040🔞

6.7K 483 24
                                        

⚠️⚠️ WARNING ⚠️⚠️

Ada sign delapan belas coret dan warning. Pertanda chapter ini akan membahas adegan seksual yang lumayan detil sehingga diyakini bermunculan konten dewasa dan explicit language. Jadi, untuk para pembaca yang umurnya belum di atas 18 tahun agar bisa lebih bijak. Boleh diskip karena chapter ini full hot shower sex scene doang yang super detil.

Semoga sebelum baca cerita di bawah ini, udah baca notes dari author ini, ya. So you can be prepared buat memastikan otak kalian siap author bawa seliweran, berimajinasi liar, hehe... ingat! Buat yang underage untuk lebih bijak, ya! Konsekuensi ditanggung individu masing-masing.

Love, author Cha💙

-------------------------------

🔞🔞🔞🔞🔞

Gulf melepaskan pakaiannya satu per satu sambil membelakangiku. I swear to god! Melihat tubuh slim dan kaki jenjang juga dua gundukan bokongnya membuatku terangsang. Kalau dipikir-pikir beberapa hari ini kita belum melakukannya lagi. Memang beberapa hari lalu kita sempat saling memberikan blow job atau hot making out..but that's it. Cuma sampai itu saja.

Aku mencoba menahannya melihat Gulf bekerja begitu keras sampai kelelahan. Aku tidak ingin memaksanya. Namun aku hanya manusia biasa. Melihat pria yang kusukai berdiri tanpa busana. Aku tidak mungkin menahan lagi.

Gulf berdiri di bawah pancuran air lalu membahasi rambut dan tubuhnya. Aku mendekatinya lalu memeluknya dari belakang dengan tubuh telanjangku. Ia terkesiap merasakan bagian bawahku seperti menusuk-nusuk bokongnya. Ya, penisku sudah mengeras sekali.

"Mew? Really?" ujarnya tidak percaya.

Aku tidak menjawab hanya mencium bagian leher serta pundaknya. Ia mendesah lembut.

"Mew... Nnghh--" desah Gulf yang semakin membuatku terangsang.

"Let's do it..." bisikku di belakang telinganya. Lalu mengecup tengkuknya. Ia menggeliat geli.

Gulf memutar balik tubuhnya menghadapku. Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya. "Mew, besok kita ada meeting penting. Can we do it after that? Aku nggak mau terlihat nggak siap di hadapan client kita," ujarnya.

"Gulf, c'mon. Just one round, uhm?" bujukku sekuat tenaga. Ia menghela napas panjang lalu melirik ke arah penisku yang masih mengeras.

"Okay. One round. Don't bite, just slow pace. Pokoknya aku mau bisa berdiri dan jalan dengan baik besok..." ucapnya menerima bujukanku.

"I can't guarantee, but I'll try..."

Gulf memutar bola matanya. So cute! Ia selalu terlihat menggemaskan ketika sedang negosiasi sebelum seks. Gulf anak yang sangat reasonable. Ia selalu memperhatikan detil dan impact sebelum melakukan sesuatu. Which is good. Tapi, terkadang... you know... when you're horny as fuck, you can't be patient for a long time.

"Can I kiss you now?" ujarku diikuti anggukan kepalanya.

Aku menyambar bibirnya dengan tidak sabaran. Menghisap, melumat, mengeksplor seluruh bagian mulutnya dengan lidahku. Gulf mendesah manis. Terdengar begitu seksi di telingaku. Aku merasakan kedua penis kita saling bergesekan yang membuat Gulf mengerang disela ciuman.

"Fingering me..." ucap Gulf dengan napas yang memburu.

"You said one round and slow pace?" balasku lalu menciumi perpotongan leher dan tulang selangkanya. Kemudian turun ke bagian dada, yakni putingnya. Aku menghisap, menjilat, dan memilin putingnya secara bergantian.

ENCOUNTER 1 (Editing)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang