Chapter 50

98 2 0
                                        

Setelah membeli buah apel, kedua insan itu kembali melanjutkan perjalanan mereka. Mobil yang mereka naiki kini, tengah berjejer dijalan raya. Karna memang hari ini jalan raya cukup macet.

Jam yang melingkar dipergelangan tangan mereka masih menunjukan pukul tiga, ntahlah kenapa didepan sana macet.

Sedikit demi sedikit mobil putih itu melaju.

"Huftt, gerah," keluh wanita itu mengibaskan kerudungnya.

Pria yang tengah menyetir itu sedikit membukakan celah kaca, untuk udara masuk.

"Sayang, mau minum gak?" tanya pria itu melirik ke arah wanitanya.

"Tapi kan gak ada yang jualan Mas," balasnya.

"Itu ada," pria itu menunjukan pria setengah baya yang tengah menawarkan makanan dan minumannya ke para pengemudi.

Memang, macet ini terjadi karna rambu lalu lintas. Tak hanya itu, ada beberapa kendala yang memang telah terjadi di depan sana. Ntah itu kecelakaan ataupun kendaraan tengah parkir, entahlah.

"Oh iya, boleh."

Tanpa perintah pun pria setengah baya yang memengang minuman juga menggantungkan dagangannya di leher itu mendekat ke arah mobil kedua insan itu.

Fikri dan Alisya. ya, kedua insan itu adalah mereka.

"Minuman, Den?" tanyanya tersenyum.

"Boleh, mau apa kamu Sayang?" Fikri melirik ke arah wanitanya, Alisya.

"Em ... nutribus (eh slh nulis y?) aja, Mas." balas Ica.

"Nutribus sama air aqua saja, Pak." ucap Fikri pada pedangang itu.

Pria itu menyodorkan 2 minuman ke arah Fikri, dan diterima dengan senang hati oleh Fikri.

"Berapa, Pak?" tanya Fikri.

"Eh, Mas. Ica mau kue itu deh," tunjuk Ica ke arah kue bolu yang dibungkus.

"Ini, Neng?" pria itu menunjukan kue yang dimaksud oleh Ica.

"Iya, Pak. Iya," jawab Ica dengan mengagukan kepalanya.

"Mau berapa?"

"Em, 2 aja Pak,"

Setelah membayar, pedangan itu kembali berkeliling. Dan mobil putih milik Fikri kembali melaju, karna macet telah berlalu.

Dengan tenang Ica memakan kue yang tadi ia beli, sesekali ia menyuapi suaminya.

***

Setelah menempuh perjalanan yang cukup membuat bosen, akhirnya kedua insan itu telah sampai di rumah Sahal, Ayah Ica sekaligus Ayah mertua Fikri.

Mendengar deru mobil, anggota keluarga Ica telah berada di depan rumah. Karna tadi orang tua Ica telah sampai lebih dulu.

Setelah keluar dari mobil, Ica celinguk kanan, celinguk kiri. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh halaman rumah.

"Ini rumah Mamah, Mas?" tanya Ica tak mengalihkan pandangannya dari halaman indah, yang tertanam bunga yang berbeda-beda.

"Iya, Sayang," jawab Fikri tersenyum.

"Yuk, kesana. Tuh keluarga kamu udah nungguin," tunjuk Fikri ke arah anggota keluarga Alfarizi yang memang sudah berdiri didepan rumah, dengan lengkungan indah di bibir mereka.

Kedua insan itu berjalan beriringan, tak lupa Fikri mengandeng mesra sang istrinya. Macam pengantin baru aje yekan.

Ia dan suaminya disambut hangat oleh kedua orang tuanya juga dua kakak dan keponakan gantengnya.

"Selamat dateng, Adek tersayang," ucap Nisa memeluk erat sang adiknya.

Ica tak membiarkan tangannya diam saja, ia membalas pelukan Nisa dengan erat.

"Makasih, Kak."

Setelah selesai berpelukan dengan sang Kakak, kini giliran Mamah, dan Ayah Ica yang bergantian memeluk putri kesayangan mereka.

***

Setelah puas dengan acara peluk-pelukan juga sambutan manis keluarga Alfarizi, kini seluruh anggota keluarga itu tengah berada di meja makan.

Para istri mereka tengah menata makanan demi makanan.

Ikan bakar, sayur sop, kerupuk, balado telur, rendang, tak lupa nasi pun telah tertata rapi di meja makan.

Dengan senang hati para istri mereka menyajikan makanannya, sesekali mereka menanyakan lauk yang diinginnya suami mereka.

"Ini, Mas." ucap Ica menyodorkan piring yang telah terisi nasi juga lauknya.

"Makasi, Sayang." Ica membalas dengan mengagukan kepalanya juga tersenyum.

Kini giliran para wanita itu yang menyajikan makanan untuk mereka sendiri.

***

Jam dinding yang terdapat di dinding telah menunjukan pukul 8 malam, setelah acara makan malam usai, dan nobar selesai.

Fikri dan Ica kembali ke kamar, karna Ica harus istirahat, dan banyak istirahat.






Uuuuu mksi setia sma crita aku:)

Cinta Sang Dokter (Slow Up)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang