50

108 29 0
                                        

Valentjin kembali menyalakan cerutu, untuk kesekian kalinya. Hanya satu mata saja yang bisa digunakan untuk  menatap lukisan Gubernur Jenderal. Kalau boleh memilih, dinding di Balai Kota tidak akan digantungi oleh lukisan orang tersebut. Sayangnya, gambar diri atasan sang walikota memang wajib dipajang. Meskipun, saat ini dia ingin sekali menurunkan lukisan itu.

Berani-beraninya kau mengancamku?

Sikapnya itu diperhatikan para staf yang kebetulan lewat. Valentjin balik menatap bawahannya itu, tidak membutuhkan banyak bicara. Mereka mengerti akan arti tatapan itu. Ternyata, orang dewasa pun bisa ketakutan ketika melihat wajah dibalut perban akibat luka bakar.

Anak kecil pun takut kepadaku.

Terlintas dalam pikiran untuk mendatangi ruangan para pegawai. Dia pun berdiri di bawah bingkai pintu, menatap orang yang ada di dalam ruangan. "Bekerja, bukan bergosip!"

Semua yang mendengar tampaknya paham apa yang dimaksud.

Valentjin pun meneruskan arahannya, "beberapa hari ini, kalian akan bekerja lembur. Keadaan di Batavia sedang krisis. Kebakaran terjadi di mana-mana, entah siapa pelakunya."

Mereka yang mendengarkan mengerti apa yang dimaksud oleh Walikota. Berita itu sudah menjadi tajuk utama di koran. Pasti menjadi perhatian siapa pun yang memiliki kepentingan termasuk pegawai Balai Kota.

"Satu hal lagi, hati-hati. Kemungkinan besar jika musuh sedang melancarkan serangan."

Kalimat yang terdengar oleh pegawai cukup mengubah anggapan selama ini. "Maaf, Tuan. Koran mengabarkan jika ini hanya musibah ...."

"Tidak mungkin, aku yakin jika ini ... dilakukan oleh orang-orang yang ingin menghancurkan kita."

Pegawai Balai Kota yang ada di ruangan komunal tersebut saling lirik. Apalagi pegawai wanita, kepanikan terlihat jelas di wajah mereka. Semua yang ada di sana seluruhnya warga Eropa, kecuali seorang lelaki jongos yang tengah menghidangkan kudapan. Jika sang pemimpin berkata demikian, maka pikiran orang-orang itu akan sama-sama menunjuk pada satu hal.

"Apakah ini pemberontakan orang pribumi, Tuan?"

Valentjin tidak langsung menjawab. Dia menghela nafas. Lelaki itu memilih pegawainya untuk menyimpulkan sendiri. Dia malah berbalik badan dan meninggalkan ruangan.

Valentjin bukan mengkhawatirkan pemberontakan. Dia lebih mengkhawatirkan ancaman dari Gubernur Jenderal. Sudah lama lelaki Eropa itu memimpin kota, akan ada waktunya dia harus meletakkan jabatan. Dan, saat-saat yang dikhawatirkan itu semakin dekat. Dia bisa dipecat.

Pria itu berjalan masuk ke ruang kerjanya. Cahaya matahari yang  menyelusup masuk tidak bisa mengubah suasana hati menjadi lebih tenang. Bimbang.

Valentjin menghampiri jendela, suasana di luar gedung lebih tenang dari sebelumnya. Tidak ada lagi kerumunan orang-orang yang meminta solusi atas masalah mereka.  Tapi, mata lelaki itu menyaksikan pemandangan tidak biasa. Di pinggir jalan, ada seseorang yang memperhatikan keadaan di gedung Balai Kota.

Siapa orang itu? Gerak-geriknya mencurigakan.

Valentjin memanggil seorang ajudannya. Dia pun memberi perintah, "Dari tadi ada orang di atas kuda, di tepi jalan raya. Hampiri dia! Dan, tanyakan apa kepentingannya!"

Si ajudan mengangguk sambil berucap, "baik, Tuan."

"Ingat, jangan diapa-apakan. Dan, ikuti dia sampai rumahnya."

Lagi si lelaki ajudan itu mengangguk, "saya mengerti, Tuan."

Sungguh orang yang mencurigakan, pikir Valentjin.

Sang Walikota semakin sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada kekhawatiran dalam dirinya, tapi kekhawatiran apa, itu yang sulit dipahami.

Keadaan menjadi berbeda dengan hari sebelumnya.

Valentjin kembali menengok ke luar jendela. Dia melihat ajudannya menghampiri seseorang di atas seekor kuda. Orang itu pun pergi dengan melecut kudanya.

Sejak Batavia dilanda kebakaran hebat, dia lebih sering mencurigai banyak orang. Apalagi, dia sendiri menyaksikan bagaimana seorang Syahbandar dibunuh di jalanan oleh orang-orang tidak dikenal. Dalam pikirannya, terlintas alasan akan kekhawatiran yang sedang dirasakannya.

Mungkin sekali, target pembunuhan selanjutnya adalah diriku.

Panca dan Manusia ApiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang