the devil || banginho

3.4K 215 21
                                        

seorang pemuda tengah berjalan tak tentu arah, sekilas terlihat seperti sedang mencari seseorang. sedari tadi ia berteriak memanggil nama orang.

"kak juyeon!! kak??" panggil pemuda itu.

hening, tak ada sahutan apapun.
merasa lelah, ia sandarkan tubuh nya pada dinding di samping nya. tutupi wajah merah tersebut, sebelum kemudian terdengar isak tangis pilu nya.

ia ingat, ia hanya meninggalkan sang kakak sekitar 20 menit, ia ingat pula bahwa ia pergi meninggalkan sang kakak karena ingin berbelanja keluar.

ia tak paham mengapa kakak nya pergi meninggalkan nya, dan hanya meninggalkan secarik kertas sobek berisi permainan terkutuk itu.

ah.. benar, permainan terkutuk itu. minho—pemuda tersebut— menahan tangis.

berbagai spekulasi buruk bersarang di otak nya, mulai dari; apakah sang kakak mencoba permainan itu, apakah kertas sobek tersebut di ambil oleh sang kakak, atau bahkan.. sang kakak tidak tau bagaimana cara menghentikan permainan terkutuk itu dan berakhir jatuh ke dalam jurang hitam.

memikirkan nya saja sudah membuat otak minho serasa ingin meledak, ia tidak mau sang kakak terluka, karena tugas nya menjaga kakak nya yang memiliki penyakit autisme.

dengan menahan rasa letih di sekujur tubuh nya, minho bangkit dan berjalan kembali dengan berbekal ingatan mengenai permainan terkutuk itu, karena seingat nya permainan tersebut hanya bisa di mainkan di lift kosong, seingat nya bangunan yang memiliki lift di sekitar sini hanya berada di depan gedung kos nya, yaitu gedung kantor besar yang sepi sunyi.

sial. minho tak bisa berlama lama dengan segala pemikiran buruk yang bersarang di otak nya. ia lajukan langkah kaki nya dengan cepat berusaha agar dapat mendatangi sang kakak tepat waktu, berbagai macam pandangan ia dapat ketika berpapasan ia abaikan. fokusnya hanya kepada sang kakak, tidak lebih.

sesampainya di kantor kosong tersebut, tak sengaja ia mencium bau anyir.

darah.

semakin panik, minho langkah kan kaki lebar lebar.

sampai ia tiba di lantai ke 13 pemandangan tak enak di rasakan nya.

mual, jijik, sedih, bercampur jadi satu.

dengan mata melebar minho berjalan mendekat secara perlahan, lengannya secara spontan menutup mulut nya yang juga terbuka lebar.

pandangan nya terarah kepada dua objek di depan sana.

seorang lelaki... bersama dengan juyeon—kakaknya sendiri.

minho melihat dengan mata kepalanya sendiri, si lelaki sedang berdiri di atas tubuh juyeon dengan kuku kuku panjangnya.

minho sadar, dia bukan manusia.

tubuhnya bergetar, minho tidak tau mengapa tubuhnya segemetar ini. apakah karena mendapati fakta bahwa kini ia tinggal seorang diri atau mungkin karena kehadiran sang iblis dengan rupa yang kelewat tampan sekaligus menyeramkan. minho tidak tau.

tarik kerah baju myang juyeon kenakan—ah.. maksudku, mayat juyeon—kemudian mengguncangkan nya dengan kasar berharap sang kakak kembali bangun dan bisa bermain dengan nya lagi. tapi tentu percuma. juyeon sudah sepenuhnya pulang ke sisi yang maha kuasa.

minho sadar bahwa atensi sang iblis sekarang tengah sepenuhnya fokus kepada nya. namun, ia abaikan.

"hey, dia tidak akan bangun. arwah nya sudah lepas sepenuhnya."

tak ada sahutan.

merasa kesal, sang iblis berjongkok mengikuti minho lalu angkat dagu tersebut dengan perlahan. abai sepenuhnya dengan keberadaan mayat juyeon akibat ulah nya sendiri, toh arwah juyeon sudah berada di tangan sang malaikat yang berdiri di ujung ruangan.

dengan pasrah minho angkat wajahnya perlahan, sesuai dengan gerakan tangan sang iblis, lalu tatap tajam wajah terkutuk yang sialnya tampan tersebut.

sang iblis mematung, jatuh dalam pesona manusia manis di depan nya.

ingin rasanya minho melayangkan satu tinjuan untuk menghajar makhluk biadap di hadapannya ini, tetapi badan minho seakan tak bisa di gerakkan.

tersenyum menyebalkan, iblis itu mendekatkan bibir tebal basah nya mendekati telinga minho.

dapat minho rasakan nafas halus yang membuat sekujur tubuhnya merinding, namun minho tetap diam, tak bergeming sedikit pun.

minho rasa sudah sepenuhnya ia menyerah dengan hidupnya, toh alasan nya bertahan sudah tiada. untuk apa ia masih bertahan di dunia?

dapat iblis itu lihat seberapa pasrah minho berada dalam genggaman nya.

"mata mu sangat indah, boleh ku ambil?" minho tak menjawab yang mengundang kekehan menyeramkan dari sang iblis.

tangan penuh darah dengan kuku tajam sebagai hiasan, diangkat seakan bersiap mengambil mata milik pemuda di depan nya.

minho hanya terdiam kemudian memejamkan matanya takut, ia tak berani bersuara, ia tak berani melihat kebawah—ah lebih tepatnya kearah mayat kakak nya.

minho sudah siap menerima rasa sakit tersebut tetapi yang didapatnya hanya elusan di kelopak matanya dengan lembut.

"ah.. dari pada ku ambil mata mu, bukan kah lebih menyenangkan mengambil pemilik nya?" minho yang mendengar kabar tersebut mematung.

"tㅡtunggu! bukankah... aku tidak melakukan apapun?" sedikit mengenyampingkan rasa takut minho suara kan keheranan nya.

"lalu kamu pikir aku akan membiarkan kamu keluar? lalu membeberkan kepada media masa bagaimana sosok iblis sebenarnya? kamu pikir semudah itu, setelah melihat sesuatu yang tidak seharusnya diketahui oleh mata manusia?" dengan nada memojokkan iblis itu membalas.

"aㅡaku tidak akan membeberkan hal ini," karena sesungguhnya minho hanya ingin menguburkan jasad kakak nya.

"lantas?"

"aku hanya ingin menguburkan jasad kakak ku..." mendengar cicitan minho sang iblis menaikan sebelah alisnya kemudian melirik jasad juyeon yang terbujur kaku.

"setelah itu, kamu milikku." final sang iblis.

mendekati minho kembali iblis tersebut tersenyum miring lalu berbisik di depan telinga minho. mengendusnya pelan dan berujar.

"bangchan, nama ku bangchan," ada jeda sebentar sebelum ia melanjutkan "panggil aku chan ya, kucing ku?"

•••

story by cheesemozarella

Softie Minho CollectionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang