Valentjin masih termenung menatap reruntuhan bangunan rumahnya. Dia masih memikirkan kata-kata Panca, ketika baru saja remaja itu pergi.
"Kau mendengar ucapannya?" Valentjin bertanya pada ajudannya.
"Ucapan yang mana, Tuan?"
"Itu ... ucapan terakhirnya. Aku harus hati-hati pada orang-orang dekat ...."
Sang ajudan menganggukkan kepala. "Ya, saya mendengarnya."
Valentjin mendongak. Menatap seekor burung gereja yang hinggap di bingkai jendela yang tidak utuh lagi. "Bagaimana menurutmu?"
"Saya sependapat dengan anak itu, Tuan." Nada suara sang ajudan terdengar datar.
Valentjin tidak suka dengan cara berbicara orang di dekatnya. Terdengar sekedar membuat atasannya senang saja. Hanya saja, Valentjin sudah terbiasa dengan sikap bawahannya itu. "Ya ... ya ... memang masuk akal. Sebelumnya, aku berpikir jika kemelut di kota ini adalah ulah musuh-musuh Batavia ... tapi ... bisa jadi ini adalah ulah orang-orang Batavia sendiri."
"Namun ... apakah sesuatu yang baik jika kita mencurigai kolega kita sendiri?"
Valentjin tertawa, hanya tawa sinis belaka. Kulit yang masih belum sembuh dari luka bakar menghalangi untuk leluasa membuka mulut. "Hah ... dalam politik apa pun bisa terjadi."
Si Ajudan hanya terdiam. Setuju dengan perkataan tuannya.
"Lihatlah aku sekarang ... nyawaku nyaris melayang ... tentu saja istriku sendiri jadi korban ... dan ... reruntuhan rumahku ini jadi saksinya ... jika ada orang yang menginginkanku lenyap ...."
Valentjin membayangkan kembali peristiwa kebakaran yang terjadi di rumah itu. Api yang berkobar begitu besar kala itu membuat rumah mewah yang dibangun dengan biaya tidak murah berubah menjadi reruntuhan. Lelaki itu pun masih enggan untuk membangun kembali rumah yang pernah dihuni dia bersama anak istrinya. Terlalu banyak kenangan di tempat ini.
Kalimat penghibur kembali terlontar dari mulut si ajudan. "Sekali lagi saya turut perihatin ...."
Memang sudah sering Valentjin mendengar kata-kata penghibur lara seperti demikian. Dia sadar jika kalimat demikian tidak bisa membuat istrinya kembali hidup. Dia pun tahu jika semua itu tidak bisa menyembuhkan luka bakar di tubuhnya. Dia menunduk, meraba dada, leher, kemudian wajah. Luka itu belum sembuh, perban pun masih membalut kulit.
"Tapi, aku harus tunjukan pada mereka kalau aku kuat ... aku tangguh ...."
"Saya setuju ...."
"Kau tahu ...," Valentjin menoleh kepada si ajudan yang masih setia berdiri di tempat yang sama, "sekarang aku berpikir jika harus bisa melawan mereka yang mau menyingkirkanku. Aku harus lebih memusatkan pikiran untuk menyingkirkan orang-orang yang mau menyingkirkanku ...."
Cerutu yang dihisap Valentjin habis sudah. Dijatuhkan sisanya dan diinjak dengan kaki dengan penuh rasa kesal. Dalam pikiran, teringat kembali ancaman Gubernur Jenderal yang akan memecatnya dalam waktu beberapa hari ke depan.
Selanjutnya, walikota Batavia itu memberi perintah, "Sekarang ... terus ikuti anak itu ...!"
Ternyata ajudan itu bekerja pintar. "Sudah saya perintahkan orang untuk terus mengikuti dia."
"Kita harus hati-hati juga pada anak itu. Dia cerdas."
Sang ajudan pun memiliki cara pandang tersendiri, "kita tidak tahu dia ada di pihak siapa."
"Ya ... mungkin sekali dia diberi tugas sebagai mata-mata."
Sang ajudan menggelengkan kepala sambil tersenyum, "Cerdas ... mata-mata seorang anak remaja."
"Kita jadi serba sulit untuk bersikap kasar padanya. Bahkan ... kau tahu ... kata-katanya sungguh bernada adu domba."
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AzioneDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
