Syahbandar datang dengan tergesa pagi itu. Ini bukan jam kerjanya. Apalagi, sejak Pelabuhan ditutup maka dia tidak diperkenankan masuk kerja dan menyentuh apapun di tempat itu.
Tapi, pagi ini dia mendapat kabar jika Walikota Valentjin menerobos barikade tentara yang menjaga pintu masuk Pelabuhan. Dan, bersama dengan kedatangan Walikota Valentjin ditemukan juga tiga mayat bergelimpangan di reruntuhan gudang.
Ketika melihat kedatangan Syahbandar, para petugas jaga mempersilakan masuk penanggung jawab Pelabuhan itu. Dia terheran-heran ketika diperbolehkan masuk, padahal sehari sebelumnya dia tidak diperkenankan menginjakan kaki di tempat itu.
Ada apa lagi?
Batin pria itu dipenuhi tanda tanya. Dari atas punggung kuda, dia memusatkan pandangan pada kerumunan pria-pria berseragam biru dongker.
Laut yang tenang tidak bisa membuatnya tenang. Padahal, situasi yang tenang di Pelabuhan Batavia pagi itu adalah kejadian langka. Karena, hari-hari sebelumnya Syahbandar menyambut banyak kapal dari berbagai benua. Kali ini, dia yang disambut.
Dan, sambutan pun didapatkannya ketika kudanya mulai mendekat. Namun, bukan sambutan hangat sebagaimana sering ditampilkan para pekerja Pelabuhan di pagi hari.
Kali ini, sambutan ketus dari para serdadu yang berdiri mengelilingi sesuatu yang tergeletak di atas tumpukan sisa kebakaran tempo hari. Dia sudah bisa menebak apa yang dikerumuni pria-pria bersenjata itu.
"Selamat pagi, Tuan!"
Kepala Polisi menyambut Syahbandar. Suara khas orang itu akan terdengar tegas andaikan tidak ada cerutu di mulut. Benda itu membuat suaranya tidak terdengar jelas. Dan, Sang Syahbandar merasakan sebuah pembukaan pembicaraan yang terkesan menekan. Dia tahu karakter pria yang menyambutnya itu.
"Selamat pagi!" sembari turun dari kudanya Syahbandar tersenyum pada semua orang yang melihatnya dengan mata penuh curiga.
"Maaf, bila saya harus mengganggu waktu istirahat Anda." Kepala Polisi memulai pembicaraan dengan basa-basi.
"Ya, tidak apa-apa. Saya paham situasinya."
"Terima kasih sudah bisa mengerti."
"Saya dengar ada Walikota datang, ke mana beliau?" Lelaki berdarah Eropa itu menanyakan orang yang dikabarkan ada di sana.
"Beliau baru saja pergi. Setelah menemukan ini ...."
Kepala Polisi menunjukan mayat-mayat yang bergelimpangan di depannya. Mengerikan. Kondisinya seperti dicabik-cabik binatang buas.
"Anda mengenal mereka?"
"Ya, tentu saja. Mereka anak buah saya. Sehari-hari mereka menjaga gudang."
"Kemarin, mereka tidak ada di sini. Mungkin, kejadiannya tadi malam. Walikota yang pertama kali menemukannya."
"Sungguh menyedihkan. Mereka orang-orang yang setia pada saya." Syahbandar menggelengkan kepala. Dia memalingkan wajah ketika melihat rupa jenazah yang menyedihkan. Dia pun menutup hidung karena tidak kuat menahan bau amis yang tercium.
Kepala polisi bertanya dengan nada seakan curiga, "termasuk ... setia menjaga rahasia?"
"Maksud Anda, rahasia apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
ActionDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
