Urusan seorang walikota selalu saja ada. Begitupun Valentjin, ketika tubuhnya belum benar-benar pulih setelah kebakaran yang menimpa rumahnya, hari ini dia dihadapkan pada pengaduan banyak orang yang kehilangan kapal-kapal mereka.
Selain kapal berukuran besar miliknya sendiri, banyak juga kapal-kapal dan sampan-sampan milik warga Batavia dan pendatang yang ikut terbakar. Kejadian kebakaran tempo hari di Pelabuhan Batavia ternyata menyisakan masalah yang lebih pelik.
Ekonomi kota itu lumpuh, nyaris mati dan entah bagaimana menghidupkannya kembali. Kapal-kapal dari seberang pulau bahkan dari luar negeri dialihkan ke pelabuhan lain. Dan, kota Batavia merugi karena tidak mendapatkan pemasukan dari pajak dan bea.
Siang itu kantor Walikota Batavia didatangi oleh Gubernur Jenderal. Semua staf yang ada di sana kasak-kusuk, mereka menerka jika kedatangan pemimpin pemerintahan negara ada sangkut pautnya dengan peristiwa kebakaran hebat tersebut. Dan, sangkaan para pegawai Balai Kota memang benar adanya.
Tatkala Gubernur Jenderal turun dari kereta kencana, dia langsung berjalan tergesa untuk masuk ke ruang kerja Walikota Valentjin.
"Jadi, Tuan Walikota apa yang bisa kita lakukan?" Gubernur Jenderal bertanya dengan nada tajam.
"Tuan Gubernur, saya yakin bisa mengatasi semua kemelut ini. Asalkan Tuan memberi kami waktu untuk bertindak." Valentjin masih duduk di meja kerjanya.
Gubernur Jenderal menatap halaman Kantor Walikota melalui jendela. Dia berdiri tepat di dekat bingkai kusen yang dipasangi teralis. Angin yang berhembus cukup segar, mungkin pohon-pohon dan bunga yang tumbuh turut serta menyegarkan udara. Halaman Balai Kota terlihat menenangkan. Lelaki Eropa itu enggan untuk duduk walaupun sudah dipersilahkan.
"Tuan Valentjin, lihatlah keluar ... suasana tenang seperti sekarang mungkin tidak akan berlangsung lama. Mereka yang tertib hari ini, mungkin besok atau lusa bisa memberontak."
Walikota Valentjin menanggapi dengan tenang, "semoga hal itu tidak terjadi."
"Tadi, sebelum saya masuk ke sini, di serambi kantor banyak orang yang berkumpul. Kalau boleh tahu, mereka siapa?"
Keterangan dari Walikota cukup bagi Gubernur Jenderal. "Mereka pemilik kapal yang terbakar di Pelabuhan. Sejak kemarin, mereka berdatangan."
Gubernur Jenderal tipe orang yang tidak banyak bicara. Dia selalu memberi kesempatan lawan bicaranya untuk mengeluarkan isi pikiran. Tapi, wibawa yang dimiliki pemimpin Hindia Belanda itu membuat lawan bicaranya "mati kutu".
Valentjin pun beberapa kali membuang muka, enggan untuk menatap langsung wajahnya. Dalam hatinya terus berharap jika orang ini sebaiknya cepat pergi.
Terlebih, pria berkumis itu selalu tampil rapi dengan pakaian kebesarannya. Jas berwarna putih terang lengkap dengan segala lencana kebesaran. Dia senantiasa bangga akan simbol-simbol kebesaran yang dihadiahkan Kerajaan kepadanya. Sebagaimana saat ini, dia senantiasa berdiri tegak seakan ingin memberi tahu kepada lawan bicaranya jika pakaian kebesaran itu memiliki arti penting. Dan, dia ingin dihargai sebagai atasan.
"Tuan Walikota, bagaimana dengan kesehatan Anda?"
Valentjin hanya menjawab singkat, "semakin membaik."
Gubernur Jenderal berjalan mendekati Sang Walikota yang sedang duduk di kursi kerja. Wajah pemimpin Hindia Belanda itu menyiratkan ancaman.
"Tuan Walikota, saya memberi Anda waktu sepekan. Persiapkan apa pun yang perlu dipersiapkan."
"Akan saya usahakan."
Sang Gubernur Jenderal menatap langsung ke mata Valentjin sambil berujar, "Terus terang, ini berat bagi saya. Tapi, Batavia perlu orang yang lebih segar untuk menghadapi kemelut yang melandanya."
"Anda akan mengganti saya?"
Gubernur Jenderal tidak menjawab sepatah kata pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AksiDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
