Daarr ...
Daarr ...
Lelaki itu tersentak ketika mendengar suara ledakan.
"Apa itu?"
Dia beranjak dari kursi. Segera menerawang melalui jendela Kantor Pelabuhan Batavia yang terbuka.
Kebakaran?
Suara ledakan itu pun mengagetkan para pekerja pelabuhan. Staf di sana berhamburan keluar kantor.
Di dermaga, tampak orang-orang yang menyelamatkan barang-barang muatan. Andaikan barang muatan tersentuh oleh api maka bisa mendatangkan kerugian.
"Selamatkan barang muatan!" Perintah itu cukup jelas sehingga bisa menggerakkan staf pelabuhan untuk segera memberitahu pemilik kapal untuk menyelamatkan barang muatan yang berharga.
"Jauhkan barang-barang dari api!"
Senja kala yang biasanya menenangkan kini berubah menjadi menegangkan. Pelabuhan yang tengah ramai oleh warga yang menikmati matahari terbenam, terpaksa untuk mengubah niat. Menghindari bahaya lebih penting dibandingkan menikmati pemandangan hamparan teluk Batavia yang kuning keemasan.
Syahbandar ingin segera memastikan penyebab kebakaran. "Bagaimana bisa?"
Sayang sekali tidak ada yang bisa memberikan jawaban.
Lelaki Eropa itu menatap ke arah ledakan, wajahnya tegang tidak seperti biasanya. Senja kala merupakan waktu favorit untuk menikmati langit senja. Sayang sekali, kali ini keadaannya berbeda. Tas kulit berisi keperluan kerja malah ditinggalkan di meja. Orang itu pun terpaku memperhatikan api yang berkobar.
Blurrr ...
Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan.
Karena api yang semakin membesar, orang yang berada dekat dengan kapal yang terbakar terpaksa menjauh. Ada yang berlari tanpa arah yang jelas. Bagi mereka, ini adalah kejadian langka. Sebuah kapal besar dan penuh muatan terbakar.
"Cepat padamkan api!"
Semua orang saling berteriak. Keriuhan terjadi di sana-sini. Dalam waktu singkat, orang-orang di luar pelabuhan berdatangan ke tempat kejadian. Tanpa diundang. Suara ledakan dan jilatan api yang mengundang mereka.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja agar api berkobar lebih besar.
Langit senja bertambah terang, tapi bukan terang oleh indahnya matahari yang baru tenggelam. Api menjilat udara senja, angin pun membantunya untuk melahap kapal kayu yang mudah terbakar. Sang surya justru tenggelam di ufuk barat dan enggan menyaksikan keriuhan yang terjadi saat itu.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan, Tuan," seorang pekerja pelabuhan memberikan laporan pada Syahbandar.
"Apa maksudmu? Tidak ada cara untuk memadamkan api itu?"
"Bukan begitu ... maksud saya ... kapal itu penuh dengan muatan bubuk mesiu ...."
Syahbandar kini berdiri tepat di beranda kantor. Kedua matanya tidak beralih dari kapal yang terbakar di dermaga.
Daarr !
Ledakan terjadi sekali lagi, lebih keras.
"Itu maksud saya. Ledakan terus terjadi."
Syahbandar marah besar. Dia sulit menerima kejadian ini. Jabatannya dipertaruhkan. Terlintas dalam pikiran, bagaimana aku mempertanggungjawabkan semua ini pada pemilik kapal?
Daarr !
Ledakan terjadi lagi. Semua orang berlari mencari perlindungan.
Tidak terkecuali puluhan ekor kuda yang sedang ditambatkan. Hewan tunggangan itu meronta-ronta ingin pergi menghindari bahaya. Tapi sayang, tali kekang menyulitkan mereka untuk berlari.
"Awasss!!" seorang pria berteriak.
Mata Sang Syahbandar tertuju pada suatu benda yang sedang melayang. Serpihan kayu yang terbakar menuju ke arah mereka. Seperti nafas seekor naga akan menyambar mangsanya.
Bruukk ...!!
Serpihan kayu terbakar itu menghantam atap sebuah gudang.
"Celaka!! Itu gudang kain sutera!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
ActionDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
