"Nakula ... Nakula ... untungnya kita bertemu di sini," Raden Bakti mengelus-elus leher kuda itu.
Nakula berdiri dengan tenang ketika dihampiri seseorang yang telah lama mengenalnya. Setelah semalaman si kuda mondar-mandir di jalanan Batavia, akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang dikenali dari Desa Pujasari.
"Nakula ... di mana Pratiwi?"
Kuda kecokelatan itu mengibaskan ekornya dan menggoyangkan kepala. Dia mulai berjalan perlahan.
Sepertinya kuda ini akan menuntunku ke suatu tempat, Raden Bakti bergumam sendiri. Wajahnya berbinar karena telah menemukan titik terang. Dalam benaknya, terbayang jika dia akan bertemu seseorang yang akhir-akhir ini tengah dicari.
Pria itu menaiki Nakula kemudian menyusuri jalanan Ibu Kota. Nakula berjalan perlahan. Tubuhnya bergoyang menyiratkan rasa senang.
Sebenarnya, di manakah Pratiwi? Kudanya berkeliaran sendirian.
Beberapa saat Nakula dan Raden Bakti menyusuri jalanan berlapis kerikil nan berdebu yang lengang. Tidak ada kegiatan seperti biasanya. Aktifitas ekonomi terhenti hari itu. Pemandangan langka di jalanan Ibu Kota.
Ternyata bukan hanya aku yang merasakan kekecewaan. Hati Raden Bakti menerka perasaan orang-orang dalam suasana seperti hari itu. Dalam beberapa hari ke depan, sumber pendapatan mereka akan hilang. Dan, tidak tahu kapan akan pulih kembali.
"Kakang! Kakang Bakti!"
Terdengar suara orang berteriak dari kejauhan. Lamunan Raden Bakti buyar ketika terdengar ada yang orang memanggilnya.
"Aditama!"
Ternyata, Raden Bakti kembali bertemu dengan orang yang dikenalinya. Dia terheran karena mendapati adiknya sudah keluar dari penjara. Penampakan sang adik pun ternyata baik-baik saja.
"Bagaimana bisa Kakang menunggangi Nakula?"
"Dia sengaja mencariku di jalan menuju Pelabuhan. Kami bertemu di sana."
"Oh ... kau binatang pintar ...." Raden Aditama mengelus kepala peliharaan anaknya itu. Lelaki itu tertawa renyah.
"Bagaimana kau bisa keluar penjara?"
"Ah, nanti kita bicarakan. Sekarang, aku mau mencari Pratiwi, Kakang juga?"
"Ya, tentu saja ... dan Nakula tahu dimana dia."
Aditama seakan tidak percaya jika seekor kuda tahu keadaan majikannya. "Di mana?"
Kedua orang itu serempak melirik ke arah bangunan di pinggir jalan tempat mereka berdiri. Sepertinya aku kenal tempat ini. Pikir mereka berdua.
Di hadapan mereka berdiri sebuah bangunan khas Cina lengkap dengan ornamen warna merah. Penginapan langganan mereka berdua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AcciónDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
