Gulf POV
Sosok pria yang sangat kukenal mengejutkanku ketika keberadaannya di hadapanku yang sedang membaca buku sambil menjaga counter di mini market tempatku bekerja. Mew Suppasit berdiri di hadapanku. Setelah enam bulan, di waktu yang lebih cepat satu minggu, kita bertemu lagi.
"Mew?"
"Hei... sorry ganggu kamu dan aku muncul tiba-tiba sebelum hari pertemuan yang kita sepakati..." ujar Mew yang mengenakan kacamata hitam agar orang-orang tidak mengenalinya.
"Bukannya kamu lagi otw bandara?" tanyaku kebingungan.
"Aku batalin perjalanan ke Singapura. Aku harus jemput kamu sekarang..."
"Kenapa kamu jemput aku?"
"Long story. Intinya, aku harus bawa kamu pergi sebelum paparazi ke sini," jawab Mew tidak memuaskan hatiku. Tapi aku semakin bingung juga penasaran ketika manajer mini marketku datang dengan napas terengah-engah.
"Gulf, kamu boleh pulang..." perintah manajerku. Aku menatap Mew bingung, tapi pria itu hanya diam sambil melemparkan senyuman kecil di sana.
Aku mengikuti Mew masuk ke dalam mobil di mana ada Podd dan supir di sana.
"Hei, Gulf!" sapa Podd yang duduk di kursi depan.
"Hei, Phi..."
"Cut the chit chat, Podd. Explain what's happening to us," ucap Mew tidak sabaran.
"Well, intinya foto kalian berdua lagi berpelukan di bandara Heathrow tersebar di internet. Wajah Gulf terlihat jelas dibandingkan foto sebelumnya. In summary, semua orang sekarang tau siapa pria misterius yang disebut sebagai kekasih Top Star Mew Suppasit..." jelas Podd kepadaku dan Mew.
Aku menghela napas panjang. "Wisudaku seminggu lagi. Aku nggak tau apakah aku cukup berani untuk datang ke sana."
"Gulf, I'm sorry..." ucap Mew terdengar begitu menyesal.
"Bukan salahmu, Mew. Ini semua ulah paparazi."
"Tapi, seharusnya aku lebih teliti menyelidiki foto yang Lucas sebarkan waktu itu. Tentu saja nggak hanya satu foto. Pasti Lucas punya banyak foto yang ia jual ke paparazi," ungkap Mew terdengar kesal di sampingku.
"I'll find a way, Gulf. Don't worry..." tambahnya sambil menggenggam tanganku mencoba menenangkanku.
"Pak, barusan Alice kasih kabar kalau paparazi sudah memenuhi mansion dan tempat tinggal Gulf," ujar Podd yang membuatku semakin resah.
"Cari tau apakah mereka punya informasi tempat Gulf bekerja," ucap Mew jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Gulf, kamu nggak bisa tinggal di kontrakan kamu dulu. Apa ada tempat yang bisa kamu tempati?" tanya Mew.
Aku mencoba mengingat, tapi aku hanya punya teman Joss. Itu pun nggak mungkin karena Joss saat ini sudah tinggal bersama kekasihnya. Aku nggak mungkin minta dia menerimaku tinggal di sana sementara.
"Aku nggak mungkin tinggal sementara di kontrakan Joss karena sekarang ia tinggal bersama pacarnya. And I don't have a friend besides Joss," jawabku terdengar menyedihkan.
"It's okay. Kamu akan tinggal bareng aku di apartemen. Podd, bantu saya menyiapkan kebutuhan Gulf di sana," balas Mew sangat enteng.
Apakah Mew sadar yang barusan ia katakan? Kita sudah tidak bertemu selama enam bulan dan dengan mudahnya ia menyuruhku tinggal bersamanya? Apa Mew tidak merasa canggung dengan keadaan ini? Apa hanya aku yang merasa seperti ini?
"Baik, pak."
"Tunggu, Mew. Kamu nggak salah menyuruhku tinggal bareng kamu di apartemen?"
"You don't like it? Ini cuma buat sementara. Apartemenku satu-satunya tempat yang paparazi nggak ketahui karena apartemen itu aku beli atas nama Podd... it's the safest place I could think of now. Aku sering ke sana buat spend my leisure time. But if you didn't like the idea, aku akan cari cara lain," jelas Mew.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENCOUNTER 1 (Editing)
Fiksi Penggemar[END/ COMPLETE] - Bahasa Indonesia, English Pertemuan singkat antara Mew Suppasit yang dikenal sebagai aktor sekaligus CEO dari perusahaan keluarganya dengan seorang mahasiswa dan part timer di sebuah bar, Gulf Kanawut tidak disangka menjadi turning...
