043

4.3K 409 14
                                        

Author POV

Podd sibuk berbincang di telepon. Begitu pun Tay dan Mek. Sedangkan Mew duduk terdiam dengan wajah pucat dan lingkar hitam di bawah matanya.

"Mew, polisi lagi berusaha mencari Gulf di luar area London. Tapi membutuhkan waktu. Mereka harus bekerjasama dengan pihak pemerintahan Inggris karena Gulf bukan warga negara di sini," jelas Mek kepada Mew yang terlihat masih belum bisa memproses semuanya.

"Mew, are you sure Gulf nggak lagi ngambek atau apa gitu?" tanya Podd memastikan kalau Gulf hanya pergi karena perselisihan dengan Mew.

"We fought two days ago. Malamnya dia minta gue jemput di bar. He said dia udah baik-baik aja. Tapi pas gue tunggu di mobil hampir setengah jam, dia nggak keluar dari bar. Pas gue masuk ke bar, dia nggak ada di sana. Where do you think he would go? Gulf nggak pernah travel abroad apalagi ke London. Impossible kalau dia keluyuran pergi," papar Mew terdengar sangat frustrasi. Membuat semua orang terdiam.

"Mew, you should sleep. Lo belum tidur dari dua hari yang lalu. Serahin sama kita buat cari Gulf hari ini," ujar Tay sambil mengusap pundak sahabatnya itu.

"How can I sleep, Tay? Gue nggak tau keberadaan Gulf sekarang di mana. Apa dia baik-baik aja... apa dia--" Mew tidak mampu melanjutkan kata-katanya.

"Mew, he will be fine. Gulf is a smart boy. Dia akan melakukan yang terbaik for reaching you out," ujar Mek berusaha menghibur sahabatnya itu.

"I will call Alice and Arm buat menghandle media in case bocor ke luar. I will call Lee to prepare dokumen legal dan hukum in case pencarian harus diteruskan melalui Interpol," sahut Podd mencoba untuk menenangkan Mew dengan rencananya.

"Can you call our private investigator in case ada hubungannya sama kasus stalker kemarin dan our rival company?" ujar Mew kepada Podd.

"Sure," jawab Podd mantap.

Tay menarik Mew untuk pergi tidur di kamar. Langkah Mew begitu berat. Tubuhnya terasa seperti tertindih beton besar. Dadanya panas dan sesak mengingat Gulf menghilang. Seberapa kuat ia berpikir, ia hanya berharap ini sebuah mimpi. Dua hari yang lalu seharusnya ia menahan Gulf pergi. Seharusnya ia mengikuti Gulf. Tidak meninggalkannya sendirian di tempat asing ini. Ia pasti sangat ketakutan sekarang. Pikir Mew berulang kali.

"Gue tau lo mikirin Gulf banget. Tapi please seenggaknya lo tidur dan makan. Pikirin kesehatan lo juga. Kalau lo sakit, Gulf akan sedih banget karena dia pasti nungguin lo," ujar Tay duduk di samping Mew.

"Karena dia nungguin gue, Tay. Gue nggak bisa buang-buang waktu," balas Mew dengan suara lemas tak bertenaga.

"Ck. Lo pikir Gulf akan seneng liat lo dengan kondisi kacau gini? Mew, percaya sama gue. Gulf itu anak yang kuat dan berani. Jadi sekarang lo tidur sebentaaaarr..aja. Sepuluh menit. Abis itu kita cari kabar keberadaan Gulf lagi. Ok?" ucap Tay. Mew hanya menganggukan kepala lalu merebahkan diri di atas kasur. Mencoba memejamkan matanya.

Beberapa menit kemudian Mew tertidur lelap. Namun ia terlihat masih gundah. Raut wajahnya terlihat sangat kacau. Tay menghela napas panjang lalu menghembuskannya keras-keras sambil memandangi sahabatnya itu tertidur.

"What should we do, Tay?" tanya Mek tiba-tiba masuk ke dalam kamar.

"Gue juga nggak tau. Dunia ini terlalu kejam sama lo, Mew. Setelah peristiwa itu. Kejadian sekarang muncul..." ucap Tay dengan nada lemah dan menahan tangisnya.

...

Flashback

Hari itu langit begitu cerah siapa sangka itu menjadi pertemuan awal dengan seseorang yang mengubah hidupnya. Ia masih sangat ingat hari dimana ia bertemu dengan anak laki-laki itu. Pertemuan tak terduga itu bermula dari upacara penerimaan siswa baru. Awalnya Mew tidak ingin masuk sekolah. Baginya sekolah hanya sebagai tempat bermainnya yang lain. Dia terlahir begitu sempurna. Mempunyai kedua orang tua yang sangat sayang padanya, status sosial yang bisa dibilang tinggi, dan ia juga Mulai meniti karir sebagai seorang aktor sejak kecil karena itu passion-nya.

ENCOUNTER 1 (Editing)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang