⚠17+⚠
Ica telah berbaring disamping Ara, tubuh wanita itu menghadap arah lain. Ia malu pada suaminya saat kejadian tadi, pipi wanita itu berubah bak seperti udang rebus.
"Balik sini dong, Sayang." pinta Fikri pada Ica, Ica tak menghiraukannya wanita itu masih senyum-senyum sendiri bak seperti orang setengah.
Fikri bangkit dari rebahannya, ia menggeserkan Ara ke tempatnya setelah sisi kirinya dihalang oleh guling, pria itu mendekat ke arah Ica dan langsung memeluk erat tubuh wanita itu.
Ica yang tengah senyum-senyum membulatkan netranya, ia kaget dengan apa yang di lakukan sang suami.
"Main, yuk!" bisik Fikri ditelinga Ica.
Ica langsung membalikan badannya menghadap Fikri, wajah keduanya sungguh dekat, sekitar satu jengkal wajah mereka beradu.
Alis milik wanita itu naik, seolah-olah ia bertanya 'apa maksudnya?'. Fikri yang mengerti memajukan wajahnya hingga dileher Ica, pria itu sangat nyaman jika kepalanya berada tepat ditengkuk leher Ica.
"Ayo!" Ica semakin menaikan alisnya, wanita itu tak mengerti apa maksud dari suaminya.
"Geliii!" Ica menjauhkan lehernya dari kepala Fikri yang dikelilingi rambutnya.
"Ayo, main." ajak lagi Fikri pada Ica.
"Main apaan coba?" Ica menatap suaminya dengan heran, pria itu menjilat-jilati bibirnya sendiri dan maksudnya apa?
"Pura-pura gak tau, apa so polos." goda Fikri mencuil hidung Ica.
"Emang gak tau kok!" sewot Ica dengan memutar bola matanya.
Fikri menatap dalam Ica, netra pria itu tak berkedip sama sekali ditambah pria itu masih saja menjilat-jilat bibirnya sendiri. Entah apa maksudnya.
"Kenapa jilat bibir kaya gitu? Bibirnya kering?" tanya Ica semakin heran pada tingkah suaminya yang satu ini.
Tak ada jawaban dari Fikri, pria itu masih saja menatap Ica dengan serius. Dan Ica? Wanita itu menggaruk-ngaruk kepala yang tak gatal.
"Main disini, ayo!" Fikri menepuk-nepuk ranjang putih itu tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.
"Main ranjang? Apaan sih!" tanya Ica dengan polos menatap suaminya yang tengah menatapnya.
Fikri tak membalas ucapan Ica, pria itu menarik Ica kedalam pelukannya dan melumat bibir pink Ica, hingga membuat sang empu membulatkan matanya saking kagetnya.
"Euugh ... euughh!" Ica mencoba melepaskan ciuman bak maut itu, tapi nihil wanita itu tak bisa. Dak akhirnya menikmatinya.
Fikri melepaskan ciumannya, pria itu menatap nakal Ica, salah satu matanya berkedip-kedip.
"Haish! Gak kasih aba-aba, kaget aku." omel Ica pada suaminya.
"Orang tadi dikasih kode kok, kamu sih gak ngerti-ngerti," balas Fikri.
"Lagi?" tanya Fikri dengan menatap tubuh Ica dari bawah hingga atas.
"Ada Ara disini, Mas!" omel Ica, Fikri menepuk jidatnya ia lupa dengan keberadaan putrinya yang tengah tidur disampingnya.
"Pindah kamar samping, ya?"
Tanpa ba bi bu Fikri bangkit dari rebahannya dan mengangkat Ica ala-ala di film, dan secepat mungkin pria itu melangkahkan kakinya menuju kamar samping.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka telah sampai dikamar samping. Dan dengan sangat hati-hati Fikri merebahkan tubuh Ica diranjang putih berukuran sedang itu.
Fikri mematikan lampu utama kamar dan menyalakan lampu tidur, pria itu sudah dilanda nafsu dan secepat kilat pria itu loncat naik ranjang dannnn entah apa terjadi.
Bersambung ...
Tinggalkan jejak! 😭
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
Fiksi Umum17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
