"Makasih, Mas." ucap Ica, mereka masih dalam keadaan berpelukan.
"Untuk apa, Sayang?" Fikri melepaskan pelukannya, ia menatap istrinya dengan lembut.
"Semuanya."
"Semuanya?" ulang Fikri dengan menaikan alis.
"Iya, semuanya. Mas udah setia sama Ica, pokonya semua-semuanyaaaa." jelas Ica dengan memeluk Fikri.
Dengan perlahan tangan Fikri mengelus lembut puncak kepala Ica, lalu ia kecup dengan lembut. "Sayang ... setia itu udah jadi prinsip dan tanggung jawab aku, kamu tau? Kamu wanita yang sangat aku cintai setelah Ibuku, dan asal kamu tau sekian banyak wanita cantik diluar sana tapi, entahlah hati ini cintanya sama kamu." jelas Fikri, tak luput lengkungan indah di bibirnya pun terlihat.
Entah sejak kapan semburat warna pink itu muncul dipipi Ica, wanita itu senang, sangat senang.
"Jika Ica tak bisa lagi menjadi Ibu dari darah danging Mas, apa Mas bakal ning--."
Ucapan Ica terhenti saat telunjuk Fikri menyentuh bibir Ica. Dengan sayang Fikri kembali mengelus puncak kepala Ica. "Gak dan gak akan pernah, kamu itu adalah pelangi yang Tuhan kasih. Kamu itu permata yang pantas dijaga, dan kamu adalah hidup dan matiku. Jika aku ninggalin kamu, maka aku matikan? Jadi berhentilah bicara yang memang tak pantas dibicarakan. Aku sayang kamu dari segalanya, apapun kekurangan kamu kelak aku bakal setia sama kamu." jelas Fikri dengan panjang lebar dan menunjukan senyum termanisnya.
Ica sungguh terharu dengan apa yang di ucapkan Fikri, tanpa sadari setetes air matanya jatuh dari kelompak matanya.
Fikri yang tersadar dengan cepat mengusap air mata sang wanita tercintanya. "Ini nih yang paling aku gak suka dari kamu." ucap Fikri.
"Pipi aku? Kenapa? gendut, ya? Atau ada jerawat?" tanya Ica dengan meraba-raba pipinya dengan wajah panik
"Bukan, ini nih." jawab Fikri menunjukan air yang berada ditelunjuknya.
"Setetes air mata kamu itu adalah senjata tertajam bagi aku, jadi jangan pernah lagi nunjukin ini ya, jiwa aku rasanya sakit."
Ica tak membalas ucapan Fikri, ia kembali memeluk tubuh Fikri dengan sangat erat.
***
Jam dinding menunjukan pukul enam pagi, seperti biasa keluarga Aj-jaya tengah melaksanakan sarapan pagi.
Dengan gesit para istri itu menyiapkan makanan untuk sang suaminya, tak lupa Ica pun menyiapkan makanan untuk anak kesayangannya.
"Bunda, Ara gak mau pake sayur." ucap gadis kecil saat melihat sang Bundanya akan menuangkan sayur sup kedalam piring.
"Loh Sayang, kenapa? Kan sayur sehat, apalagi kamu. Masih masa pertumbuhan," ucap Ibu mertua Ica, Dewi.
"Gak mau, Oma. Ara mau sama ikan aja," jawabnya tersenyum dengan menampakan gigi rapinya.
Dewi tersenyum, ia kata. "Yaudah, tapi makan yang banyak, ya."
"Siap, Oma."
***
Hari ini hari minggu, dan hari ini adalah hari free bagi Fikri untuk tidak pergi ke rumah sakit.
Setelah berdiskusi dengan sang istri juga gadis kecilnya, mereka bertiga berencana akan pergi jalan-jalan ke taman bermain.
Setelah selesai makan tadi, Fikri telah mengabari kepada keluarga Aj-jaya, dan tentu ke keluarga Al-farizi juga bahwa Ica telah pulih dari amnesianya. Reaksi mereka? Tentu mereka sangat bahagia, bagaimana tidak? Ica kini telah benar-benar pulih dari rasa pusingnya dan sembuh total.
Jam dinding masih menunjukan pukul delapan pagi, tinggal setengah jam lagi keluarga kecil Fikri akan berangkat ke taman bermain dikampung sebelah.
Ica tengah mengurus gadis kecilnya dikamar mandi, Ara tengah mandi untuk bersiap-siap akan pergi ke tempat tujuan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
Fiction générale17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
