dua puluh tiga

549 27 0
                                        

Tak terasa semua teman-teman mereka sudah pergi, dan sebentar lagi mereka juga akan pergi. Fatur tak ingin jika anak-anaknya besok tidak masuk sekolah.

Aldo segera memberikan dua batang cokelat kepada Anita dan mengelus kepala adik nya yang kecil. Bagaimana pun ia menutupi, tapi kebenarannya bahwa Anita adalah adiknya juga, meskipun berbeda ayah.

"Makasih kak." ucap Anita.

"Jangan nakal ya disini, nurut sama tante Lusi." ucap Aldo.

"Kakak mau kemana? Anita ikut." pinta Anita.

Lagi-lagi Aldo menjongkok, ia tersenyum. "Kakak mau pulang kerumah kakak, Anita gak bisa ikut." ucap Aldo.

"Tapi kakak akan kesini lagi kan?" tanya Anita.

"Kakak usahain."

Aldo segera berdiri dan meninggalkan Anita didalam kamar. Aldo masuk kedalam mobil papa nya.

"Gak ada yang ketinggalan?" tanya Fatur.

Fatur sama sekali tak mendengar jawaban dari ketiga anaknya. Ia menganggap tidak ada jawaban berarti iya. Fatur segera melajukan mobilnya.

••

"Sedih sama nangis itu boleh, papa gak akan ngelarang. Tapi jangan berlebihan kayak gini, papa gak suka." ucap Fatur sambil mengusap air mata Nadia.

"Tapi pa...." Fatur menggelengkan kepala. "Gak ada tapi-tapian, ikhlasin mama. Jangan nangis, ini malah buat mama sedih nantinya." ucap Fatur.

"Jangan nangis lagi, sekarang kamu tidur. Besok kamu harus sekolah, papa gak mau dengar alasan kamu sampai gak kesekolah." ucap Fatur.

Ia menyelimuti tubuh Nadia, memberikan kecupan kening. Lalu pergi dari kamar itu.

••

Semua sarapan di meja makan, namun satu sama lain tak ada pembicaraan diatas meja. Semua nampak fokus pada sarapan masing-masing. Setelah selesia makan, ketiga anaknya segera berdiri.

"Pa, Aldo bernagkat." ucap Aldo berpamitan dengan papa nya.

"Nicko berangkat."

Begitu juga Nadia.

"Nadia, berangkat sekolah juga."

Mereka bertiga masuk kedalam mobil yang sama, yaitu mobil Aldo. Aldo yang menyetir. Sekitar lima belas menit, mobil itu sudah berada diparkiran sekolah. Mereka bertiga juga melangkah masuk kearea sekolah.

"Turut berduka cita ya."

Ucap seseorang saat tak sengaja mereka temui, dan tentu saja beberapa dari murid yang mereka temui menatap datar. Nadia harus berpisah dengan kedua kakaknya, ia segera masuk kedalam kelas.

"Lo masuk? Gue kira mungkin besok lo masuk." ceplos Keysia.

"Papa gue nyuruh biar gue harus masuk sekarang." ucap Nadia dengan nada malas.

"Nad, gue turut berduka cita atas kepergian nyokap lo. Gue kemarin gak bisa ikut yang lainnya." ucap Riko.

"Iya, gapapa kok."

••

"Nadia, kenapa gak dari awal kamu bilang jujur kalau kamu itu adik nya Aldo dan Nicko? Ini namanya bohong" celetuk Syakir.

"Bohong kakak bilang? Aku sama sekali gak bohong. Lagian gak ada yang tanya, ya apa harus aku bilang kesemua." ucap Nadia tak bersemangat.

"Setidaknya ada salah satu dari anggota osis yang tau tentang ini." ucap Syakir.

"Ada kok, dari awal kak Noval tau. Tapi aku minta agar kak Syakir gak bertanya lagi." ucap Nadia, lalu berjalan pergi.

Nadia langsung berjalan menuju mobil, ia mendapati kedua kakaknya dimobil. Tentu rasa duka masih menyelimuti mereka.

"Langsung pulang kak." ucap Nadia.

"Gak, kita mampir ke rumah nenek dulu." ucap Aldo.

"Ngapain kerumah nenek?" tanya Nicko.

Aldo memiringkan duduknya agar juga bisa melihat Nadia yang duduk dibelakang.

"Kita mampiri Anita." ucap Aldo.

Aldo dapat melihat reaksi tak setuju dari Nadia maupun Nicko. "Ngapain sih kak." sahut Nadia.

"Langsung pulang aja deh." sahut Nicko juga.

"Kalian ini kenapa sih, Anita itu juga adik kita. Apa salahnya nengok kerumah nenek." ucap Aldo.

Nadia membuka pintu mobil itu, posisi nya masih duduk didalam mobil.

"Kalau kak Al mau nengok Anita, Nadia pulang sendiri naik taksi aja." ucap Nadia.

Perempuan itu turun dari mobil, dan menutup pintu mobil itu. Lalu berjalan keluar area sekolah, untuk mencari taksi atau transportasi lain yang bisa membawanya pulang. Disisi lain Nicko juga ikut turun dari mobil.

"Kalau lo ingin jenguk Anita, jenguk aja. Gue mau ngejar Nadia, sekalian gue pulang bareng Nadia." ucap Nicko.

Nicko segera mengejar Nadia dengan berlari. Bagaimana pun pasti sekarang pikiran Nadia sangat kacau, termasuk dirinya.

"Nad!"

Nicko berhasil meraih pergelangan tangan Nadia, perempuan itu sontak berhenti dan menatap kearah Nicko.

"Kakak ikut." ucap Nicko.

••

Aldo menghembuskan nafas beratnya, sebelum turun dari mobil. Ia segera turun dari mobil, dengan sebatang coklat ditangannya. Aldo langsung masuk kedalam rumah itu, dan mendapati tante nya beserta Anita yang sedang bermain dengan tante nya.

"Hei Anita." sapa Aldo.

Lusi maupun Anita menoleh kearahnya, tercetak senyum kecil diwajah mungil Anita. Adik kecilnya berdiri dan berlari menuju nya, lalu memeluk nya. Aldo tanpa basa basi membalas pelukan itu.

"Lo kamu udah pulang sekolah Al?" tanya Lusi.

"Udah tante." jawab Aldo.

"Kamu sendirian atau sama Nadia dan Nicko?" tanya Lusi lagi.

"Sendirian. Nadia sama Nicko gak suka dengan keberadaan Anita, jadi Aldo kesini sendiri." ucap Aldo.

Lusi memahami maksud ucapan keponakannya, itu hal wajar bukan?

"Ini buat Anita, tapi kalau makan jangan belepotan ya." Aldo menyodorkan coklat itu pada Anita.

"Makasih kak. Em nama kakak siapa? Anita lupa." ucap Anita.

"Panggil kak Al, oke." ucap Aldo.

"Oke"

••

Mereka berdua turun dari angkot bergantian. Nicko lah yang membayar ongkos angkot itu. Mereka masih harus berjalan beberapa meter lagi agar bisa sampai dirumah.

"Capek?"

Nadia hanya menatap Nicko atas pertanyaan kakaknya barusan.

"Lumayan" sahutnya.

••

My Brother Twins - [ E N D ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang