012

6.4K 735 27
                                        

Mew POV

Aku sengaja memanggil Gulf datang ke ruanganku saat waktu makan siang. Pagi ini aku melihat wajahnya yang kelelahan, tapi aku tidak mampu menahan untuk memerintahnya datang ke ruanganku tiap 10 menit hanya karena aku ingin melihatnya.

Apa yang terjadi padaku? Tidak tahu. Sejak kejadian di bar, lalu Gulf bekerja denganku sekarang, aku jadi ingin selalu melihat dan mengganggunya. Aku tidak ingin perhatiannya teralihkan dariku. Aku ingin ia mengikuti apa yang kuperintahkan. Aku ingin ia merasa tidak punya kuasa bahkan atas dirinya sendiri.

Aku tahu Gulf punya segudang part time untuk membiayai kuliahnya. Tapi itu membuatku kesal. Selain perhatiannya teralihkan dariku, aku tidak ingin ia bertemu orang lain selainku. Jadi, aku membuatnya selalu bekerja overtime dengan imingan bonus. Bocah itu memang dengan sangat mudah ku imingankan uang. Entah apa yang membuatnya jual mahal saat kejadian di bar itu.

"Duduk di sana," ujarku padanya sambil menunjuk ke arah sofa di ujung sana. Gulf terlihat terengah-engah setelah kuperintahkannya datang dalam waktu 30 detik.

"Maaf?" jawabnya dengan wajah kebingungan.

Alisnya mengerut, bibirnya yang berbentu chesnut itu mengerucut, dan dua manik indahnya itu menyiratkan berbagai pertanyaan di kepalanya.

"Saya minta kamu duduk di sofa dan jangan ke mana pun sebelum ada perintah selanjutnya dari saya..." ucapku menjelaskan dengan lembut tapi tegas. Membuatnya berjalan menghampiri sofa tanpa mendebatku.

Ia duduk di sofa dengan wajah bingung. Tapi itu yang membuatnya terlihat menggemaskan. Aku kembali mengerjakan pekerjaanku dan membiarkannya menikmati waktu bersantai di sana.

15 menit berlalu. Intercom di mejaku berbunyi dari meja resepsionis di depan. Podd pasti masih makan siang. Dan itu pasti makanan pesananku.

Biipp

"Siang, pak Mew. Makanan yang ada pesan sudah datang. Sekretaris Podd meminta saya mengantarkannya ke ruangan Anda..." ucap resepsionis kepadaku.

Aku menoleh ke arah Gulf yang ternyata terlelap tidur di sofa. Aku tahu, ia sangat kelelahan. Oleh karena itu, aku memintanya istirahat dan makan di sini bersamaku. Tapi ia terlihat begitu kelelahan. Aku akan menunggunya terbangun lalu baru makan bersama.

"Taruh di kulkas dulu saja. Nanti panaskan makanannya ketika saya hubungi saat saya ingin makan," jawab Mew kepada resepsionis itu.

"Baik, pak."

Biip..

Aku secepatnya memutuskan sambungan intercom agar Gulf tidak terbangun. Aku berjalan menghampirinya sambil membawa selimut di tanganku.

Belum pernah ada yang tertidur di sofa itu selain aku. Entah kenapa aku membiarkan Gulf tertidur di sana sementara aku bekerja di sini. Rasanya ada perasaan hangat di dada ini saat melihat wajah Gulf yang sedang tidur.

Aku menyelimutinya. Lalu membantunya membenarkan posisi tidurnya agar tubuhnya tidak sakit setelah terbangun nanti. Gulf benar-benar kelelahan. Ia bahkan tidak bergerak ketika aku menyentuhnya. Apa ia benar-benar melewati waktu tidurnya di malam hari? Apa saja yang dilakukan bocah ini setelah seharian bekerja bersamaku? Apa ia masih melakukan part time di berbagai tempat?

Aku berjongkok sambil terus memandangi bocah kurang ajar di depanku ini. Wajahnya terlihat begitu lelah dan ada lingkaran hitam di matanya. Lalu padanganku beralih ke arah kedua tangannya. Kuraih kedua tangannya. Di telapak tangannya terlihat ada banyak bekas luka goresan di sana.

Aku melihat bingung ke arah bekas luka itu. Apa saja pekerjaanmu hingga ada banyak bekas luka di sana? Aku menghela napas panjang, berdiri, lalu berjalan menghampiri mejaku lagi. Kemudian aku menekan nomor Podd di handphone-ku.

"Halo, Podd. Bantu Gulf membuat paspornya..." ujarku ketika sambungan sampai ke seberang sana.

"Paspor?" Tanya Podd kebingungan.

"Iya. Pastikan Gulf ikut ke London bersama saya bulan depan," ujarku lagi.

Ada jeda hening beberapa saat. Aku yakin Podd bingung dan merasa aneh dengan ucapanku.

"Bukankah saya yang akan menemani Anda ke London, pak?" Tanya Podd lagi.

"Saya bebaskan tugas kamu sebulan penuh..."

"Apa!?? Sebulan penuh!?" Seru Podd terkejut tapi bisa kudengar suara kebahagiaan di sana.

"Ini kesempatanmu. Take it or leave it---" balasku yang membuat Podd memotong ucapanku.

"Oke, pak! Saya akan bantu Gulf mengurusnya!" Jawab Podd begitu excited.

Aku memutuskan percakapan lalu melihat ke arah Gulf yang masih tertidur pulas.

I will take your time fully. No one can have you.

...

Yuhuuuu~~ like I said malam ini akan update lagi...

Masih ada yang baca nggak ya? Semoga masih ada yang baca AU ini, ya😁

Chapter kali ini udah mulai tumbuh benih-benih, tapi belum saling mengakui saja. Terutama dari sisi Mew. Jadi harus tunggu lagi, nih hehe... Maaf ya kalau ceritanya nggak greget dan kentang banget wkwk I'll do my best supaya bisa menulis cerita lebih baik lagi!😉😉😉

Oleh karena itu, please kindly give me your feedback ya! Anything could help me. Semua masukan dan kritik akan sangat berarti buat gue💙

Well... masih ada chapter yang akan diupdate malam ini.

Mariii~~

ENCOUNTER 1 (Editing)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang