25

126 37 0
                                        

Api semakin membesar. Angin laut sore itu membuat api mudah membesar. Apalagi, bangunan yang terbakar terbuat dari bahan yang mudah terbakar. Sebagian besar bangunan dibuat dari kayu dan bambu.

"Kebakaran ...! Kebakaran ...!" Panca berteriak memanggil bala bantuan.

Tidak butuh waktu lama untuk mengumpulkan orang membantu memadamkan api. Bangunan yang terbakar berada di kawasan padat penduduk. Rumah-rumah dibangun berderet mengikuti arah jalan raya yang terbentang.

"Kebakaran! Kebakaran!" Ternyata seorang warga yang bertugas sebagai ronda malam itu mengetahui kenyataan tersebut.

Tong, tong, tong!

Ketika suara kentongan ditabuh, orang yang mendengar jelas berhamburan ke jalan raya yang semula tidaklah ramai. Si petugas ronda bukan hanya menabuh kentongan, dia pun mengerahkan massa untuk segera memadamkan api. "Cari ember! Padamkan api di dapur sana!"

Asap mulai membumbung tinggi serta baunya menyeruak ke segala penjuru.

Upaya memadamkan si jago merah bukanlah perkara mudah. Titik lokasi kebakaran agak jauh dari sumber air. Warga mengandalkan kanal sebagai tempat untuk mengangkut air, hanya menggunakan ember. Mereka tidak ingin jika api akan merembet ke bangunan yang berada di sisi kiri dan kanan bangunan yang terbakar. Jika itu terjadi, maka satu kawasan Pecinan bisa berubah menjadi abu.

Di antara kobaran api yang semakin membesar, Panca melihat ada sesuatu yang bergerak. Atau, seseorang?

Anak remaja itu melompat dari kudanya. Wushh, dia berlari ke dalam bangunan yang sedang terbakar hebat. Orang-orang yang menyaksikan terpana akan keberanian anak itu. Sekaligus khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan.

"Mana orang itu?" seorang wanita dengan wajah penuh kekhawatiran bertanya-tanya.

Kekhawatiran wanita itu terjawab sudah. Panca berlari keluar dengan membopong seorang gadis yang sudah pingsan.

"Siapa dia?" ada yang bertanya-tanya identitas orang yang membopong gadis itu.

"Tidak tahu, dia memakai topeng sih ...."

Seketika orang berkerumun menyambut Panca dan gadis yang dibopongnya. Satu sama lain saling pandang, bertanya pula satu sama lain.

"A Ling ...," orang-orang itu mengenal gadis yang pingsan karena menghirup asap pekat.

Kala itu, tidak ada sumber cahaya kecuali api yang membakar bangunan. Biasanya, petugas lampu penerangan jalan akan menyalakan sebelum gelap. Saat ini, lampu pun tidaklah berguna karena api yang berkobar sangat besar dan cahayanya cukup untuk menerangi kawasan Pecinan.

Tampak pula si gadis yang kini tergeletak di tepi jalan raya. Hanya saja, seorang warga mengingatkan Panca akan sesuatu, "bagaimana ibu dan bapanya?"

"Saya tidak menemukannya." Panca kebingungan dengan pertanyaan orang-orang yang ada di sana.

"Mungkin dia masih di dalam?"

"Baiklah. Saya akan kembali masuk." Panca bersiap untuk berlari kembali.

Tetapi ada seorang lelaki berbaju changsan memegang tangan anak remaja itu. "Jangan! Jangan sampai ada korban lagi ...," lelaki di tempat itu menahan Panca.

"Tapi ...?"

"Percayalah, Nak. Kejadian seperti ini sudah sering terjadi di sini. Kau jangan membahayakan dirimu." Warga lain memberikan peringatan.

"Ini bukan kejadian pertama kali, Nak. Jarang ada yang bisa diselamatkan jika kobarannya sebesar ini." Seorang perempuan tua menceritakan sebuah peristiwa yang pernah disaksikannya.

Panca membuka kain yang menutup wajah untuk mengambil udara segar. Walaupun udara segar tidak tersedia.

Panca hanya bisa diam berdiri, menatap kobaran api yang semakin besar.

Panca dan Manusia ApiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang