Chapter 54

79 1 0
                                        

....

Fikri acuh mendengar ringisan kecil dari Ica. "Pasti boong ah." pikir Fikri.

Ica masih memegang perut nya kuat dengan terus berjalan menuju kamar mandi.

"Ish, kok mas Fikri acuh sih," lirih Ica.

Saat hendak membukakan pintu kamar mandi, tiba-tiba pintu itu seperti berputar, kepala Ica berkunang-kunang. Bayangan-bayangan saat kecelakaan tempo hari terlihat jelas dipikiran Ica.

Ica tak tahan menguatkan badannya yang mau ambruk, ia terjatuh pingsan dan ambruk ke bawah.

Fikri yang mendengar gebrukan dari belakangnya langsung membalikan badan.

"Astagfirullah, Ica!"

Secepat kilat Fikri berlari dan membopong Ica hingga Ica dibaringkan diranjang.

"Sayang, kamu kenapa?" Fikri mengelus lembut pipi Ica.

***

Perlahan netra bulat milik Ica terbuka, ia mengedarkan pandangannya kepenjuru kamar.

Fikri, pria itu yang pertama kali dilihat oleh Ica. Fikri tengah memengang tangan Ica erat, sesekali ia kecup.

Ica yang melihat itu tersenyum. "Kirain beneran acuh, hihi." ucapnya dalam hati.

Fikri belum melihat Ica sadar, ia malah asyik menggenggam tangan Ica.

"M--mas," lirih Ica.

Fikri yang mendengar lirihan seseorang langsung mengangkatkan kepalanya melihat sang istrinya.

"Sayang, Ada yang sakit? Mana yang sakit? Aku periksa ya."tanya Fikri dengan wajah khawatir.

Ica tersenyum manis dengan menampakan gigi rapinya, ia berkata. "Ish, aku gapapa kok."

"Gapapa gimana, tadi kamu pingsan bikin aku khawatir tau. Ish!" ketus Fikri.

"Aku kira kamu ngeprank aku." lanjut Fikri.

"Hahaha, yakali ngeprank. Buat apaan, coba?"

"Kali aja caper," tuduh Fikri acuh.

Mendengar ucapan Fikri, Ica mencubit keras tangan Fikri. "Ihhh!"

"Aw! Aw! Sakit, Sayangg." ringis Fikri mengusap-usapkan tangannya.

"Tuduhan yang tidak bermutu!" tekan Ica memutarkan bola matanya.

"KDRT, ih!" tekan Fikri.

"Kdrt, kdrt! Emang aku apain kamu? Dicubit sedikit aja risih, bilang kdrt. Le--," ucapan Ica terpotong saat telunjuk Fikri menyentuh bibirnya.

"Sstt! Ngomong mulu, istirahat gih." titah Fikri.

"Gak!"

"Eh, ngebantah yah. Aku cium baru tau rasa kamu."

"Apaan sih!"

Ica bangun dari tidurnya, dan bergegas turun dari ranjang, tapi. "Eitt ... eit ... mau kemana kamu?" cegah Fikri memengang pergelangan tangan Ica.

"Ih lepas. Aku mau shalat dulu," ucap Ica.

"Oh yaudah, gih." jawab Fikri melepaskan cekalannya.

"Kamu udah?" tanya Ica berbalik ke arah Fikri.

"Ya udahlah,"

"Yaudah bagus."

Ica melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.

"Aww!" ringis Ica memengang perutnya.

Fikri yang mendengar ringisan Ica langsung loncat dari ranjang dan berlari ke arah Ica.

"Kamu gapapa, Sayang?" tanya Fikri khawatir.

"PRANK! Hahahaha," Ica berlari secepat rayhan yang punya sepatu super Ica berlari ke kamar mandi.

"ICAAAAAA!" teriak Fikri.

"Hahahaha, apaan sih. Kangen?" tanya Ica didalam kamar mandi, dengan tawa yang memecah.

Menit berikutnya Ica keluar dari kamar mandi, tak ada basah sama sekali di wajah, kaki dan tanggannya Ica. Dan dengan wajah menunduk.

Fikri yang merasa heran dengan wajah Ica yang menunduk, langsung bertanya. "Kenapa? Tadi ketawa-ketawa, sekarang kek gitu. Sakit?"

Ica menatap sinis suaminya, ia segera bergegas ke arah lemari dan membawa keperluannya, kemudian ia kembali lagi masuk ke kamar mandi.

....

Ehem, mon maaf mkin gaje. Krna di otak cuma ini ajaa :v

Cinta Sang Dokter (Slow Up)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang