"Sayang kamu gak papa?" tanya wanita yang memeluk ku, perlahan ia melepaskan pelukannya dariku, dan sama halnya denganku.
'Siapa dia? Kenapa dia manggil aku sayang? Dan kenapa tadi saat berada di pelukannya rasanya nyaman sekali,' ungkap ku dalam hati, aku bingung sangat bingung. Apa ia ibu ku?
"Sayang?" panggil wanita paruh baya yang memakai jilbab berwarna coklat itu membuyarkan pertanyaan demi pertanyaan di benakku.
'Kenapa ibu itu juga panggil aku sayang? Siapa mereka, siapa?' aku binggung sendiri, banyak sekali pertanyaan di dalam benak ini. Mau tanya tapi takut, entah takutnya apa, Rasanya takut sekali.
"Sayang? Ca?" panggil seseorang di samping ku membunyarkan lagi lamunanku.
Ku lirik pria di samping ku, siapa lagi dia? Kenapa para pria dan wanita paruh baya itu memanggil aku sayang kenapa?
Ku coba fokus memikirkan sesuatu yang mungkin masih nyempil di otak ini tanpa memperdulian mereka memanggilku.
Semakin lama aku fokus memikirkan hal-hal yang bersangkutan dengan mereka di depanku, semakin sakit kepalaku.
Aku mencoba menahan rasa sakit ini tanpa menunjukan kepada mereka. Tak tahan dengan sakit di kepalaku, ku pegang keras kepala ini.
"Aw!" ringisku dengan memengang kuat kepala.
"Ca, Ca?" panggil seseorang.
Perlahan ada seseorang yang mencoba membaringkan ku, entahlah itu siapa. Aku tak membukakan kelopak mataku, karna pening ini masih terasa sakit.
Setelah seorang dokter memeriksaku, aku mulai membukakan kelopak mataku. Dan kini pening di kepalaku sudah mereda.
Setelah mata ini melihat dengan normal kembali aku melihat orang di sekeliling ku menunjukan khawatir, banyak sekali pertanyaan di dalam pikiran ini.
Ku lirik dokter pria yang katanya suamiku. "Mereka siapa dokter?" tanyaku dengan mata yang melihat kearah ke mereka.
"Mereka?" aku langsung mengangukan kepala.
"Keluarga mu sayang. ini orang tua mu, ini mertua mu, itu kakak mu dan yang itu adik iparmu," jelas dokter itu dengan memperkenalkan satu persatu siapa orang di depan ku.
"Mamah?!"
"Iya sayang ini mamah," lagi, wanita paruh baya itu memeluk ku erat. Ku balas pelukannya, seperti telah lama aku berpisah dengannya. Rasanya sangat rindu, kedua kalinya aku merasakan nyaman di hati ini. Dan berarti memang benar dia mamah kandungku.
"Mamah rindu kamu Ca, kamu kenapa bikin mamah khawatir heum?" mamah, dia perlahan melepaskan pelukannya.
"Ca? Siapa Ca? Dan aku bikin khawatir mamah? Aku kenapa?" tanya ku kembali heran, siapa Ca? Apa namaku? Dan kenapa mamah bilang aku membuatnya khawarir?
"Nama kamu Alisya, tapi sering dipanggil Ica. Kamu .. kamu kecelakaan sayang, hiks ...," jelas mamah, ia menangis? Kenapa? Aku kecelakaan karna apa? Kenapa aku tak ingat kalau aku kecelakaan?
Ketiga kalinya, mamah kembali memeluk ku erat. Kali ini jauh lebih erat dari sebelumnya.
Masih betah gak? Apa udah bosen?
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
Tiểu Thuyết Chung17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
