Ninuninuninu
🚑🚑🚑
••
"Satu....dua....ti...ga"
Hitungnya, tepat kata tiga, semua berenang dengan cepat. Nadia yang bertugas sebagai pengawas, ia mengawasi semua yang berenang saat ini. Perkiraan nya yang akan memenangkan renang ini yaitu Noval, karena saat ini dipantau nya, Noval berada paling depan.
Tapi perkiraan nya segera dihapuskan karena sekarang Riski lah yang berada diposisi pertama, dan sampai akhir.
"Yey menang gue." sorak Riski kegirangan.
"Tadi harusnya gue sih, tapi gue ngalah aja." ceplos Noval.
"Kalah mah kalah aja tai" sahut Riski.
"Debat mulu, mending cepet ganti, ntar makan bareng." ceplos Aldo sekaligus menghentikan perdebatan itu.
Setelah semua berganti pakaian, kini berada di meja makan. Sudah terdapat makanan serta minuman diatas meja makan tersebut. Posisi duduk mereka yakni. Nadia, Nicko, Aldo berada di deretan kanan, sedangkan Noval, Aril, Rizki berada di deretan kiri.
"Nanti kak Nicko keluar juga?" bisik Nadia.
"Iya, kenapa?" Balasnya.
Acara bisik-bisik itu ketauan oleh Rizki, laki-laki itu menatap dengan curiga.
"Apa? lihat-lihat." ceplos Nadia dengan ketus ke teman kakaknya itu.
"Bisik-bisik apa hayo." ucap Rizki dengan jail.
"Kepo." sahut Nadia.
Nadia segera menghentikan perkataannya, disadari olehnya kini ia dan Rizki menjadi pusat perhatian dari semua, terutama Noval. Noval yang memang posisi nya berada berhadapan di sebrang nya, kini sudah tertawa kecil. Sedangkan Aril hanya tersenyum tipis diujung mulut. Wajahnya memanas berada di posisi itu.
"Ngeselin." gumam Nadia.
••
"Mau lagi?"
Anggukan itu menandakan iya, segera menyuapkan lagi sebuah roti kepada laki-laki itu.
"Makasih."
Kembali lagi mengetikkan kata-kata tersebut kedalam laptop tersebut, lebih tepatnya mengcopy kata-kata itu yang berasal dari buku kedalam laptop
"Maaf ngebuat nunggu kayak gini." ucap Noval.
"Iya gapapa kak." sahut Nadia dengan pelan.
Dalam ruangan ber-ac, yang kedap suara itu, hanya berisikan dua orang saja. Noval mengerjakan salah satu sebuah mata pelajaran yang diberikan tugas oleh gurunya, untuk membuat sebuah laporan proposal individu.
Sedangkan Nadia, perempuan itu menemani Noval dengan setia yang mengerjakan tugas. Hanya menemani saja, tidak membantu sama sekali. Malah Nadia menikmati memakan snack yang telah disediakan oleh Noval sebelum perempuan itu datang.
"Kak Aldo udah selesai ngerjain dari seminggu lalu, kak Noval males nih." ejek Nadia.
"Bukan males Nad, cuman nunda aja." Alasannya.
"Sama aja."
Melihat respon Nadia yang menggemaskan, Noval mencubit salah satu pipi pacarnya itu, dengan tawa kecil disertai senyum juga.
"Sakit tau." celoteh Nadia sambil memegang pipi nya yang telah dicubit Noval barusaja.
••
"Kak, aku udah pacaran sama kak Noval."
Suara itu memecah keheningan di meja makan, membuat orang yang awalnya fokus pada makanan, kini fokus pada pemilik suara itu. Hampir saja tersedak mendengar pernyataan tersebut.
"Hah? Ini gak salah denger kan." tanya Aldo pada Nicko.
"Kayaknya enggak." sahut Nicko.
"Sejak kapan?" kini pertanyaan tersebut terkhusus untuk Nadia.
"Sejak ..." hendak melengkapi kalimat tersebut, Aldo menyela ditengah ucapannya. "Kamu gak boleh sama Noval, kakak gak setuju." ceplos Aldo sedikit keras ucapannya.
"Tapi Nadia suka."
Tatapan tajam kakaknya membuat Nadia tak berani mengatakan satu kata lagi, hembusan nafas beratnya terdengar olehnya sendiri.
"Kakak enggak masalah kalau kamu sama Noval temenan, tapi kalau untuk pacaran, kakak gak setuju. Jadi mulai nanti di sekolah jauhi Noval, lupain perasaan itu, dan minta putus." ucap Aldo dengan tegas kali ini.
Saat dirasa dirinya sudah tak sanggup membendung air mata, segera pergi dari hadapan kedua kakaknya, dan masuk kedalam kamar. Tepat didalam kamar, tangis itu kini pecah, bantal guling yang awal berada diposisi atas kasur, kini ia lempar ke sudut kamar. Tepat setelah beberapa menit ia menangisi kejadian tadi, diusapnya wajah itu. Menggunakan kembali bedak pada wajah cantik itu. Meraih tas sekolah, serta kunci mobil miliknya yang berada di gantungan dekat pintu.
Langkahnya keluar kamar, melewati kamar kedua kakaknya. Tepat di depan pintu keluar, ia bertemu dengan kedua kakaknya yang seperti akan mengeluarkan mobil.
"Nah mumpung, sekalian masuk aja Nad ke mobil." ajak Nicko.
Tangan laki-laki itu sudah memegang pergelangan tangan Nadia, dengan cepat Nadia melepaskan pegangan tangan kakaknya dari pergelangan tangannya. Nicko yang menyadari penolakan dari adiknya pun paham.
"Kenapa beb?"
"Aku bawa mobil sendiri." ucap Nadia singkat dan pelan.
Setelah berkata seperti itu, segera ia berjalan masuk kedalam mobilnya, tanpa memikirkan kedua kakaknya itu.
••
"Masih pagi loh Nadia, enggak bisa di tunda ya kangen ketemu gue." ucap Noval dengan senyum manisnya.
Kini punggungnya bersandar pada tembok, mereka saling berhadap-hadapan. Noval dengan wajah disertai senyum, dan Nadia dengan wajah datar.
"Kak, kita putus ya." ucapnya dengan berat hati.
"Hah? Jangan bercanda Nad, masih pagi juga." Noval menyakinkan hal tersebut.
"Maafin Nadia ya kak Val, kayaknya sampai sini aja kita pacaran."
Senyum terpaksa terlukis indah di wajahnya, tanpa menunjukkan rasa sesaknya saat mengatakan kata itu.
Noval meraih kedua tangan Nadia, digenggamnya erat-erat. "Kenapa? Bukannya lo suka gue juga kan, terus kenapa lo bilang kata putus?" desaknya ke Nadia.
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Yeheyy
Update lagi, dari sekian lamanya😅🙏
Maap ya gess
•
•
Sampai ketemu di next cerita😉
ig : @triantifitri23
KAMU SEDANG MEMBACA
My Brother Twins - [ E N D ]
Fiksi Remaja#1-nadia #1-hubunganrumit #1-syakir END‼️ (Cerita masih lengkap) Nadia yang memiliki dua kakak laki-laki kembar, suka usil kepadapnya. Kadang ia salah mengira antara Aldo dan Nicko. Namun semua sedikit berubah, ketika kematian salah satu orang tua m...
![My Brother Twins - [ E N D ]](https://img.wattpad.com/cover/226425314-64-k495826.jpg)