050

3.8K 343 8
                                        

Mew POV

Flashback

Mataku membelalak, tubuhku gemetar hebat mencoba memercayai apa yang kulihat di hadapanku saat ini. Aku ingin lari dari sini lalu memaki semua orang yang kutemui di jalan. Tidak... aku tidak ingin memercayai ini.

"Mew, perkenalkan calon ibumu dan saudaramu. Mereka akan menjadi keluarga kita," ujar Ayah yang duduk sambil mengesap cerutunya di sana.

Di sisi lain, ada aku yang tengah berdiri dengan tubuh gemetaran dan rahangku mengatup keras sambil terus menatap lurus ke arah anak laki-laki di sana. Anak laki-laki yang duduk sambil menunduk melihat ujung sepatunya. Anak laki-laki yang kukenal sepanjang masa SMA-ku. Type.

Dadaku bergemuruh. Seperti ada luapan amarah yang kucoba redam, tapi mendesak air mataku keluar.

Belum ada satu bulan setelah Ibu meninggal, Ayah memperkenalkanku kepada wanita lain yang akan menjadi ibuku. Juga anak laki-laki yang merupakan sahabatku sebagai saudara tiriku? Lelucon macam apa ini? Apa Ayah seorang masochist? Apakah ia tidak merasa sedih ditinggal Ibu? Apakah kematian Ibu disebabkan Ayah berselingkuh? Namun mengapa Type dan ibunya? Mereka mengenalku sejak tahun pertama di SMA. Aku bahkan sering menginap di rumah Type. Bertemu dengan ibunya. Berbincang dengannya seolah aku mengenalnya.

Tapi mengapa? Bagaimana? Aku tidak mengerti. Sejak kapan ibu Type mengenal Ayah? Sejak kapan Type mengetahui semua ini? Apakah semua rumor tentangnya benar? Rumor bagaimana Type dan ibunya menghasilkan uang demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Apakah mereka bekerja merusak keluarga seseorang agar bisa hidup nyaman? Apa-apaan ini?

Otakku dipenuhi berbagai macam pertanyaan hingga akhirnya kalimat yang keluar dari mulutku mampu memisahkan jarakku dan Type detik itu juga.

"Keluarga? Aku tidak punya keluarga. Mereka bukan keluargaku. Sampai mati, aku tidak akan sudi berada di dalam keluarga buatanmu..."

Lalu aku melangkah keluar ruangan. Dengan langkah cepat dan penuh amarah aku berjalan menuju kamarku.

Aku mendengar langkah cepat mencoba mengejarku. Aku tahu itu Type.

"Mew!" seru Type sambil menarik tanganku. Menahan agar aku mendengarkannya.

Aku berhenti lalu menatap nanar ke arahanya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Apa lagi yang ia inginkan?

"Mew, aku tau kamu marah. Tapi, bisakah kamu ikut duduk bersama ayahmu? Aku tidak ingin ia marah padamu..."

"Sekarang lo peduli sama bokap gue? Cih. Gue beneran ditipu sama lo,"  cicitku dengan nada penuh kebencian. Iya, memang. Mulai detik itu aku sangat membencinya bahkan melihat wajahnya membuatku mual dan ingin pergi sejauh mungkin.

"Mew... dengarkan aku. Aku janji akan menceritakan semuanya padamu. Tapi, sekarang ayahmu kesal atas sikapmu. Jadi sebaiknya kamu ikut duduk bersamanya demi meredam emosinya, hmm? Ok?"

Aku mendorongnya sekuat tenagaku. Membuatnya jatuh ke lantai. Aku memandanginya dengan tatapan jijik, kesal, juga penuh kebencian kepadanya. Aku tidak menyangka orang yang selama ini sangat kupercayai, menusukku dari belakang. Aku tidak menjawab apapun. Aku hanya pergi meninggalkannya yang masih terduduk di lantai.

Keesokan harinya Type dan ibunya pindah ke rumahku. Mengingat akan menggelar pesta pernikahan, jadi Ayah meminta mereka tinggal bersama kami. Itu juga yang ia asumsikan aku akan lapang dada menerima keberadaan mereka sebagai keluarga.

