Panca menunggang kudanya dengan langkah tenang. Sadewa tidak diburu waktu karena majikannya menginginkan jalan-jalan santai di kota itu. Panca masih penasaran, apakah Batavia benar-benar berubah setelah Pelabuhan terbakar hebat.
Setelah menyaksikan kebakaran demi kebakaran, remaja itu mulai mempelajari fenomena tidak biasa yang terjadi pada kota sebesar Batavia. Dalam waktu sebentar saja, dia menemukan beberapa bangunan sisa kebakaran. Ada rumah yang nyaris habis tak tersisa, bahkan sesekali dia menyaksikan deretan pemukiman yang terbakar atapnya karena percikan api dari rumah sebelahnya.
Dan, rumah-rumah itu belum diperbaiki setelah beberapa hari. Apakah masalah biaya, sehingga pemiliknya belum sempat memperbaiki?
Ketika menyaksikan rumah yang pernah terbakar tersebut, dia teringat kejadian semalam. Dalam waktu singkat, dia sudah menyaksikan rumah warga yang dibakar dengan sengaja.
Di usianya yang belum dewasa, Panca bisa belajar dengan modal rasa penasaran yang tinggi betapa kehidupan saling terkait. Setiap elemen dalam masyarakat saling berhubungan. Dan, Pelabuhan sebagai tempat yang vital sangat berpengaruh pada kehidupan Batavia. Ketika objek vital itu lumpuh, maka lumpuh pula kehidupan di sekelilingnya.
Sekian menit dia terus berjalan menyusuri jalanan kota. Hingga dia tiba di kawasan khusus warga Eropa. Panca bisa menyimpulkan dari tipe bangunan yang berbeda dengan rumah warga pribumi apalagi warga Cina. Rumah di kawasan ini tampak lebih luas dan lebih besar. Pekarangan pun tampak luas dengan penataan taman yang cenderung mirip.
"Oh, reruntuhan rumah siapa ini?" dia bicara dengan dirinya sendiri.
Di hadapannya, kini terlihat reruntuhan bangunan bekas kebakaran. Dari materialnya, dia bisa membayangkan jika sebelumnya ini adalah rumah yang besar.
Lagi-lagi rasa penasaran membuatnya terdorong untuk menengok keadaan reruntuhan bangunan ini. Besar kemungkinan ini adalah rumah seorang pejabat. Begitu, pikirnya. Dia memperhatikan bangunan sekitarnya, megah.
Ini komplek pejabat Pemerintah. Raden Panca menduga. Gaya bangunan di sekitar reruntuhan itu menandakan jika ini punya orang Eropa. Arsitektur rumah-rumah yang terlihat memperjelas orang seperti apa pemiliknya.
Tanpa menyadarinya, Panca sudah berada di tengah-tengah reruntuhan rumah itu. Jelaga ada di mana-mana. Hanya temboknya saja yang tersisa. Itu pun terlihat rapuh.
Raden Panca merasakan keheranan ketika melihat sesuatu yang dia kenal di tembok itu. Tembok itu penuh dengan bekas cakaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
ActionDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
