6

202 48 0
                                        

Sophia merasakan cemas yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Dia sulit mengerti apa yang sedang dirasakannya.

Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi padaku ... atau ayahku?

Dari atas tempat tidurnya, dia hanya memperhatikan langit-langit kamar. Sulit memejamkan mata. Sesekali dilihatnya anak-anak lain yang sudah terlelap, hanya dia yang belum tidur.

Aku harus pura-pura tidur agar Ibu Panti tidak memarahiku, pikir Sophia.

Tapi, perkiraan Sophia salah. Seseorang sedang memperhatikannya. Dari balik pintu yang berkaca sedang berdiri seorang wanita paruh baya tanpa mengeluarkan suara.

Kiiittt...

Terdengar suara pintu dibuka. Sophia terkaget. Dia cepat-cepat menutupi wajahnya dengan selimut dan pura-pura tidur.

"Sophia ...," wanita itu berbisik setelah mendekati tempat tidur Sophia.

"Hehehe ... Ibu Panti ...." Sophia pun tersipu malu.

"Kenapa kamu belum tidur, Nak?"

"Entahlah, Bu." Sophia menggelengkan kepala.

"Memangnya kamu sedang memikirkan apa?" Ibu Panti mendekat kemudian duduk di atas ranjang.

"Tidak apa-apa, Bu."

"Mungkin kamu belum berdo'a."

"Sudah kok, Bu." Sophia mengerutkan dahi. Wajahnya memberi isyarat jika dia tidak berbohong.

Tangan kiri Ibu Panti memegang tangan kanan Sophia kemudian bertanya, "kamu rindu seseorang?"

Gadis itu menganggukkan kepala.

"Ibumu?"

Sophia tidak menjawab. Dia malah meneteskan air mata. Menangis.

"Sayang ... Ibu tahu ini berat buat kamu. Tapi, Ibu yakin kamu adalah gadis yang kuat. Dan ... bisa melewati semua ini."

Wanita itu mengelus kepala Sophia. Dia tersenyum. Kemudian, mencium keningnya.

"Selamat malam, Sayang."

Ibu Panti beranjak meninggalkan kamar. Setelah menutup pintu, sekali lagi dia melihat ke arah Sophia. Kasihan sekali gadis itu, katanya dalam hati.

Kamar itu kembali sepi. Cahaya lilin di dinding mengisyaratkan betapa luas ukuran kamar anak-anak khusus perempuan tersebut. Sophia menoleh ke sisi kiri kemudian ke sisi kanan, dia hanya melihat saudari sesama anak asuh yang sudah terlelap.

Sebaliknya, sudah beberapa saat sejak kedatangan Ibu Panti, Sophia masih sulit memejamkan matanya. Perasaan itu belum lenyap. Bercampur antara rindu pada seseorang dan mengkhawatirkan seseorang.

Di dinding kamar, jam sudah menunjukan angka 11. Seharusnya dia tidur dua jam yang lalu. Tapi, pikirannya seperti berkata, Sophia ... jangan tidur dulu.

Ternyata, pikirannya tidaklah salah.

Krriikk ...

Sophia terkaget dengan suara menderik dari arah jendela.

Krriikk ...

Suara itu terdengar lagi.

Sophia merasakan ketakutan. Tapi, entah kenapa setengah tersadar dia malah menyibakkan selimut dan beranjak untuk mendekati jendela. Ada apa di balik jendela itu?

Sophia menyibak tirai secara perlahan.

"Aaa ...."

Sophia hampir berteriak. Dia kaget dengan sosok di balik jendela.

"Sssstt ... jangan berteriak," sosok itu meletakan telunjuk di bibirnya.

Panca dan Manusia ApiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang