tiga puluh

520 23 0
                                        

Hari ini pengumpulan barang-barang yang akan digunakan baksos besok. Semua barang dijadikan satu.

"Gue ikut kelompok siapa?" ceplos Syakir.

"Udah lo gak perlu ikut kegiatan baksos kali ini, soalnya lo kan baru aja sembuh." ucap Noval.

"Ya gak bisa gitu, gue malah ngerasa gak enak nanti. Gue ikut" ucap Syakir.

"Masuk kelompok tiga aja, kalian setuju kan?" usul Riski.

Setelah mengucap itu, Riski langsung teringat tentang Nadia yang membenci Syakir ketika Nicko kecelakaan. Ia langsung melirik kearah Nadia yang juga menatapnya lekat-lekat, saat itu juga Riski menyengirkan senyumnya.

"Kak cegah dia biar gak masuk kelompok sini" bisik Nadia pada Aldo yang duduk disampingnya.

"Oke, gue masuk kelompok sini" ucap Syakir.

Saat itu juga Nadia menyumpahi sumpah serapah pada Syakir dalam hatinya.

"Pokoknya kak Aldo jangan deket-deket" bisik Nadia lagi.

••

"Halo kakakku sayang" ucap Nadia.

Ia mendekat ke ranjang rumah sakit itu dan duduk dikursi samping ranjang.

"Udah minum obat?" tanya Nadia.

Nicko menjawab dengan gelengan kepala, Nadia segera mengambil obat Nicko yang berada diatas meja. Namun hal itu segera dicegah oleh Nicko.

"Nad, bilang ke papa dong bilangin kalau kakak mau pulang, dirumah sakit tuh gak enak." ucap Nicko.

"Tapi kak Nicko kan masih harus diperiksa dokter" ucap Nadia.

"Ayolah Nad, kakak tuh gak enak disini, lebih baik dirumah aja." bujuk Nicko.

Nadia menarik nafas panjang, dan mengambil handphone nya dari dalam tas selempangnya. Ia menekan nomer papa nya dan menyambungkan telepon.

"Ada apa sayang?" tanya Fatur ditelepon.

"Em papa sibuk atau enggak?" tanya Nadia.

"Enggak, emangnya ada apa?"

"Ini lo, kak Nicko minta pulang kerumah. Papa urus kepulangan kak Nicko ya pa." pinta Nadia.

"Lo ya gak bisa gitu sayang, kakak kamu itu masih harus dirawat dirumah sakit itu." ucap Fatur.

"Tapi kak Nicko minta pulang sekarang pa"

Sambungan telepon itu diputus oleh pihak Nadia, perempuan itu mematikan telepon tersebut dan menatap Nicko.

"Gimana?" tanya Nicko.

"Gak tau, lihat aja nanti. Kalau papa kesini kemungkinan besar bawa kak Nicko pulang, dan sebaliknya." ucap Nadia.

Nadia kembali menyodorkan obat kearah Nicko. "Oke, sekarang minum obatnya dulu." ucap Nadia.

Nicko segera membuka mulutnya, ia memasukkan obat itu kemulutnya, lalu ia meneguk air. Disitu obat tersebut ikut masuk kedalam tenggorokkannya.

"Nah gini dong kak Nicko" ucap Nadia.

••

"Em Syakir, gue minta lo jangan deket-deket sama adik gue dulu ya. Soalnya dia kali ini gak suka sama lo gara-gara kecelakaan kemarin." ucap Aldo ditelepon.

"Gak suka sama gue? Ya gue tau, pasti Nadia marah sama gue. Nicko kayak sekarang ya karena salah gue. Bilangin gue minta maaf sedalam-dalamnya ya Aldo." ucap Syakir.

"Ini bukan kesalahan lo juga, ini kecelakaan jadi semua tak bisa menghindar." ucap Aldo.

Tok..tok..tok

Sebuah ketukan pada pintu kamarnya membuat perhatiannya tertuju pada pintu yang tertutup itu.

"Yaudah Kir, gue matiin teleponnya. Kayaknya Nadia udah pulang dari rumah sakit." ucap Aldo.

Laki-laki itu mematikan telepon tersebut, ia meletakkan handphone nya di meja. Ia beranjak dari tempat tidur mengarah pintu. Saat pintu itu sudah terbuka, wanita paru baya lah yang berdiri dihadapannya.

"Oo bibi, aku pikir Nadia. Ada apa bi?" tanya Aldo.

"Em bibi cuman mau bilang kalau nak Nicko udah pulang kerumah, sekarang berada di kamarnya. Kalau begitu bibi tinggal ke dapur lagi" ucap bi Narsih, lalu pergi.

Aldo segera keluar dari kamar, dan menutup pintu kamarnya. Ia berjalan mendekat kearah kamar Nicko. Didalam kamar Nicko sudah ada papa dan Nadia termasuk Nicko sendiri.

"Lo Nicko kok udah pulang aja pa?" tanya Aldo.

"Dia yang minta sendiri, kata nya gak enak kalau dirumah sakit. Ya papa bisa apa kalau Nicko udah keras kepala kayak gitu." ucap Fatur.




••



Keras kepala? Ya itu sudah sifatnya.


Follow Instagram
@triantifitri23
@trianti_nur_safitri

My Brother Twins - [ E N D ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang