Walikota Valentjin masuk ke ruang tunggu Bank Batavia. Teriakannya mengagetkan para pengunjung dan pegawai yang sedang bertugas melayani nasabah.
"Tuan ... Tuan, tenanglah. Ada yang bisa kami bantu?" seorang pria menyambut Valentjin.
Valentjin memelototi orang yang semula menyambutnya. Dia pun bertanya walaupun bukan membutuhkan jawaban, "Mana Direktur? Mana pimpinanmu?"
"Direktur ada di ruangannya ...."
"Aku ingin bicara dengannya!"
Amarah Valentjin memuncak. Sayangnya, orang-orang yang kebetulan hadir di sana tidak bisa melihat rona wajah sang walikota. Perban menutupi nyaris seluruh bagian muka kecuali mata dan mulutnya. Meskipun orang di depannya tidak bisa melihat dengan jelas seluruh wajahnya, orang di dalam ruangan itu bisa merasakan kemarahan Valentjin.
"Ada apa Tuan Walikota, ada yang bisa saya bantu?" orang yang dicari Valentjin datang. Seorang lelaki kaukasian berpakaian rapih. Kemeja serta dasi menjadi pembeda antara dia dengan warga yang menyesaki ruang tunggu.
"Tuan Direktur, kenapa Anda menagihku ketika musibah sedang menimpaku?"
"Maksud Tuan?"
"Hei ... Anda tahu kan ... semua orang di Batavia tahu ... jika ekonomi kota ini sedang terpuruk ...."
"Ya, kita tahu situasi itu ... kebakaran di pelabuhan membuat ekonomi Batavia sedikit terganggu ...." Direktur Bank tetap tenang, satu tangannya masih berada di belakang punggung sedangkan tangan satunya mengepal di depan dada.
"Kalau kau tahu, kenapa Anda memberi saya tagihan ... tagihan yang lebih mirip ancaman ...."
Kini, sang direktur mengangkat telapak tangannya. "Tuan ... ini hanya kesalahpahaman."
Di ruangan itu tidak hanya Valentjin yang tersinggung dengan surat dari Bank Batavia. Tapi, ada dua nasabah lain yang mempunyai masalah yang sama. Seorang gadis dan sepasang suami-istri.
"Saya juga begitu, Tuan!" seorang gadis tiba-tiba menyela pembicaraan dengan tensi tinggi.
"Apa? Hei sebaiknya Anda diam saja, Nona ...!" Direktur Bank memarahi gadis meskipun tetap bernada datar.
"Hei, biarkan dia bicara." Valentjin seakan mempunyai dukungan. Suara sang walikota menggema, lantai marmer dan dinding yang lebar nan tinggi membantu untuk mengundang perhatian khalayak.
"Nama saya A Ling. Saya datang ke sini karena ada tagihan dari bank. Dan, tagihan itu datang tepat ketika penginapan kami sedang mengalami kebakaran."
"Saya juga, Tuan," sepasang suami istri yang sedari tadi hanya diam saja kini mulai bersuara.
Sang Direktur seperti diserang dari berbagai sisi.
"Itu hanya kebetulan."
"Tidak mungkin! Suratnya pun datang ketika api yang membakar penginapan kami belum padam!" A Ling memberi penjelasan. Bola matanya begitu tegas menatap sang direktur.
"Saya juga. Suratnya datang ketika kebakaran masih sedang berkobar di rumah makan yang kami tinggalkan." Pasangan suami istri itu pun menambahkan.
Direktur tidak bisa mengelak. Dia hanya diam.
"Hei Direktur ... mereka adalah bukti nyata jika Anda memanfaatkan keadaan. Ketika nasabahmu sedang kesusahan Anda sengaja menagih utang-utangnya ... tapi untuk apa? Untuk menguasai jiwanya?"
"Ya betul! Ini seperti kesengajaan!" A Ling memperjelas situasi.
"Dengar, gadis seumur dia saja bisa mengerti apa yang sedang terjadi. Nasibku lebih nahas lagi ... kapal dagangku habis terbakar di Pelabuhan ... belum sampai tiga malam ... lalu bank menagih utang-utangku ...."
"Sungguh tidak berprikemanusiaan." A Ling menggelengkan kepala.
"Kami harus membayar dengan apa? Harta kami habis." Valentjin memberikan pertanyaan sekaligus mempertegas penolakannya.
Sekali lagi, Direktur Bank tidak bisa menjawab. Dia hanya diam dengan wajah memerah. Kulitnya yang putih berubah menjadi kemerahan karena emosi yang tidak karuan.
Direktur Bank berusaha menenangkan keadaan. "Tuan, nyonya ... ini salah paham. Maaf, mungkin ini hanya masalah cara kami yang tidak tepat. Tapi, yakinlah. Kami hanya menawarkan solusi."
Valentjin mempertanyakan maksud dari lawan bicara, "solusi apa?"
"Kami akan memberi Anda semua pinjaman baru. Ya, tambahan."
A Ling seakan tidak setuju dengan pernyataan sang direktur, "bagaimana dengan bunganya?"
"Justru itu yang harus sama-sama dipahami. Bunga yang harus dibayar memang lebih besar dari sebelumnya."
"Berapa persen?"
"Euuu ... 20 % ...."
"Apa? Tinggi sekali! Kau bermaksud memeras kami!?" A Ling naik pitam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
AkcjaDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
