Malam semakin larut, Panca merasakan kebimbangan. Harus memilih, apakah pulang ke rumahnya atau berkeliling Batavia malam itu juga untuk mencari tahu siapa pembunuh kedua orang tua A Ling.
Dia berpikir, jika A Ling sudah melakukan sesuatu untuk Pratiwi. Meskipun, A Ling belum pernah mengatakan itu. Dan, Panca pun belum sempat menanyakan hal tersebut.
Setelah dipertimbangkan, Raden Panca memutuskan untuk memulai misi baru yakni mencari tahu siapa pembunuh orang tua A Ling. Apalagi, dia menjadi saksi yang pertama kali melihat kejadian kebakaran di penginapan milik keluarga A Ling.
Untuk beberapa saat, dia merebahkan tubuhnya di pinggir kanal yang membelah Kota Batavia. Di bawah pohon rindang, remaja itu merebahkan tubuhnya. Meskipun kelelahan mendera, matanya sulit tertutup walau barang sekejap.
Ketika matanya memperhatikan bintang di langit, sesekali dia mengalihkan perhatian pada suasana Batavia di kala malam. Cahaya lampu di pemukiman seperti kunang-kunang yang mengeluarkan cahaya di hutan.
"Cahaya apa itu? Kenapa lebih besar dari cahaya lampu di sekitarnya?"
Dari kejauhan, Panca melihat cahaya tidak biasa ... yang semakin besar. Dia mengira, itu pasti bukan cahaya lampu.
"Kebakaran lagi?"
Setelah sadar akan apa yang dilihatnya, Raden Panca melompat ke atas punggung Sadewa. Kuda itu pun berlari kencang setelah dilecut oleh penunggangnya. Kuda itu berlari kencang membelah malam.
***
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di lokasi kebakaran yang dimaksud. Sadewa menghentikan langkah kaki. Kemudian dia mendengus.
Raden Panca terperangah ketika melihat api berkobar dan semakin membesar. Serasa cepat api menyambar barang dan bagian lain dari bangunan itu.
Bermula dari lantai atas, kemudian atapnya. Raden Panca pun kaget ketika api pun membesar dari lantai bawah.
Ada dua sumber api. Sangat mungkin ada tangan jahil yang membakar rumah ini.
Dugaan Panca ternyata benar. Ada seseorang yang keluar dari rumah bertingkat itu. Kemudian ... dia ... berlari ....
"Hei! Tunggu! Siapa kamu?!"
Panca bimbang, apakah harus mengejar orang itu atau menolong orang yang ada di dalam rumah terbakar itu. Ah, dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah terbakar itu. Tapi, api terlalu cepat membesar. Seperti diberi bahan bakar.
Untuk beberapa saat, dia hanya berdiri sambil berteriak meminta tolong. Tidak tahu harus melakukan apa. Jilatan si jago merah semakin ganas.
"Tolong! Kebakaran!"
Awalnya satu, dua kemudian banyak orang yang keluar rumah dan bermaksud menolong. Tapi, warga pun sama seperti Panca. Hanya bisa berdiri menyaksikan kobaran api yang semakin besar.
"Ah, untungnya tidak ada orang di dalam."
"Tidak ada orang?"
"Ya, sudah dua hari rumah makan ini tutup. Pemiliknya pergi entah ke mana."
Batin Raden Panca jadi bertanya-tanya. Dan, dia pun menarik kesimpulan.
Jika tidak ada orang di dalamnya, berarti pembakarnya itu bukan mengincar nyawa seseorang. Tapi, dia sengaja melenyapkan harta pemilik bangunan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
ActionDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
