28

123 32 0
                                        

Api mulai meredup seiring dengan habisnya bahan bangunan yang terbakar. Untungnya, warga sudah berjaga menjaga bangunan sekitarnya sehingga tidak terimbas kebakaran hebat di Penginapan milik keluarga A Ling.

Gadis itu hanya duduk termangu ketika menyaksikan harta keluarga hilang dalam waktu sekejap.

Bukan hanya bangunan penginapan itu beserta isinya yang raib, tetapi ayah dan ibunya ikut menjadi korban.
Nyawa mereka tidak tertolong. Dan, tidak ada yang berani menolong. Warga sekitar kewalahan. Begitupun  Panca berkali-kali meminta maaf pada A Ling karena ketidakberdayaannya.

"Maafkan saya Nona, saya tidak bisa menyelamatkan orang tua kamu."

"Kenapa harus meminta maaf. Kau tidak salah apa pun dan pada siapa pun." A Ling berkata dengan nada datar.

"Saya benar-benar merasa tidak berguna ...." Panca menggelengkan sekaligus memukuli kepala sendiri.

"Hapus itu dari pikiranmu."

A Ling mengarahkan tatapan dari api yang mulai jinak. Masih berkobar, walaupun tidak besar sebagaimana sebelumnya. Ujung si jago merah yang menjilat udara membuat hatinya semakin remuk. Samar-samar, bau daging terbakar menusuk hidung. Gadis itu tahu dari mana sumber bau tersebut.

Demi mengalihkan isi pikiran, A Ling pun membuka lagi pembicaraan dengan Panca. "Maaf, melihat wajahmu ... aku teringat seseorang?" A Ling menatap wajah anak lelaki itu. Cahaya dari kobaran api menerpa wajah Panca dan memperjelas bagaimana lekuk wajahnya.

"Maksudmu?"

"Tadi pagi aku kedatangan tamu yang wajahnya mirip denganmu." A Ling mengalihkan pandangan kepada orang-orang yang masih sibuk memadamkan api.

"Mirip denganku?"

"Ya, mereka sekeluarga. Anak bersama ayah dan pamannya."

"Boleh tahu siapa namanya?" Panca bertanya karena penasaran.

"Ah, aku tidak bisa bicara banyak pada orang yang baru aku kenal."

Panca menarik tubuhnya, merasa kecewa karena jawaban dari A Ling. "Ya, maaf ... tapi ini penting bagiku. Aku mencari seseorang hingga datang ke sini."

"Mencari seseorang?"

"Ya ... maaf ... perkenalkan ... namaku Panca."

"Aku A Ling." Senyuman tersungging dari bibirnya, setelah sekian menit dia tidak memamerkan senyuman.

"Saudara perempuanku sudah beberapa hari menghilang ...."

"Pratiwi?"

"Kau mengenalnya?"

"Tadi siang dia sudah pulang bersama pamannya. Raden Bakti." Gadis itu menghela nafas.

"Ya ... itu Ayahku. Pratiwi saudara sepupuku."

"Jadi ... kau mencari orang yang sebenarnya sudah pulang. Sebaiknya kau pulang ke rumahmu. Kedatanganmu ke sini hanya sia-sia saja." Tangan kanan A Ling menyentuh kerikil di jalan tempat keduanya duduk.

"Ya, sebaiknya begitu. Tapi, bagaimana kau bisa mengenal Pratiwi?"

"Ceritanya panjang ... kau bisa tanyakan pada dia."

Kedua remaja itu kembali menatap kobaran api di bangunan itu. Kini keduanya hanya menunggu hingga api benar-benar padam sehingga bisa tahu apa yang telah terjadi selanjutnya. Warga mulai berani untuk mendekati dan berusaha memadamkan api dari jarak lebih dekat. Walaupun dengan cara seadanya.

Air mata gadis bermata sipit itu sudah reda. Keringat yang membasahi tubuh anak lelaki itu pun kering. Meskipun duka belumlah pergi. Saat seperti itu ternyata tidaklah berlangsung lama. Ada lagi sesuatu yang membuat keduanya bertanya-tanya.

"A Ling."

Wajah A Ling dan Panca spontan mengarah pada seseorang yang tiba-tiba datang. Suaranya terdengar dari arah belakang, tidak dikenal.

"Ya, Tuan."

Orang yang baru datang ternyata tidak pintar basa-basi. "Aku datang ke sini untuk mengantarkan ini."

Seorang pria dengan stelan kemeja putih dan bertopi cokelat berdiri tepat di dekat A Ling. Dia merogoh tas Selempang berbahan kulit kemudian mengeluarkan sesuatu. Dia menyerahkan sepucuk surat padahal hari masih gelap dan orang yang dituju sedang dirundung musibah.

Surat dari Bank, surat apa ya?
Batin A Ling bertanya-tanya.

Panca dan Manusia ApiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang