"Sampai jumpa, A Ling."
"Kapan-kapan kau boleh berkunjung padaku."
"Oh, terdengar seperti sebuah undangan yang harus ditunaikan." Panca bicara sambil tersenyum. Anak lelaki itu sudah duduk di pelana, tangannya mengelus leher si Sadéwa.
"He ... baguslah kalau mengerti." A Ling tersenyum manis pada Raden Panca. "Ya, sudah. Sepertinya kudamu ingin segera pergi. Dia tidak menyukaiku lama-lama berbincang denganmu."
Panca hanya tersenyum menanggapi anggapan dari A Ling. Dia malah kebingungan ketika ingat jika gadis itu sudah tidak punya rumah lagi. "Tapi ... ke mana aku harus berkunjung. Rumahmu ...?"
"Panti Asuhan Tionghoa. Akhirnya, aku kembali ke rumah tempatku berasal."
Panca mengangguk tanda mengerti akan situasi yang tengah dihadapi. Anak itu pun akhirnya memang harus benar-benar pergi, meskipun dengan berat hati. Sadewa melangkahkan keempat kakinya dengan pelan, penunggangnya pun melambaikan tangan.
"Panca!" A Ling berteriak tatkala hewan tunggangan itu sudah tiba di persimpangan jalan, "Sampaikan salamku pada Pratiwi."
"Iya!"
Kemudian, kuda itu pun berlari lebih kencang.
"Huss ...."
Suara kaki kuda terdengar lebih keras. Hewan tunggangan itu berlari melintasi jalanan yang tidak terlalu ramai. Batavia lebih lengang dari hari biasanya. Panca merasakan hal yang tidak biasa dari kota ini. Kawasan pusat perdagangan di kota itu kini hanya menjadi sederet bangunan-bangunan tidak bertuan. Masih banyak toko yang tutup.
Ternyata begini jadinya jika kota ini dilanda bencana kebakaran besar.
Terdorong rasa penasaran, Panca pun melecut kota untuk mengelilingi kota. Dia ingin tahu bagaimana keadaan seantero kota. Apakah keadaannya sama dengan kawasan Pecinan? Remaja itu berbelok arah setelah sebelumnya berencana berkuda ke arah selatan. Dia pun mengelilingi kota. Mencari tahu, apakah suasana sepi ini sama di setiap penjuru kota?
Oh, tidak. Tidak semua bagian dari kota ini sepi. Ada sebuah bangunan yang dikunjungi banyak orang.
Sadewa pun mengurangi laju. Kini dia berjalan pelan, penunggangya memerhatikan kerumunan yang sedang terjadi. Banyak orang dengan bermacam-macam pakaian. Ada yang bergaya Eropa, Bugis, Cina dan Jawa. Panca mendekat, mencuri dengar.
"Tuan Walikota, bagaimana dengan nasib kami?" salah seorang diantara mereka berteriak.
"Tenang. Kita selesaikan masalah yang kita hadapi dengan kepala dingin." Orang yang dipanggil sebagai "walikota" bicara keras namun tampak tenang.
"Tuan Walikota, uang kami habis. Bank pun tidak sanggup memberikan pinjaman." Warga yang semula bicara kencang, kini terdengar mengeluhkan keadaan diri. Terbaca nada kekesalan dari cara orang itu berbicara.
"Dengar ... tadi saya berkunjung ke Bank Batavia. Mereka menawarkan pinjaman cepat."
Orang-orang yang berkerumun itu saling tatap. Mereka berbicara satu sama lain dengan riuh. Terdengar seperti suara lebah yang mendengung. Mereka mengangguk-anggukkan kepala.
"Tuan Walikota, saya mendapatkan surat penawaran pinjaman dari Bank Batavia. Tapi, tidak saya gubris. Ah, itu Bank kecil. Sedangkan kebutuhan saya besar sekali. Kapal milik saya terbakar." Seorang pria berkulit putih menjelaskan. Sebenarnya lelaki Eropa baja saja bicara dalam bahasa Belanda, entah alasan apa yang membuatnya bicara bahasa Melayu kepada sang Walikota.
"Hei Tuan, apakah Anda sudah mencoba mengajukan
pinjaman?"
Pria itu menggelengkan kepala.
"Baiklah. Dengar. Anda sekalian datang ke Bank Batavia. Saya beri Anda semua surat pengantar dari kantor Walikota. Ajukan pinjaman, saya yang menjamin." Walikota mengangkat tangannya sambil bicara lantang.
Semua orang yang hadir saling tatap. Mereka menganggukkan kepala. Wajah mereka yang menampakkan kemarahan, sekarang mulai menampakan rona kegembiraan.
Tidak lama kemudian, satu per satu kerumunan itu membubarkan diri. Mereka mulai masuk ke dalam kantor Walikota untuk membuat surat pengantar yang dijanjikan Walikota.
Panca pun kembali menjauh dari halaman Balai Kota. Dia termenung. Pikirannya mulai dihinggapi pertanyaan.
Kenapa hanya Bank Batavia yang menjadi rujukan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Panca dan Manusia Api
ActionDarr ... Suara ledakan mengagetkan para pekerja pelabuhan sore itu. Syahbandar berlari ke arah ledakan, wajahnya menampakan kekagetan luar biasa. Bluurr ... Api menjalar ke setiap bagian kapal yang menjadi sumber suara ledakan. Semua orang yang be...