Sebentar lagi aku akan lulus dari SMA. Sejak hari itu, aku memutuskan hubunganku dengan Type. Aku menganggapnya seolah tidak pernah ada. Aku selalu menghindarinya. Membuat Tay begitu tidak nyaman menghadapi kami berdua. Namun, aku ingin sekali egois sekali saja dan menyakitinya sesakit mungkin. Dan itu nampaknya berhasil. Type tidak lagi mencoba mendekatiku atau berbicara denganku.

Putusnya hubunganku dengan Type membuatku melampiaskan semuanya ke dunia baru, yakni dunia akting. Aku mulai menerima job kecil sebagai model beberapa website online shop. Lalu naik ikut serta dalam iklan di televisi. Aku menyibukkan diri hingga aku lupa lusa adalah pernikahan Ayah dan ibunya Type. Juga seminggu menuju kelulusanku. Setelah ini, aku memutuskan tinggal sendiri di apartemen milik Ibu. Aku harus keluar dari rumah ini. Cepat atau lambat mereka akan memunculkan wajah asli mereka. Aku tidak ingin menjadi kambing hitam mereka ataupun robot bantu Ayah agar menyelamatkannya dari penyesalan. Aku ingin membebaskan diri. Apapun yang terjadi, aku akan meninggalkan rumah.

Tok..tok..

Seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku tahu siapa orang di balik pintu itu. Tentu saja Type. Hampir tiga bulan sejak ia pindah ke sini, aku tidak pernah menanggapinya.

"Mew... kamu udah tidur?" Suara Type terdengar ragu-ragu dan sumbang. Seperti menahan sesuatu di tenggorokannya.

Aku berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Aku menemukan Type berdiri sambil menundukkan kepalanya. Pundaknya bergetar. Lalu terdengar isak tangisnya. Aku tak bergeming. Type menangis adalah kelemahanku.

"Type, lo kenapa nangis??" ujarku lalu meraihnya masuk ke dalam pelukanku. Ini pertama kali setelah tiga bulan aku berinteraksi dengannya.

"Maafkan aku, Mew..." isaknya di dalam pelukanku.

Aku menepuk dan mengusap punggungnya. Mencoba menghiburnya. Padahal aku sangat ingin tahu apa yang membuatnya minta maaf padaku.

"Jangan pergi..." isaknya lagi di dalam pelukanku.

Type tahu aku akan pergi setelah hari kelulusan. Pernikahan ibunya dengan Ayah tidak pernah kuinginkan. Aku sangat membencinya. Itu semua karena Ibu pantas mendapatkan yang lebih baik daripada penggantinya. Juga pemikiran Type akan menjadi saudara tiriku sangat menjengkelkan. Kami akan tinggal bersama, berpura-pura sebagai saudara, dan menjalankan hari-hari seolah semuanya baik-baik saja. Tidak. Aku tidak bisa. Meskipun Type mencegahku untuk pergi, aku tetap tidak bisa. Aku akan pergi. Aku masih ingin bersikap egois sekali lagi. Aku ingin melarikan diri sekali lagi saja.

"Type, semuanya udah berubah. Aku akan pergi..." ucapku yang membuat Type menangis sambil terus mengeratkan pelukannya.

...

Bagaimana dengan chapter ini???

Ayo ambil napas bersama-sama! Masih ada lanjutannya di chapter selanjutnya. Jadi jangan diskip ya...

Thor, kok flashback lagi, sih? Gulf kapan ketemunya???

Sabaaarr... author lagi berusaha bikin kalian melihat benang merahnya perlahan dari masa lalu Mew. Tenang... Gulf masih author amankan di chapter yang akan datang entah kapan, hehehe.. pokoknya author nggak mau kalian bingung karena baca alur cerita yang menclok-menclok. Jadi author mau bikin kalian pusing dan gregetan dulu lewat alur yang rumit😁😁😁

So, sit back, chill, and enjoy reading!

Jangan lupa kasih feedback, follow author, dan vote, ya!

Wuv wuv yall💙🤟

ENCOUNTER 1 (Editing)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang