Laki-laki mabuk itu mendekati pohon. Dan ... ah, tercium bau tidak sedap.
"Hei, turun dari pohon! Kau pikir dirimu burung hantu. Bertengger di pohon."
Pranata hanya terdiam. Ketakutan.
"Hei, kau bicara dengan siapa?" sekonyong-konyong datang tiga pria berbaju serba hitam.
"Ah ... hanya anak kecil," si laki-laki mabuk hanya menjawab sekenanya kemudian berlalu.
"Anak kecil?" ketiga pria itu bertanya serentak.
Sontak mereka bertiga mendongak ke atas pohon. Sayang, mereka tidak membawa lentera sebagai alat penerangan.
"Sudah kuduga."
Di atas pohon, Pranata ketakutan. Kali ini persembunyiannya sudah diketahui. Tidak ada cara lagi untuk menyelematkan diri selain ... berlari.
"Ahhh ...."
Pranata melompat dari pohon. Tiga pria itu kaget dengan keberanian anak kecil itu. Dan, tidak sempat menangkap.
"Ahhh ... kemana dia?" Malam yang gelap menyulitkan pandangan. Letak lampu penerangan jalan agak jauh dari pohon. Keadaan begitu menyulitkan bagi siapa pun untuk melihat rupa sebenarnya dari pohon rindang.
Si pemabuk tidak paham betul apa yang tengah terjadi. Orang-orang ini bermaksud menangkap anak kecil di atas pohon, begitulah pikirnya.
Hanya berjarak beberapa detik saja antara Pranata dan para pengejarnya. Anak bertubuh tambun itu kembali berlari sekencang yang dia sanggup. Dia tidak menengok lagi ke belakang. Tujuan berlari hanya ingin selamat dari cengkeraman orang-orang yang pernah menyekapnya.
Begitupun dengan ketiga pria itu, mereka bermaksud untuk berlari kencang. Tapi, entah kenapa sering ada saja hambatan.
Lelaki pemabuk itu malah menghalangi jalan. Tubuhnya terhuyung ke kiri dan ke kanan.
"Ahhh ... kau menghalangiku saja!"
"Hei ... kau jangan berani-berani membentakku!" si Lelaki Mabuk naik pitam.
Tangan kiri pemabuk itu melayangkan pukulan ke arah pria yang membentaknya. Dan ... buuuk ... tinjunya mendarat di pipi lawannya.
Sontak, teman pria itu tersinggung dengan kelakuan si pemabuk. Mereka menghunus golok yang terselip di pinggang. Hyyyuuungg ... golok itu hampir saja mendarat di leher si Lelaki Pemabuk.
Namun pemabuk itu mengelak, lebih tepatnya terhuyung ke arah sebaliknya. Dia selamat.
Kaki kanan pemabuk itu menerjang pria yang bermaksud menebas lehernya. Buuukkk! Kakinya masuk ke ulu hati. Pyuuunnggg ... dia terjungkal hingga ke tengah jalan.
"Tunggu sebentar ... sebaiknya kita jangan ladeni dia ...."
"Hei, kau pengecut ya. Dia sudah mempermalukan teman kita!" Salah seorang pengejar tidak terima dirinya dipermalukan oleh orang yang mabuk. Dia lebih mengutamakan harga diri serta lupa akan tugas utamanya.
"Aku tahu ... tapi ... tugas kita menangkap anak itu."
"O ya, kemana anak itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
ActionDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
