
"Dihayati dong ngerasainnya," Fikri memejamkan matanya, dan mencoba merasakan apa yang terjadi diperut Ica.
"Loh, loh. Ini kok kaya nendang ya?" Tanya Fikri yang terus menghayati.
"Emang iyah mas..,"
"Siapa?"
"Bayi kita masyaa allah,"
"Wahh, aktif ya sekarang," Ica hanya membalas dengan senyuman manisnya.
Karna tak puas dengan tendangan jabang bayi di dalam perut Ica, Fikri meletakan kepalanya agar menempel di atas perus Ica.
"Geli gak sayang?" tanya Fikri yang berbaring di atas perut Ica.
"Ya gitu deh,"
"Uuuuh anak ayah udah aktif ya, cepet keluar sayang," ucap Fikri pada perut Ica, sesekali ia kecup dan mengusap-usap kan perut Ica.
Bahagia, senang plus gembira yang di rasaakan oleh Fikri saat sang jabat bayi sangat aktif di dalam perut.
____
Jam telah menunjukan pukul setengah lima sore, kini Ica dan Fikri tengah duduk di sofa ruang tamu dengan Aminah, Nisa juga Aisyah. Setelah tadi asyik dengan merasakan ke aktifan cabang bayi, Ica dan Fikri keluar kamar untuk bergabung dengan yang lain.
"Kalian mau pulang atau nginep di sini?" tanya Aminah pada Ica dan Fikri.
Fikri dan Ica saling pandang, dan berkata.
"Terserah Ica aja,"
"Gimana mas Fikri aja,"
Ucap mereka berbarengan, Ica dan Fikri saling pandang kembali.
"Terserah kamu aja sayang," Fikri mengusap lembut kepala Ica.
"Nginep boleh mas?"
"Boleh,"
"Tapi Aisyah?" tanya Ica yang merasa tidak enak pada adik iparnya.
"Isyah pulang aja deh kak, ibu kasian sendiri di rumah," balas Isyah.
"Abang anterin?"
"Gak usah kak, Isyah naik taksi atau ojek online aja,"
"Gak papa emang?"
"Gak papa lah kak,"
"Yaudah hati-hati kalo gitu," Fikri mewanti-wanti Aisyah.
"Siap bos,"
"Yaudah kak Nisa, tante, kak Ica, bang Fik. Isyah pamit pulang dulu ya," pamit Isyah.
"Iya, hati-hati Syah,"
"Hati-hati,"
Aisyah menciumi punggung tangan Aminah, Nisa, Ica dan terakhir Fikri. Ica mengantarkan Aisyah hingga depan, setelah mendapat taksi lewat Aisyah mulai menaiki taksi. Dan Ica kembali ke dalam rumah.
Semoga sehat slalu ya:)
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
सामान्य साहित्य17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
