16

131 42 0
                                        

Nun jauh dari Batavia, warga Desa Pujasari menyambut hari dengan berkegiatan. Sebagian warga mencetak gerabah, sebagian lagi mengangkut barang pecah belah tersebut ke tanah lapang untuk dikeringkan, ada pula warga yang mengunjungi kebun untuk sekedar menyiapkan panganan. Kecuali Panca dan Lurah Bakti, mereka menyiapkan barang dagangan untuk dibawa ke Ibu Kota.

Persiapan untuk berangkat tidak selalu diliputi semangat. Kesedihan masih meliputi Panca dan sang ayah.

"Pranata dibawa oleh orang yang dimaksud Pamanmu ke Pelabuhan." Begitulah kesimpulan Raden Bakti akan berbagai petunjuk tentang hilangnya Pranata dan Pratiwi.

"Jika begitu, orang berambut jabrik itu adalah bagian dari komplotan pedagang budak."

"Dan, Pratiwi bermaksud mencari Pranata ke Pelabuhan sendirian karena Ayahnya malah ditangkap Polisi."

"Sayang ... dia sendiri ikut menghilang ...." Panca tertunduk lesu. Dia bersikap demikian karena dilanda rasa bersalah, telah meminta sepupunya itu untuk berangkat ke Batavia.

"Kemungkinan besar Pratiwi pun disekap oleh para pedagang budak itu."

Panca menatap wajah sang ayah, sorot matanya kembali tajam. Anak remaja itu menangkap semangat yang kembali menyala dalam jiwa orang di hadapannya. Setelah tahu akan apa yang mesti dilakukan, Panca pun meneruskan pekerjaan. Menyusun tumpukan gerabah ke atas pedati yang harus segera selesai.

Kala itu menjadi pagi yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Rencana Raden Bakti untuk mengirim gerabah hasil karya warga desa harus ditambah dengan tugas mencari Pranata dan Pratiwi.

"Ayah, aku ingin ikut ke Batavia mencari Pratiwi." Panca mengajukan diri, raut wajahnya begitu mantap. Tak tampak keraguan.

"Sebaiknya kau di sini saja."

"Aku merasa bersalah pada Pratiwi karena yang memberi dia ide untuk datang ke Batavia." Tangan anak itu menggenggam sejumput jerami yang biasa digunakan untuk pengaman gerabah agar tidak mudah pecah tatkala ada guncangan.

"Kamu tidak usah merasa bersalah. Apa yang kamu lakukan sudah benar."

"Ya, tapi sayang semua tidak sesuai rencana."

Raden Bakti pun hanya tersenyum pada anaknya. Dia tahu jika sang anak sudah bisa diandalkan tetapi dia tidak mau mempertaruhkan nyawa Panca. Urusan mencari Pranata dan Pratiwi bisa mengundang risiko kehilangan nyawa.

"Orang yang akan kita hadapi pasti bukan orang sembarangan. Kita harus berhati-hati."

Sambil berlalu ke dalam rumah, Lurah Bakti menepuk pundak anaknya. Panca sendiri terlihat berat hati dengan penolakan sang ayah. Dia merasa tidak berguna karena tidak bisa berbuat banyak. Ki Lurah bisa menerka isi pikiran anak sulungnya.

Tidak lama kemudian, Raden Bakti keluar rumah sembari membawa perbekalan untuk melakukan perjalanan. Dia tahu perjalanan kali ini tidak akan sebentar, makanya dia membawa bekal cukup banyak.

Raden Bakti menaiki pedati sambil berpamitan pada anak dan istrinya. Kemudian pandangannya tertuju pada seorang perempuan yang duduk di beranda rumah panggung. Dia Nyai Aditama--ibu dari Pratiwi--memandangi Lurah Bakti penuh harap. Namun, lelaki itu tidak bisa banyak menjanjikan apa-apa kecuali sebuah pesan, "berdoalah, semoga anak dan suamimu senantiasa dalam lindungan Gusti Alloh."

Roda pedati pun berputar karena ditarik seekor sapi. Mulai berjalan perlahan, pedati itu menuju jalan desa yang memanjang hingga ke utara. Suara genta di leher si sapi terdengar nyaring berbaur dengan suara hewan ternak yang menagih untuk diberi pakan.

Ketika pedati beratap jerami tersebut sudah mendekati gapura, Raden Bakti pun berteriak, "O ya, Nak. Kau tidak usah menyusul Ayah ke Batavia."

Raden Panca hanya tersenyum, sepertinya Ayah tahu isi hatiku, gumamnya dalam hati.

Panca dan Manusia ApiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang