____
Hari sudah semakin siang, dan hari ini mas Fikri tidak bekerja. Ya sebab aku gak mau jauh dari mas Fikri, hehe.
Dan begitupun aku, aku juga tidak masuk ngajar karna kepala pening dan slalu ingin muntah jika ada bau-bau farpum atau nasi.
Siang ini, aku dan mas Fikri tengah duduk dikursi balkon. Setelah tadi sarapan selesai, aku dan mas Fikri kembali ke kamar.
Dan kini, kami sedang menikmati kue bolu yang semalem mas Fikri cari-cari ke ujung kota. Maafin istrimu ini mas telah menyusahkan kamu.
"Mas,"
"Hemm," balas mas Fikri yang masih melihat langit biru diatas sana.
"Mas ihhh."
"Apa sayang?" jawab mas Fikri melihat padaku.
"Tau gak?"
"Gak,"
"Ihh kan belum dikasih tau,"
"Nah, tuh tau,"
"Makannya dengerin dulu ih."
"Yaudah apaan?"
"Em... apaya?"
"Loh kok balik nanya?"
"Gak tau,"
"Kamu sakit sayang? Aku periksa ya?"
"Gak."
"Aaaa nih," mas Fikri menyodorkan potongan kue bolu.
"Gak!"
"Aaa dong, pengel nih,"
"Gak mau ih, maksa deh."
"Yaudah," mas Fikri mencoret pipiku dengan krim kue.
Aku langsung menatap tajam mas Fikri, mas Fikri yang ditatap olehku langsung cengir-cengiran tak jelas. Dasar aneh!
"Gak segaja hehe," ucap mas Fikri cengegesan.
"Sini deh mas," ucapku manis, mas Fikri langsung mendekat kearahku.
"Apa?"
Tanpa mas Fikri tau, tangan ini mencoel krim kue diatas meja, dan...
Srettttt
Tepat sasaran, aku memoles wajah nya dengan berbentuk panjang. Bhaha tau rasa kau.
"Ups, gak sengaja," ucap ku mengacungkan jari berbentuk V seraya tersenyum nyengir (menampakan gigi lah pokonya mh:v)
"Awas kamu yaaa," dengan cepat aku berlari ke dalam kamar, setelah mas Fikri mempunyai senjata untuk membalas, ia mengejar.
Kami saling kejar-kejaran sampai selimut, bantal, guling, bantal sofa amburadul gak tau tempat.
Tiba-tiba aku merasakan pening, pening sekali. Akhirnya aku berhenti dari acara lari-larin, dan mas Fikri langsung menakap ku dari belakang seraya menyoret wajahku dengan krim ditangannya.
Aku memengangi kepala yang pening ini, seraya memejamkan mata.
"Sayang?"
"Kamu kenapa?" ucap mas Fikri membalikan badanku kearah nya.
Aku hanya membalas dengan geleng-geleng kepala, dengan mata yang masih terpejam juga tangan yang masih memengangi kepala.
"Kamu istirahat aja ya?"
Aku yang masih merasakan pening yang tinggal sedikit lagi, langsung berlari kekamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang tadi pagi dimakan, lagi dan lagi hanya air bening yang terbuang kewastapel. Mungkin ini awal hamil ya?
Mas Fikri masuk ke dalam kamar mandi yang tidak dikunci olehku, seraya memijit pelan punggung ku.
"Pusing lagi?" aku hanya membalas dengan mengagukan kepala.
"Kamu istrihat ya?" lagi, aku membalas dengan mengagukan kepala.
Mas Fikri mulai memapahku untuk sampai ke ranjang. Setelah sampai, ia mulai membaringkanku dengan hati-hati.
"Mas ambilin minum dulu ya?"
"Iya,"
"Kamu istirahat dulu,"
"Iyah mas."
____
😘
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
Ficção Geral17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
