Kekurangan bahkan bisa di lengkapi, jadi tak ada alasan jika kita sendiri. Karena semuanya sudah memiliki pelengkap.
*****
Malam ini, setelah pemeriksaan dari dokter, Ara baru di perbolehkan mengobrol kembali dengan teman-temannya. Juli yang berdiri tak jauh dari dokter itu langsung membungkuk sopan ketika dokter Juan melangkah keluar. Dokter Juan yang melihat beberapa anak muda di sekelilingnya tersenyum ramah lalu pergi.
Deni yang sedang berselfie ria menepuk pundak Arga yang sedang bergumam tak jelas juga. "Sst! Bapaknya ramah ya, beda banget sama anaknya." Sisi ghibah dari laki-laki itu kini tampak mulai muncul. Walau berbisik, namun masih terdengar di telinga beberapa pasang mata yang menatap mereka.
Arga mengangguk membenarkan. Cowok itu tampak antusias saat Deni mengucapkannya. "Gue jadi ragu, kalau Warna bukan anaknya dia." Asal ngomong, sebuah pukulan keras di lengan kanannya sudah mendarat sempurna.
Arga mengaduh sakit. "Aduhh, Heh Tartar! Berani banget lo!" Tara yang di tatap hanya menatapnya galak. Mendapat tatapan seperti itu, Rafa dan Deni yang tak jauh darinya meringis kecil saat adik kelas yang tak tau aturan itu terlihat garang.
Lagi-lagi, Deni berbisik ke arah Rafa. "Mirip Kak Ros, njir."
"Mulut gak pernah di cuci ya?" tanya Tara sinis seraya melipatkan kedua tangannya.
Aluna dan Jingga yang melihat itu terkekeh kecil. Tara dengan nada yang super galak itu kini beralih menatap pada Ara yang sedang menatap mereka. Tiga perempuan itu maju untuk mendekat seraya mengulas senyum kecil. Dania dan Juli yang melihat itu ikut mendekat.
"Gue masih gak percaya, tiga ice boys suka ghibah kaya cewek-cewek," gumam Jingga heran namun pelan. Aluna yang mendengar tertawa kecil.
"Ternyata cowok kalau ghibah lebih ganas ya," balasnya berbisik dengan pikiran yang teringat ketika geng Kencana mengejeknya di dalam bus camping tentang perempuan yang suka mengghibah.
Tara yang sinis mengendikan bahu acuh. "Ngapain mikirin mereka? Kaya gak ada yang lain aja," sahutnya ketus.
Dania maju, ia tersenyum manis. "Ara, gimana keadaan lo?"
Trio Gentara yang melihat memilih diam. Mereka memilih duduk di sofa menunggu lima perempuan itu puas menjenguk sahabat mereka.
"Gue baik, besok udah boleh pulang." Ara menegakkan tubuhnya menatap mereka.
Mereka yang mendengar tersenyum. Walaupun Aluna beserta dua sahabatnya jarang mengobrol dengan Ara, mereka tampak tulus menjenguknya. Apalagi Aluna yang pernah membantunya, cewek itu terlihat niat sekali untuk menjenguknya dan menolong Ara seperti semacam tugas ekstrakurikuler basket putri. Dan Ara bersyukur melihat itu.
Setelah satu jam berlalu, dan waktu menunjukkan pukul 8 malam, karena mereka menjenguk sehabis magrib, lima perempuan itu memutuskan untuk pulang lalu berpamitan pada Ara.
Deni maju diikuti Rafa dan Arga yang sepertinya ingin bertanya lebih leluasa.
"Ra, lo kenapa bisa gini?" tanya Rafa serius. Mereka dari satu jam terakhir memilih tidur walaupun di tegur beberapa kali oleh Tara dan Jingga. Dan sekarang, kesempatan mereka untuk mengobrol dan menanyakan kondisi sahabat mereka tanpa ada campur tangan yang lain.
Ara menghela nafas lalu memijit pelipisnya seraya menyandarkan punggungnya. "Menurut lo? Gue abis ngapain abis berantem kemarin?"
Deni yang tak tahan dengan suasana keseriusan langsung mengomentari, "Rafa bego Ra! Udah tau lagi berantem, masih aja nanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
STARLA [END]
Teen FictionCerita : TAMAT (Part masih lengkap)✓ (Follow dan vote komentar jangan lupa, biar adem gitu haha) [PERJUANGAN DAN PERSAHABATAN DISEBUAH KEHIDUPAN] Pertemuan antara Sang Raja Jalanan dan sosok perempuan bermata biru penuh teka-teki, dan sifat yang san...
![STARLA [END]](https://img.wattpad.com/cover/222070326-64-k387078.jpg)