Panca tiba di gapura Desa Pujasari saat petang menjelang. Orang-orang yang dijumpainya menyambut kedatangan remaja itu seakan tamu yang sudah lama tidak berkunjung. Rumah orang tuanya berada di ujung utara kampung. Rumah warga berjejer dari gapura di sisi selatan. Sepanjang itulah tampak warga yang menyambut dengan wajah sumringah. Mereka yang sedang duduk di serambi pun turut berdiri dan menghampiri.
"Raden ... Alhamdulillah kalau Raden baik-baik saja," seorang wanita tua menyambut dengan penuh senyuman.
Begitupula anak-anak kecil yang sedang bermain sore itu. Mereka ramai-ramai mendekati Sadewa dan berlari-lari mengikutinya.
Kuda pun menyusuri lapangan yang terletak persis di depan deretan rumah warga. Jika siang hari digunakan untuk menjemur gerabah, maka sore menjadi arena bermain yang leluasa bagi anak-anak. Tatkala ada warga yang baru tiba dari kota dengan berkuda maka mereka seakan memperoleh mainan baru apabila mulai bosan bermain petak umpet.
Ada apa dengan mereka? Pikiran Panca bertanya-tanya. Sesuatu yang tidak biasa bagi dia jika disambut gembira seperti ini.
"Aha ... kau pulang juga, Raden!" Bajra-- sahabat kecilnya--menyambut dengan gembira. Anak bertubuh gempal itu merentangkan tangan kemudian tertawa lepas.
"Assalamu'alaikum ...," Panca memberi salam dengan suara pelan. Masih heran dengan sikap warga petang itu. Kenapa mereka semua berdiri di serambi rumah? Apakah mereka menantikan kedatanganku sejak tadi?
Semua orang yang berada di beranda rumahnya menyambut. Ayah, Ibu, Paman, Bibi, tetangga dan hampir semua warga Pujasari berkumpul di depan rumah orang tua Panca.
"Syukurlah jika kau masih baik-baik saja." Nyi Lurah merangkul anaknya dengan rona wajah senang.
Darma--sang adik--tentu saja menyambut Sadewa kemudian menuntunnya ke kandang. Anak itu rindu pada si kuda kesayangan.
Anak itu hanya peduli kepada seekor kuda. Panca menggelengkan kepala ketika memperhatikan tabiat adiknya.
Drama penyambutan Panca itu berlangsung singkat saja. Dia langsung masuk ke dalam rumah. Di balik pintu, sudah menunggu sepupunya, Pratiwi.
"Pratiwi ... bagaimana lukamu?"
"Sudah mengering ... setidaknya rasa sakitnya lebih banyak berkurang." Senyuman Pratiwi menyambut Panca.
"O ya, ada salam untukmu, dari A Ling."
Pratiwi tidak terlalu heran ketika Panca telah bertemu A Ling. "Kau sudah bertemu A Ling?"
"Kasihan sekali. Rumahnya kebakaran ... maksudku ... dibakar."
Justru perkara ini yang membuatnya heran, "dibakar?"
"Ya. Dalam semalam di Batavia sudah ada tiga kebakaran."
Pratiwi memiliki perkiraan akan peristiwa yang diceritakan oleh Panca, "Ternyata benar dugaanku ...."
"Nanti aku ceritakan."
"Panca ... kau tidak kenapa-kenapa, kan? Tidak terjadi apa-apa padamu?"
Panca malah balik bertanya, "kenapa kau bertanya begitu?"
Pratiwi melirik ke arah keluarganya yang sedang duduk menunggu Panca untuk makan bersama. "Beritanya ... sudah sampai ke sini."
"Berita apa?"
"Batavia sedang tidak aman. Katanya, terjadi kerusuhan di sana."
"Ya, tapi aku jauh dari tempat kerusuhan itu." Panca pun duduk di lantai beralaskan tikar pandan yang telah terhampar sebelum dia tiba di sana.
"Syukurlah."
Selanjutnya, semua mata tertuju kepada hidangan yang tersaji di lantai.
Dug!
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh di serambi. Panca langsung keluar. Begitupun anggota keluarga yang lain.
Ada sebongkah batu yang dibungkus kain tergeletak di depan pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AzioneDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
