Gulf POV
Hari ini Mek, bos-ku meneleponku memberitahu bahwa ada shift kosong yang bisa kuambil. Berhubung hari ini aku tidak ada jadwal mengajar les, aku mengiyakan tawarannya. Padahal besok sampai minggu aku akan full shift bekerja di kafe. Namun, apa daya, aku membutuhkan banyak uang untuk membayar biaya kuliahku sendiri.
Tahun ini tahun terakhirku di universitas. Demi bisa tembus mendapatkan jam kuliah, yakni program magang, aku perlu membayar uang semester ini. Sulit, aku membutuhkan uang banyak, tapi aku tidak boleh menyerah.
Aku datang ke bar lebih awal dari jam kerjaku malam ini. Baru jam empat sore. Aku berniat akan membantu Mek membuka bar lalu beres-beres. Mek merupakan bos yang baik dan sangat royal. Ia selalu mengapresiasi kerja karyawannya dengan memberikan bonus. Tidak heran kalau semua orang yang bekerja dengannya sangat loyal. Sepertiku. Aku sudah bekerja sejak tahun lalu. Meski hanya sebagai part timer, Mek membayarku cukup adil. Sebanding dengan performa kerjaku sebagai part timer selama ini. Bahkan kalau dihitung-hitung penghasilanku semalam bekerja di bar, sebanding dengan bayaranku mengajar dua siswa selama 3 bulan. Mek adalah bos yang royal. Oleh karena itu, aku akan berusaha agar terus bekerja di sini.
Malam ini akan sangat ramai, Friday Night. Orang-orang akan banyak berdatangan untuk mencari hiburan setelah lelah bekerja. Sementara aku bersiap-siap agar performaku baik. Jarang sekali ada part timer yang diberikan kesempatan bekerja saat Friday Night.
"Gulf!" panggil Mek dari meja bar tempat biasanya berdiri melayani dan memperhatikan tempat ini. Aku berlari kecil menghampirinya yang tadi sedang mengelap beberapa meja di sana.
"Hari ini teman-teman gue akan datang. Mereka tamu VIP. Lo bantu gue menyiapkan minum dan antar ke ruangan VIP ya," tutur Mek sambil mengelap beberapa gelas di sana.
Deg.
Aku terdiam. Terkejut dengan perkataan Mek. Selama satu tahun lebih ini, sebagai seorang part timer, aku belum pernah melayani tamu VIP. Konon, tamu VIP di bar ini merupakan sahabat dekat Mek. Dan konon, jika performa kita bagus, Mek akan kasih bonus atau lebih beruntungnya jika teman-temannya itu memberikan tip. Uang tip dari tamu VIP bisa berjumlah 2x lipat dari gajiku selama satu bulan bekerja.
Aku tiba-tiba excited sekaligus gugup. Aku takut mengecewakan Mek yang menaruh harapan padaku.
"Jangan gugup. Mereka sahabat gue kok. Orang-orangnya juga santai. Lo cuma antar minuman doang... dan lo nggak perlu cemas, gue akan kasih bonus..." ujar Mek sambil mengedipkan matanya dan melemparkan senyuman manis ala player andalannya itu. Apapun yang orang labelkan tentang Mek, aku tetap memandangnya sebagai bos yang baik hati. Aku menganggukan kepala kuat-kuat. Mek hanya tersenyum di sana.
"Lo emang pekerja keras yang nggak banyak ngomong.. keep it up! Ok?" Sambung Mek lalu mengelus kepalaku dengan lembut.
Pukul 19:00
Bar akhirnya dibuka. Belum ada sejam, bar sudah mulai dipenuhi beragam macam orang. Orang-orang yang baru pulang bekerja, anggota kencan buta, atau hanya segerombolan anak-anak muda seusiaku yang ingin menghabiskan waktu berkumpul bersama. Andai aku bisa seperti mereka. Menikmati malam dengan minum dan berkumpul. Sungguh mereka sangat beruntung.
20 menit kemudian aku melihat orang-orang terpana memandangi sesuatu. Bukan.. seseorang dari pintu masuk.
Terlihat seorang pria tampan dengan setelan jas hitam. Matanya penuh dengan misteri, garis wajahnya tegas, dan tubuhnya yang proposional. Wajar saja semua orang terpana melihatnya. Ia benar-benar sangat berkharisma. Seolah bisa membunuh orang-orang dengan satu kali tatapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENCOUNTER 1 (Editing)
Fanfiction[END/ COMPLETE] - Bahasa Indonesia, English Pertemuan singkat antara Mew Suppasit yang dikenal sebagai aktor sekaligus CEO dari perusahaan keluarganya dengan seorang mahasiswa dan part timer di sebuah bar, Gulf Kanawut tidak disangka menjadi turning...
