063 (END)

5.7K 409 22
                                        

Author POV

Tidak terasa sudah masuk ke bulan baru. Setelah perang dingin satu minggu lalu, hubungan Mew dan Gulf berjalan seperti biasa. Mew memberikan waktu dan ruang seperti yang Gulf inginkan. Sementara anak itu tengah sibuk sana-sini. Sibuk kuliah, mengerjakan tugas kuliah, kerja di MS Corp, part time di kafe dan bar Mek, ia bahkan kembali mengajar anak-anak SMA saat weekend malam. Gulf bekerja non-stop. Membuat dirinya tidak ada waktu bertemu dengan Mew. Ia juga terlanjur janji akan menemani Mew datag ke pemakaman Type saat hari peringatan which is lusa.

Gulf merasa tidak enak badan, tapi ia tidak bisa membolos kerja di kafe dan bar weekend ini. Ia harus masuk. Jika absen, ia tidak akan dapat uang untuk satu minggu ke depan. Gulf merasa tubuhnya menggigil. Namun ia tetap berangkat bekerja di kafe pagi ini.

Sesampainya di kafe, terlihat pemilik kafe menghampirinya. Lalu menarik Gulf duduk di salah satu kursi sebelum pelanggan datang. Biasanya weekend pagi, kafe akan mulai ramai karena ada banyak orang yang ingin menghabiskan waktu mengobrol bersama teman atau keluarga di kafe.

"Gulf, ini..." ujar ibu pemilik kafe sambil menyodorkan amplop besar berwarna coklat.

Gulf mengerutkan kening. "Apa ini, bu?"

"Lho? Ini surat perjanjian dan sertifikat kafe ini. Beberapa hari yang lalu ada yang datang ke sini. Terus membeli kafe ini dengan harga yang sangat tinggi. Ia meminta agar menuliskan namamu sebagai pemilik kafe ini. Semuanya punya kamu sekarang..." papar ibu pemilik kafe yang bernama Renata itu.

"Maksud bu Renata apa? Saya nggak merasa membeli kafe ini??" ujar Gulf kebingungan.

"Ini..." Renata menyodorkan kartu nama yang Gulf perkirakan sebagai orang yang mengeluarkan uang secara cuma-cuma untuk kegilaan ini.

Nama Podd dan Mew tertera di dua nama itu. Gulf terkesiap lalu menarik napas panjang. Apa-apaan ini?

"Mew Suppasit ini Mew Suppasit top star itu kan, Gulf? Hubungannya denganmu apa?" tanya Renata mencoba mengorek informasi, tapi waktunya tidak tepat. Gulf kepalang marah sekarang.

"Bu, saya izin nggak masuk hari ini. Saya ada urusan mendadak..." ucap Gulf tiba-tiba karena ia merasa harus meluruskan masalah ini dengan Mew sekarang juga.

"Gulf, do whatever you want. Saya bukan owner nya lagi. Kamu owner kafe ini sekarang..." jawab Renata yang membuat Gulf makin pusing.

Gulf langsung menghubungi Podd. Pria itu bilang ia hanya mengikuti perintah Mew. Padahal Podd sudah berusaha untuk menghentikan Mew. Tetapi tidak diindahkan oleh bos-nya itu. Dengan cepat Gulf pergi menuju rumah pribadi Mew mengingat hari ini Sabtu, Mew pasti di rumah.

Sampai di rumah pribadi, Gulf langsung mencari sosok pria yang ternyata sedang berbincang di telepon dengan seseorang di ruang kerjanya. Ia bahkan tidak menyadari kedatangan Gulf yang tengah menunggunya sambil duduk di sofa.

Tidak lama kemudian Mew memutuskan sambungan teleponnya dan menyadari keberadaan Gulf di sana.

"Hei, babe..." ujar Mew lalu menghampiri Gulf. Ia ingin memeluk Gulf, tapi anak itu menolak. Gulf mendorong tubuh Mew menjauh darinya.

"Maksud kamu apa?" tanya Gulf sambil menyodorkan amplop coklat yang ia bawa dari kafe tadi.

Mew mengerutkan keningnya. "Apa itu?"

"Hah, jangan pura-pura. Maksud kamu apa membeli kafe tempatku bekerja?"

Ekspresi Mew berubah pertanda ia mengetahui hal tersebut. Ia terdiam untuk tidak memperkeruh suasana saat ini. Namun dengannya diam tidak menjawab pertanyaan Gulf, membuat anak itu semakin marah.

ENCOUNTER 1 (Editing)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang