empat puluh enam

319 22 0
                                        

Hapyy reading guys 📖📖


Kebahagiaan itu hanya sesaat, ketika ia berada dirumah dan berpisah dengan kakaknya. Hatinya kembali berkabung.

Tanpa ia sadari, kini ia posisi duduk sambil tangannya saling memegang lutut. Kepalanya menunduk. Pertama Riko yang membuat hatinya hancur, kini... Entahlah.

"Gue bego! Bego! Bisa-bisanya dua kali ngerasa gini!"

"Gue ngerasa jadi mainan tau enggak"

"Bodoh!"

Begitu banyak makian terhadap dirinya sendiri, dengan air mata yang terus menetes.

Tissue dimana-mana, kamar berantakan sekali. Ia mencoba bangkit dan berjalan mendekati lemari dan membuka laci lemari tersebut. Disana ada sebuah gunting kecil, tapi sangat tajam. Selintas dalam pikirannya untuk menggunakan gunting itu menggores pergelangan tangannya.

Sampailah ia memegang gunting tersebut, ia mengarahkan kearah pergelangan tangannya dengan tangan gemetar. Gunting itu sudah menggores kecil pergelangan tangan Nadia.

Tok..tok..tok

"Aa"

Nadia menjatuhkan gunting tersebut hingga jatuh ke lantai, ia melihat sebuah darah keluar dari goresan tersebut, tidak terlalu banyak tapi itu cukup membuat darahnya sampai menetes ke lantai.

Ia mengusap air mata nya itu, dan berjalan kearah pintu. Ia membuka kunci pintu, lalu membuka pintunya. Nicko yang berada disana.

"Nadia ayo mak..." Nicko menghentikan ucapannya, ketika Nadia saat itu juga langsung memeluknya.

Air mata nya menetes untuk kesekian kalinya. Ia tak bisa membendung lagi, padahal ia berniat bersikap baik-baik saja.

"Hei Nad, kenapa?" ucap Nicko dengan posisi Nadia masih memeluknya.

"Hmm? Babe?"

Nicko mengelus kepala adiknya itu, lalu melepaskan pelukan Nadia. Ia menghapus air mata Nadia dengan tangannya.

"Udah ya, jangan nangis dong"

Kini pandangan Nicko berganti pada kamar Nadia yang berantakan, ia dapat melihat jelas karena pintu kamar tersebut terbuka lebar.

"Hei kenapa? Bilang sama kakak" ucap Nicko.

Pandangan Nicko teralihkan lagi pada lantai disamping kakinya berdiri, sebuah darah terlihat. Ia segera mencari usulnya.

"Astaga Nadia! Kamu apa-apaan pakai gini?" ucap Nicko dengan nada syok.

Ia meraih tangan Nadia yang terdapat goresan itu, ia langsung mengajak Nadia masuk kekamar dan duduk dikasur. Sedangkan Nicko sibuk mencari tempat p3k dikamar Nadia. Setelah ia mendapat kotak p3k, ia menarik kursi dan mendekatkan kearah kasur Nadia itu.

Nadia masih menangis diposisi duduk disana, sedangkan Nicko fokus mengobatinya.

"Kenapa sampai gini? Mau bunuh diri? Kamu enggak mikirin nanti kakak tanpa kamu?" ucap Nicko penuh tekanan.

Saat selesai mengobati, Nicko merapikan kembali kotak p3k. Kini ia fokus kembali ke adik perempuannya. 

"Udah jangan nagis lagi, sekarang cerita, ini kenapa? Kalau ada masalah bilang ke kakak" ucap Nicko.

Namun Nadia tak berucap sepatah katapun. "Oke, kalau enggak cerita sekarang, gapapa" ucap Nicko pasrah dan tak juga memaksa adiknya berkata sebenarnya.

••

Kini Nadia sudah tertidur pulas dipundak Nicko, laki-laki itu membaringkan adiknya ditempat tidur tentunya. Lalu Nicko mencoba membereskan kamar Nadia yang berantakan seperti itu, meskipun pasti tidak beres semuanya.

"Nadia ada masalah apa coba? Sampai kayak gini." gumam Nicko.

Ia mengambil ponsel Nadia dan melihat isinya, mungkin ada sesuatu yang ada berkaitan. Namun, ia tak menemukan keanehan yang ada di chat grup adiknya.

"Terus kenapa?"

Ini sekarang yang membuat Nicko bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang masalah yang dihadapi adik tercintanya itu.

••



Gimana nih, kalian dapet feel nya atau enggak? Menyedihkan, siapa yang pernah berfikiran seperti ini? Saya harap kalian tidak melakukan hal bodoh dengan bunuh diri ya, apa kalian enggak mikirin keluarga atau temen dekat kalian saat tau kalian meninggal dengan bunuh diri.

Ini hanya cerita, so jangan ditiru oke ^•^



Follow Instagram
@triantifitri23
@trianti_nur_safitri
@trianti_tik


Account Snapchat
triantifitri


Sehat selalu dimasa pandemi ini

My Brother Twins - [ E N D ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang