Mew POV
Malam itu aku sengaja datang ke bar milik Mek. Walaupun aku tahu, Mek tidak datang ke sana malam itu. Tidak peduli itu, aku tetap datang dan memesan ruang VIP. Bersama Podd, aku menghabiskan waktu minum lalu bersantai. Lebih tepatnya aku sedang mengawasi bocah laki-laki yang beberapa waktu lalu mengacaukan kemejaku.
"Saya tidak menduga, Anda menelepon saya saat weekend hanya untuk menjadi teman minum di sini..." ujar Podd kepadaku.
Podd memang sekretarisku, tapi ia juga seorang teman yang bekerja untuk keluargaku cukup lama. Maka dari itu kadang ia terdengar kurang ajar. Karena aku memang memintanya memperlakukanku sebagai teman juga saat di luar jam kerja. Namun sebagian besar waktunya digunakan bekerja untukku.
"Maaf sudah mengganggu waktu weekend-mu," balasku lalu meneguk martini yang kupesan tadi. Podd hanya menghela napas panjang.
Aku memandangi suasana bar dari lantai atas ruang VIP. Mataku terus mencari figur bocah laki-laki itu.
Gotcha!
Aku menemukannya. Ia terlihat sedang kesulitan membawa pesanan ke salah satu meja di sana. Anak itu memang tipikal anak clumsy yang sering membuat keributan karena kesalahannya. Tipikal anak laki-laki yang kurang ajar.
Aku terus memerhatikannya. Namun beberapa saat kemudian kulihat salah satu pelanggan di meja sana mencoba menggodanya. Di satu sisi, bocah itu mencoba melawan. Sayangnya, berakhir kacau. Bocah itu membuat keributan dan menumpahkan minuman-minuman di atas tubuhnya. Ia basah kuyup sekarang. Semua orang memandanginya. Sedangkan pelanggan itu tertawa melihat si bocah yang tejatuh ke lantai itu. Sesuai dugaanku, anak itu mudah sekali membuat perkara.
Beberapa rekan kerjanya berlari ke arahnya lalu membantunya. Bocah laki-laki itu terlihat meminta maaf dengan wajah kesal lalu berjalan ke arah pintu bertuliskan 'staff only' bersama seorang pria yang kurasa salah satu bartender di sana. Rasa gengsinya memang sebesar nyalinya itu. Apakah karena harga dirinya begitu berharga? Harga diri bullshit! Pikirku.
"Anda memerhatikan apa?" tanya Podd yang sedari tadi sibuk bermain handphone, tidak memedulikan keributan yang terjadi di bawah sana. Akhirnya mengalihkan perhatiannya. Ruang VIP itu memang kedap suara. Tidak aneh jika Podd clueless dengan kejadian di lantai dasar.
Sejak keributan tadi, aku belum melihat bocah itu keluar dari ruangan tersebut. Aku pun memutuskan untuk pergi dari sini sebelum Mek tahu aku ke bar-nya tanpa memberitahunya. Ia pasti akan melontarkan ragam pertanyaan.
"Podd, ayo kita pulang," ujarku yang membuat Podd terlihat lesu karena kita baru 30 menit di sini. Padahal aku telah mengganggu weekend-nya.
...
Author POV
Hari ini hari pertama Gulf pergi bekerja sebagai anak magang di sebuah perusahaan. Setelah melewati beberapa tahap penyeleksian selama satu bulan, termasuk interview by phone, Gulf akhirnya diterima.
Pagi itu Gulf berjalan dengan langkah penuh semangat. Pagi itu Gulf seperti melihat masa depannya yang lebih cerah. Ia masih tidak bisa menyangka pagi ini ia pergi bekerja bukan ke arah kafe seperti kemarin. Melainkan ke arah gedung tinggi yang terletak di pusat kota. Sebuah pemandangan yang belum pernah terjadi.
Sebelum itu, Gulf sudah memberitahu pemilik kafe, bahwa ia akan tetap bekerja di kafe saat weekend saja. Begitupun dengan bekerja di bar. Gulf hanya menjadwal ulang les bersama murid-muridnya. Kegiatannya akan jadi jauh lebih padat dari sebelumnya, namun ia nampak sangat bahagia karena baru kali ini semuanya berjalan sesuai rencananya.
Sesampainya di depan gedung tinggi berlantai 20 ini, dengan percaya diri, Gulf masuk ke dalam gedung. Sebelum melangkah masuk, ia menatap penuh harapan dan kebahagiaan. Ia masih tidak menyangka akan punya kesempatan bekerja di sini. MS Corporation. Ya, tempat Podd bekerja.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENCOUNTER 1 (Editing)
Fanfic[END/ COMPLETE] - Bahasa Indonesia, English Pertemuan singkat antara Mew Suppasit yang dikenal sebagai aktor sekaligus CEO dari perusahaan keluarganya dengan seorang mahasiswa dan part timer di sebuah bar, Gulf Kanawut tidak disangka menjadi turning...
