22

120 34 0
                                        

Selama perjalanan, Pranata bicara banyak tentang dia dan kejadian yang menimpanya. Pranata begitu terbuka pada orang di yang duduk dalam kereta yang sama. Perkenalan mereka baru saja satu malam, tetapi Pranata bisa merasakan ketulusan orang itu.

Anak itu bicara banyak hal kepada orang tersebut. Mulai dari tempat kelahirannya, kawan-kawannya, hingga peristiwa-peristiwa yang pernah menggemparkan Desa Pujasari. Pranata tidaklah enggan menjawab apabila ditanya perihal pribadi.

"Tuan, apakah rumah saya masih jauh?"

"Sudah dekat. Sepertinya sebentar lagi kita sampai." Pria bertopi boater yang dipanggilnya "tuan" menjawab pertanyaan Pranata dengan nada bersahabat.

Anak itu belum pernah pergi sejauh ini. Dia pun tidak tahu jalan antara Batavia dengan Désa Pujasari. "Waktu itu saya dibawa malam-malam, Tuan. Mata saya juga ditutup, tidak tahu jalan." Begitulah alasan kenapa Pranata bertanya seberapa jauh kampung halamannya sendiri.

"Sabar saja, nikmati perjalanan ini. Perhatikan pemandangan di luar."

Pranata menuruti anjuran walaupun dia tidak bisa menyembunyikan isi hati, "saya sudah rindu pada teman-teman saya."

"Ya ... saya paham. Sudah lama kamu tidak bertemu mereka."

Pranata menyampaikan rencana dalam kepalanya, "kalau bertemu mereka, saya ingin bermain petak umpet di dekat surau. Sebelum belajar mengaji, Tuan."

"Kamu yakin? Nanti kalau ada orang menculikmu lagi, bagaimana?"

Pranata terdiam. Kemudian dia menggelengkan kepala. 

Selanjutnya, pandangan anak lelaki itu tertuju kepada langit yang terang. Ada awan putih nan tipis yang menghiasi kanvas biru. Pemandangan pegunungan mulai terlihat setelah sebelumnya Pranata hanya melihat gedung-gedung dan orang-orang yang lalu-lalang.

Kepala anak itu menjulur keluar jendela kereta. Kuda-kuda yang menarik kereta itu berlari dengan langkah tenang.  Udara tidak terlalu panas bila dibandingkan dengan Batavia. Suasana seperti itulah yang tidak dirasakan Pranata beberapa hari belakangan.

"Kamu senang, Pranata?"

"Ya, Tuan. Kemarin-kemarin saya hanya mencium bau busuk." Hidung anak itu terangkat ketika membicarakan perihal bau busuk. Dia membandingkan gudang pelabuhan tempatnya disekap dengan lingkungan di pedesaan yang segar, sungguh jauh berbeda. "Aahhh ...."

Semilir angin menerpa wajah anak itu. Matanya agak terpejam ketika bisa merasakan ketenangan yang cukup lama tidak didapatinya. Dia tersenyum penuh kesenangan. Beban pikirannya mulai berkurang, ketakutan pun menghilang.

Pranata begitu asyik memperhatikan pemandangan di sekitarnya. Burung-burung terlihat beterbangan di antara pepohonan. Kicauan mereka terdengar samar karena kalah oleh suara hentakan kaki dua ekor kuda.

Namun, ada suara kaki kuda lain dari arah yang berlawanan. Suaranya semakin terdengar lebih dekat.

"Masukan kepalamu, ada kuda lewat." Kusir memperingatkan Pranata untuk menarik kepalanya dari luar jendela.

Tuktak ... tuktak ...

Suara hentakan kuda itu semakin mendekat. Melalui jendela, Pranata bisa melihat seseorang dengan pakaian serba hitam serta bertopeng kain hitam menunggang kuda dengan kencangnya.

Siapa dia? Batin anak itu penuh tanya.

Ternyata keheranan Pranata terbaca dari rona wajah yang berubah seketika. "Kenapa, Nak?"

"Tidak apa-apa. Saya hanya ingat kejadian itu ... ketika saya diculik ... penculiknya berpakaian seperti penunggang kuda itu."

Panca dan Manusia ApiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang